Mohon tunggu...
Herry Sadewo
Herry Sadewo Mohon Tunggu... -

Melalui tulisan, kutuangkan rasa dan fikiran.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Terdampar di Al Hamra

23 Maret 2012   16:57 Diperbarui: 25 Juni 2015   07:34 93
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mancing. Kedengarannya kok biasa ya. Mungkin karena ini hal yang biasa dilakukan oleh hampir sebagian besar orang, baik yang memang profesinya sebagai pemancing, hobi atau sekedar pengisi waktu luang diantara kesibukan aktifitas harian; apalagi di Indonesia yang merupakan negara maritim, mancing bukan merupakan sesuatu yang aneh. Ditambah lagi saat ini, hampir bisa dikatakan sangat tidak sulit untuk mendapatkan tempat-tempat khusus untuk menyalurkan kegiatan memancing ini; dengan segala tambahan fasilitas tentunya, seperti rumah makan, live music bahkan taman untuk keluarga.

Tapi mancing yang aku lakukan disini terasa berbeda; selain jauh dari negeri maritim Indonesia, aku justru menyalurkan hasrat untuk memancing ini justru di negeri yang dikenal dengan negeri gurun pasir. Sebagai negeri gurun pasir, sudah barang tentu kehidupan harianku selalu disuguhi oleh pemandangan yang tidak jauh dari pasir, pasir dan pasir. Sehingga pada saat menemukan pantai atau laut, wuih rasanya seperti menemukan sesuatu yang hilang. Selain itu, mungkin karena tidak ada banyak pilihan untuk bermain di pantai/laut disini, sehingga meskipun aku dan warga disini harus menikmati pemandangan yang itu-itu saja, tetap rasanya tidak mengurangi rasa nikmatnya bermain di pantai ataupun laut.

Kembali ke masalah mancing. Satu hal yang membuat mancing disini terasa berbeda dengan suasana mancing di negeri sendiri Indonesia adalah ketatnya aturan yang mengatur satu urusan yang mungkin dianggap sepele ini. Mulai dari aturan yang mengharuskan para angler untuk memiliki fishing license (surat ijin memancing), daerah yang boleh dan tidak boleh untuk mancing, SIM untuk boat bagi yang ingin mancing di tengah laut dengan boat, sampai dengan ukuran ikan yang boleh diambil. Untuk masalah ukuran ikan ini, sebagai contoh pemerintah United Arab Emirates menerapkan aturan yang melarang angler untuk tujuan usaha mengambil ikan Hamour (Grouper Fish) dengan ukuran dibawah 45 cm. Bahkan sidak (inspeksi mendadak) pun dilakukan hampir di semua lokasi penjualan ikan di negeri ini untuk menindak tegas para pelanggar aturan. Tapi ini bagus menurutku, selain untuk tetap menjaga kelestarian siklus tumbuh kembang ikan khususnya Hamour, juga untuk menghindari para nelayan dan angler untuk mengeruk ikan dengan cara-cara yang ilegal; seperti dengan pukat harimau misalnya.

Perjalananku untuk mendapatkan fishing license sebenarnya tidak terlalu sulit. Namun justru tantangan alam yang aku alami saat pembuatan fishing license inilah yang membuat kartu kecil ini sangat berarti bagiku. Jarak kantor untuk membuat license ini kurang lebih 95 km dari tempatku tinggal, sehingga praktis jarak yang harus aku tempuh hampir 200 km pulang dan pergi. Biasanya jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit sekali jalan, namun karena badai akhirnya harus rela menempuh perjalanan satu jam lebih. Sebenarnya ada kantor yang lebih dekat; kurang lebih sekitar 45 – 50 km, namun sayang seribu sayang mereka tidak melayani pembuatan license ini.

Berbekal semangat 45, aku berangkat dari rumahku di Ruwais menuju ke Mirfa. Cuaca buruk yang aku hadapi hampir saja mengurungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan. Angin kencang atau yang mungkin hampir bisa disebut sebagai badai dan debu serta pasir yang beterbangan menurunkan jarak pandangku. Bahkan di beberapa tempat yang berjarak setengah perjalanan, pemandangan sangat gelap; sehingga memaksaku untuk mengurangi kecepatan dan agak sedikit menepi. Namun aku tidak bisa mengambil pilihan untu berbalik arah; selain tempat untuk memutar yang jauh, hal inipun akan sangat berbahaya bagiku karena aku tidak bisa melihat kendaraan lain yang datang dari arah yang berlawanan. Sehingga tidak ada pilihan lain bagiku selain maju terus meneruskan perjalanan. Beruntung bagiku, badai pasir terjadi tidak di semua tempat yang aku lalui. Untuk dataran yang lebih tinggi, pandangan jauh lebih jelas dibandingkan yang terjadi di dataran rendah.

Kamis, 22 Maret 2012, hari yang kami sepakati untuk melaut bersama dengan tujuan pantai utara United Arab Emirates. Perairan yang berbatasan dengan negara Iran di sebelah utara ini terkenal dengan ikan Hamour-nya. Ikan yang gurih dan mahal harganya ini banyak bertebaran di sepanjang teluk Persia; yang selalu menjadi incaran para angler dan seakan menjadi kebanggaan tersendiri pada saat mendapatkannya. Ikan yang lebih sering hidup bersembunyi diantara karang ini benar-benar menjadi salah satu candu atau apalah namanya bagi para angler disini; jika sudah mendapatkan satu, maka terasa semangat bertambah untuk mendapatkan yang berikutnya. Delapan orang termasuk kapten boat siap melaut. Kami berdelapan berasal dari negara yang berbeda namun punya selera yang sama; mancing. Aku dan ketiga temanku dari Indonesia, dua yang lain dari Malaysia, satu orang penduduk asli UAE dan kapten boat dari Filipina.

Setelah mengisi penuh bahan bakar, petualangan pun dimulai. Lokasi mancing pertama adalah sekitar barat laut Jabal Dhana. Disini banyak ikan namun sebagian besar berukuran kecil, sementara perlengkapan yang kami siapkan adalah untuk ikan yang besar. GPS (global positioning system) yang terdapat di boat pun menunjukkan keberadaan ikan-ikan tersebut, namun sayang hanya beberapa ikan yang kami dapatkan disini. Merasa kurang puas dengan hasil tangkapan, akhirnya kami memutuskan untuk pindah tempat; saran berikutnya adalah Al Hamra. Berbekal petunjuk GPS dan kondisi alam seperti keberadaan burung belibis yang terbang rendah, akhirnya kami menghentikan perahu di dekat Suweihat Island; yang berjarak kurang lebih 30 km dari tempat mancing yang pertama. Disinilah masalah itu berawal.

13325215341428770571
13325215341428770571
Jarum jam ditanganku menunjukkan pukul 11:05 siang. Dengan semangat kami semua mengambil perlengkapan mancing lalu mengambil posisi masing-masing. Tak lama berselang semua kail sudah turun mencari mangsa. Karena posisi kami agak mendekat ke pulau, maka ombak pun sedikit lebih besar dibandingkan pada saat ditengah laut sebelumnya, meskipun tidak sebesar di tepi pantai. Salah seorang kawan kailnya tersangkut karang dan diikuti dengan dua kawan lainnya. Melihat kondisi ini kami pun mencoba membantu, termasuk kapten boat yang memang sedari awal pun ikut berpartisipasi ikut kegiatan mancing ini. Disaat aku sedang sibuk menarik salah satu kail yang tersangkut karang, tiba-tiba aku menyadari bahwa disekeliling boat semuanya berwarna kuning. Serta merta aku berteriak, “awas karang”. Sontak semuanya berpaling kepadaku dan melihat ke sekeliling. Terlambat, kami sudah terjebak diantara karang yang dangkal.

Serentak kami turun dan berupaya untuk mengeluarkan boat ke daerah yang sedikit lebih dalam. Karena daerah tempat boat terjebak kedalamanya kurang dari satu meter, maka praktis bagian bawah boat menempel ke karang atau bebatuan yang menyebabkan sulit untuk digerakkan. Berbagai upaya kami lakukan, berpacu dengan waktu. Air laut yang terus menyurut menit demi menit membuat usaha kami untuk mengeluarkan boat seakan sia-sia; dan akhirnya boat yang kami tumpangi benar-benar terdampar karena air yang semakin surut. Bebatuan dan karang yang sebelumnya tidak terasa keberadaannya, seakan-akan bermunculan satu demi satu bersama dengan surutnya air laut.

Sekitar pukul 16:00, perlahan air laut mulai datang kembali memenuhi harapan dan doa kami untuk segera keluar ke laut bebas. Perlahan namun pasti air laut mulai menutupi bebatuan karang yang sempat berjemur menikmati teriknya matahari beberapa saat lalu. Di saat air laut mulai meninggi, dengan semangat kami mulai kembali usaha untuk mengeluarkan boat yang terjebak. Akhirnya, setelah hampir dua jam berusaha keras, boat pun bisa lolos dari jeratan karang yang membuat kami harus merasakan rekreasi dan mandi matahari di tempat terpencil beberapa jam lamanya.

Rasa bahagia karena bebas kembali ke laut lepas belum sepenuhnya dirasakan manakala GPS yang terdapat di boat yang kami tumpangi tidak menunjukkan arah/koordinat yang tepat menuju ke jalan pulang. Suasana sekeliling yang semakin gelap membuat upaya untuk mencari jalan keluar agak mengalami kesulitan. Rasa khawatir akan kembali terjebak diantara karang masih menyelimuti hampir di semua hati para pemancing yang sudah tampak kelelahan. Boat sempat berputar-putar untuk mendapatkan koordinat yang tepat. Akhirnya, perlahan namun pasti kami meninggalkan daerah berkarang menuju ke arah pulang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun