Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://www.youtube.com/c/WahyuniSusilowatiPro

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

JK Rowling dan Emansipasi Perempuan Transgender

7 Juli 2020   10:31 Diperbarui: 7 Juli 2020   10:40 228
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
JK Rowling dihujat para pelaku/pendukung transgender karena cuitannya dinilai transfobik (doc. screenrant.com, freepik/ed.Wahyuni)

Sejak Juni lalu media internasional ramai memberitakan bahwa penulis novel serial best seller dunia 'Harry Potter', JK Rowling, dimusuhi dan ditinggalkan oleh dua situs besar penggemarnya yang selama bertahun-tahun telah mendukung kiprah penulisannya dengan merilis berbagai hal seputar karya-karya maupun dinamika kehidupan pribadinya yang dinilai inspiratif. Kenapa?

Bermula dari sebuah cuitan di Twitter (19/12/2019) yang berisikan dukungan terhadap para pekerja perempuan yang dipecat karena alasan gender dan retorika yang ditulis Rowling di akhir cuitannya 'But force women out of their jobs for stating that sex is real? (Tapi memecat perempuan karena menyatakan bahwa jenis kelamin itu (harus) sesuai dengan kenyataan (biologis, apakah bisa dibenarkan?) rupanya membuat gerah para pelaku/pendukung transgender.

Setelah banjir hujatan dan boikot menerjang, Rowling pun menulis sebuah esai 3800 kata yang dipublikasikan di situs pribadinya dimana Rowling membeberkan bahwa dia adalah penyintas kekerasan seksual. 

Sebagaimana diketahui publik, diberitakan pula oleh Entertainment Weekly (10/6), mantan suami pertamanya pada tahun 2000 silam memaparkan pada London Daily Express tentang bagaimana dia mengusir Rowling dari apartemen mereka dengan menyeret sang penulis keluar dari apartemen, dan terlibat dalam "perkelahian sengit" di mana ia 'menamparnya (Rowling) sangat keras di jalan.'

Itu cerita usang, kini Rowling sudah berbahagia dengan suami kedua yang menurutnya merupakan sosok 'pria yang benar-benar baik dan berprinsip' sehingga dirinya merasa sangat aman dengan cara tak terduga, yang semula dianggapnya takkan pernah muncul meski dia menanti selama sejuta tahun.

Toh kebahagiaan dan rasa aman itu, tulis Rowling, '... bekas luka yang ditinggalkan oleh kekerasan (secara umum) dan kekerasan seksual tidak (bisa sepenuhnya) hilang, tidak peduli seberapa besar dirimu dicintai dan seberapa banyak uang yang kamu hasilkan ...'

Sayangnya curhatan Rowling yang mungkin sebenarnya diharapkan penulis tersebut mampu menginspirasi khususnya bagi kaum perempuan, yang pernah atau tengah mengalami kekerasan seksual oleh pasangan lawan jenisnya, entah kenapa dipandang oleh kalangan transgender maupun kelompok-kelompok pendukungnya sebagai agitasi terhadap mereka.

Gara-garanya kemungkinan besar adalah alinea esai yang berbunyi, ' ... saya sudah membaca semua argumen tentang feminitas yang tidak berada dalam tubuh berjenis kelamin perempuan dan pernyataan bahwa perempuan biologis tidak memiliki pengalaman yang sama (dengan perempuan transgender), saya menemukan bahwa argumen-argumen tersebut sangat misoginis (anti perempuan) dan regresif ... Perempuan biologis (diberitahu bahwa mereka) harus menerima dan mengakui bahwa tidak ada perbedaan antara perempuan trans dan diri mereka sendiri ... Tetapi, seperti yang dikatakan oleh banyak perempuan sebelum saya, 'perempuan' bukanlah kostum (yang bisa begitu saja dipakai atau dilepaskan)'.

Ketidaksetujuan Rowling untuk serta-merta menyamakan posisi perempuan biologis dan perempuan transgender inilah yang membuat kalangan transgender beserta para pendukungnya kebakaran jenggot lalu ramai-ramai menjalankan aksi boikot pada novelis tangguh nan dermawan itu.

Padahal, suka atau tidak, perempuan yang sudah terlahir sebagai perempuan dan perempuan yang merupakan peralihan dari gender lelaki yang yakin seribu persen bahwa dirinya adalah perempuan faktanya adalah dua makhluk yang sangat berbeda.

Gampangnya kita lihat saja dunia olahraga internasional dari tingkat regional sampai internasional, selalu ada pengklasifikasian berdasarkan gender untuk semua cabang olahraga yang dipertandingkan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun