Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kisah Remaja Sukarelawan Pemilu Kanada

5 September 2019   05:24 Diperbarui: 5 September 2019   05:24 0 1 0 Mohon Tunggu...
Kisah Remaja Sukarelawan Pemilu Kanada
Sukarelawan remaja tengah membuat papan kampanye di kantor seorang kandidat (doc.CBC.ca/ed.Wahyuni)

Belum bisa memberikan suara pada pemilihan umum (Pemilu) federal Kanada yang dijadwalkan berlangsung pada 21 Oktober 2019 mendatang karena masih di bawah umur,  bukan berarti cukup puas duduk manis tenggelam dalam gawai di tangan. Sejumlah remaja Kanada mendatangi kantor-kantor politikus setempat untuk membantu tim sukses para kandidat yang mereka percayai (CBC, 2 September 2019).

Aidan Morton-Ninomiya, Garrett Breathwaite, dan Lynda Hansen berkumpul di kantor wilayah Kitchener Centre Green milik kandidat Mike Morrice minggu lalu. Mereka tengah menyiapkan papan-papan kampanye di tengah orang-orang yang sibuk bekerja dengan komputer atau melakukan percakapan lewat telpon.

Saat teman-teman sebaya mereka sibuk menghabiskan libur musim panas ini dengan kerja paruh waktu atau bersenang-senang di pantai , ketiga remaja tersebut melakukan kerja sukarela untuk kampanye Mike. Aidan, Garrett, dan Lynda  bekerja di kantor dan melakukan riset, mengetuk pintu demi pintu untuk menjelaskan pada orang-orang tentang isu-isu yang diusung oleh kandidat mereka.

"Ini pengalaman politik pertama saya."Tutur Aidan,"Keluar langsung untuk mempelajarinya, (rasanya) berbeda dengan mendengarkan politik dalam pelajaran kelas di sekolah."

Sementara Garrett yang awalnya menjadi sukarelawan untuk memenuhi kredit nilai sekolah, lambat laun merasakan bahwa apa yang dilakukannya cukup penting,"Saya menyadari ada begitu banyak masalah yang terjadi di lingkungan kita dan jadi ingin bilang (pada orang-orang) 'Hei, ini masalah besar, lho'.."

Teman mereka, Lynda, sebelum memutuskan menjadi sukarelawan menyempatkan diri melakukan riset untuk mencari partai mana yang mengusung isu-isu penting baginya.

"Saya pikir, ada banyak permasalahan yang terjadi dalam pemerintahan dan negara kita, juga di dunia."Papar Lynda,"Itulah kenapa saya melakukan kerja sukarela ini, karena saya tidak bisa memberikan suara. Tapi saya pikir, orang lain seharusnya memberikan suara untuk hal-hal yang mereka percayai."

Di Waterloo ada Aiden Fox-Ivey (16) yang menjalani musim panasnya berkampanye dari pintu ke pintu untuk kandidat Partai Liberal yang saat ini masih menjabat anggota parlemen, yaitu Bardish Chagger.

Berdiri di kantor kampanye yang baru dicat merah terang, Aiden menyatakan bahwa isu-isu seputar lingkungan, hak-hak kaum perempuan, dan terkait pelaksanaan Pemilu merupakan prioritas utamanya; sekalipun dia tidak akan memberikan suara kali ini.

"Meski saya tidak bisa memberikan pengaruh secara personal dalam pemberian suara, tapi saya bisa keluar dan merepresentasikan hal-hal yang saya percayai. Saya pikir itu cara terbaik yang bisa saya sumbangkan pada demokrasi kita."Papar Aiden.

Agak berbeda dengan Allyson Hildebrandt (20), mahasiswi Universitas of Waterloo, yang tahun ini mendapat kesempatan pertama untuk memberikan suara. Namun dia tetap terjun ke lapangan mengorganisir mahasiswa-mahasiswi lain untuk membantu perjuangan para kandidat Partai Konservatif di Waterloo dan Kitchener Centre ,khususnya Alan keeso dari Kitchener-South-Hespeler.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2