Mohon tunggu...
Salma UswatunKhasanah
Salma UswatunKhasanah Mohon Tunggu... CARLOVERS

MAHASISWA

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Bias Gender terhadap Pelaku Pelecehan Seksual di Media Sosial

9 April 2021   12:01 Diperbarui: 9 April 2021   12:36 29 0 0 Mohon Tunggu...

Masyarakat indonesia memiliki pandangan yang sangat sempit tentang pelecehan dan kekerasan seksual terhadap laki-laki. Laporan tindakan pelecehan seksual terhadap perempuan mendapatkan sorotan dan dukungan yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Hal tersebut diakibatkan respon negatif masyarakat sehingga membungkam kekuatan korban untuk berbicara di hadapan publik. Kendati menjadi korban, alih-alih mendapatkan dukungan masyarakat  kerap melontarkan komentar dan tuduhan yang merugikan tentang bagaimana seharusnya korban berusaha membela diri atau penampilan korban saat kejadian terjadi.

Selain menjdi korban pelecehan seksual, perempuan juga bisa menjadi pelaku pelecehan seksual baik kepada laki-laki maupun sebaliknya. Perempuan juga berpotensi menjadi pelaku pelecehan seksual yang kerap luput dari pandangan masyarakat. Di media sosial misalnya, banyak ditemukan komentar-komentar perempuan kepada idola mereka atau seseorang yang menarik baginya dengan nada menjurus kepada seksualitas. Media sosial memungkinkan seseorang untuk mengirim pesan atau komentar, gambar tidak senonoh, ujaran kebencian bahkan ajakan seksualitas kepada orang lain. Disinilah terjadinya bias gender yang luput dilihat oleh masyarakat dan kemudian menjadi sesuatu yang dinilai wajar atau biasa saja.

Pandangan masyarakat yang sempit umumnya dipengaruhi berbagai faktor salah satunya adalah adanya pandangan yang mengakar kuat mengenai jenis kelamin beserta gender yang mengiringinya. Masyarakat memiliki keyakinan kuat bahwa laki-laki selalu didefinisikan dekat  maskulinitas . Di dalam permasalahan yang menyangkut korban laki-laki, masyarakat mempertanyakan maskulinitas mereka. Beberapa kriteria “maskulinitas laki-laki” yang ideal di masyarakat adalah kekuatan fisik, berkuasa, hingga memiliki kontrol terhadap hal-hal di sekitarnya. Masyarakat mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti “kok kamu tidak bisa melawan, kamu kan laki-laki?” Atau “kenapa kamu tidak kabur saat itu terjadi?” Padahal korban bisa saja tidak berdaya akibat trauma yang ada. Korban juga mulai mempertanyakan orientasi seks mereka ketika mendapatkan pelecehan seksual dari jenis kelamin yang sama. Mereka mulai mempertanyakan iidentitas personal dan orientasi seks mereka. Tidak hanya oleh korban, pemikiran tersebut juga dialami oleh masyarakat dan ada saja yang melontarkan pertanyaan tersebut tanpa memikirkan perasaan korban.

Kasus pelecehan di media sosial terhadap laki-laki yang sempat heboh adalah kasus pelecehan di media sosial yang dimiliki pangeran dari negeri arab saudi, yaitu pangeran mateen. Pemilik akun sosial media instagram @tmski ini mendapatkan ribuan komentar dari banyak perempuan. Diantaranya? Mengandung nada seksualitas. Disadur dari media sosial instagram pergerakan melawan pemikiran patriarki di indonesia yaitu @lawanpatriaki, terdapat postingan screenshoot kolom komentar di instagram pangeran mateen.

Alih-alih mendapatkan kecaman justru banyak perempuan yang ikut berbondong-bondong berkomentar dengan nada serupa. Berbeda sekali apabila perempuan yang mengalami hal tersebut, contohnya salah satu pemberitaan kasus pelecehan seksual terhadap perempuan yang masih hangat dibicarakan adalah kasus mantan personel jkt48, hasyakyla utami baru saja mengalami pelecehan seksual di media sosial. Kyla mengatakan pelecehan yang dialami bermula saat dia melakukan siaran langsung instagram bersama akun temannya. Cewek 18 tahun itu tidak menyangka bahwa akun milik temannya ternyata tengah diretas alias hacker oleh oknum tidak bertanggung jawab. Oknum tersebut bahkan memperlihatkan alat kelaminnya saat melakukan siaran langsung di instagram. Kendati pada kasus ini kyla mendapatkan pelecehan berupa gambar dan pornoaksi bukan sekedar komentar bernada seksual perbedaan perlakuan masyarakat sangatlah terlihat jelas.

Namun kenyataannya, sedikit sekali jumlah lsm atau organisasi yang mengkhususkan diri dalam menangani kasus kekerasan atau pelecehan seksual terhadap laki-laki. Padahal, laki-laki juga merasakan efek emosional maupun psikologi yang sama seperti perempuan setelah mengalami kekerasan maupun pelecehan seksual. Efek-efek serius yang dirasakan seperti depresi, keinginan dan usaha untuk bunuh diri, berkurangnya rasa percaya pada orang lain, hingga perasaan malu dan bersalah. Sangat sulit untuk menghilangkan perasaan-perasaan negatif atas kejadian yang bahkan tidak mereka harapkan untuk terjadi.

VIDEO PILIHAN