Mohon tunggu...
Salim Rahmatullah
Salim Rahmatullah Mohon Tunggu... Scholarship Hunter

Scholarship Hunter I Soc-Environment Campaigner I HIMMAH NW I Blogger I Traveller and so on.

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Dua Hari di Madura: Merasakan Sensasi Sate, Kopi, Goyangan Perahu, hingga Oksigen Segar Gili Iyang

23 September 2019   09:00 Diperbarui: 23 September 2019   09:10 69 0 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dua Hari di Madura: Merasakan Sensasi Sate, Kopi, Goyangan Perahu, hingga Oksigen Segar Gili Iyang
Beberapa hasil jepretan foto selama berkeliling Madura/dokpri

Kopi Madura dengan gelintiran-gelintiran kecil hitam, Sate Madura hidangan ibu rumah tangga, goyangan perahu selat dungkek, oksigen segar Gili Iyang dan beberapa titik destinasi di dalamnya, itulah sekelumit suguhan menarik sisi timur Madura, dari perjalananku menjabat erat seorang kawan. 

Seminggu yang lalu agenda mengunjungi kawan di Madura sana teragendakan. Berawal dari kedatangan Kembali Dosen  Kece, panggilan kesayangan kami---Uncle  Rahman, salah satu dosen di kampus ternama Jakarta---ke Pare. 

Tempat dimana aku dan kawan-kawan menjalin relasi, sesama pembelajar bahasa Inggris dan pemimpi kuliah di luar negeri.   Relasi yang terjalin singkat namun mengikat, membuat kami tetap akrab. Uncle Rahman, dengan kemampuan ulung menyetir Mobil ini, menginisiasi perjalanan ke tanah Madura, yang terkenal dengan sate maduranya.

Bismillahi majreha wa mursaha, kami pun berangkat dari Pare. Menempuh jarak  yang tak singkat, melewati persawahan warga Jawa Timur, kebun tebu,  jalan kota-kota kecil,  lalu masuk jalan tol cepat menuju Surabaya.  Kemudian, melewati jembatan Suramadu yang menyampaikan kami ke Pulau Madura. 

Benar ternyata, memang perjalanan ini tidak singkat, setelah sekitar 6 jam lamanya, kami pun sampai di Pamekasan, salah satu kabupaten di Madura, dimana  rumah kawan berada.

Tak perlu banyak tanya, hanya bermodalkan google maps, kami sampai di sebuah desa. kiri-kanan jalan nampak persawahan petani yang kering, khas dengan kolam yang diairi oleh selang-selang kecil. 

Tanaman yang nampak di tanam adalah tembakau. Pemandangan kering ini sontak melayangkanku ke Lombok bagian selatan yang juga penghasil tembakau. Ya, inilah Madura, daerah yang termasuk penghasil tembakau terbaik.

Sesampai di Rumah Muhlis, kami disambut dengan kopi hitam khas Madura. Kopi hitam ini menarik, awalnya aku bingung karena banyak gelintiran-gelintiran kecil hitam di dalamnya. Usut diusut, Tuan Rumah pun bercerita, kalau di Madura kopi itu tidak digiling dengan mesin, tetapi ditumbuk. 

Gelintiran-gelintiran kecil itulah sisa-sisa tumbukan kopi yang tidak melebur. Menurut ceritanya, awalnya pernah digiling dengan mesin, tapi tidak terlalu disukai oleh bapak-bapak di Madura, mereka lebih senang ditumbuk, dan gelintiran kopi itu enak juga digigit. Jadi, menikmati kopi lokal Madura, selain menghirup anda juga bisa menggigit gelintiran kecil hitam. Hehehhe.

Sruttttt.....sruuuppp.... sruput demi sruput kopi hitam, menyelangi bincang-bincang kami seputar banyak hal. Tentang skor toefl yang tidak naik-naik, listening dan reading IELTS yang bikin ill feel , rencana-rencana beasiswa dan kuliah S2 dan S3, hingga topik receh seputar mencari pasangan, yang paling ditunggu, membincang destinasi-destinasi wisata di Madura yang akan kami kunjungi; dan tak terasa matahari pun menurun, mengantarkan menuju gerbang magrib. Bincang-bincang itu kami tutup dengan sebaik-sebaik komunikasi, komunikasi Hamba dengan Tuhannya, shalat.

Usai shalat, bukan bantal empuk atau pun selimut yang terambil guna melepas kelelahan kami, tetapi hidangan keluarga bro Muhlis, tak kuat untuk ditinggalkan. Kami pun jatuh dalam keasyikan menyantap makan malam, sembari mendengar rencana perjalanan setelah makan. Tidak lain, Api abadi yang berada di daerah Pamekasan menjadi destinasi yang dikunci.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN