Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Darurat Pemanasan Global Jelang 2020

25 Juli 2019   08:41 Diperbarui: 25 Juli 2019   08:54 0 0 0 Mohon Tunggu...

Setahun lalu para ilmuwan dari berbagai negara yang tergabung dalam Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melaporkan bahwa untuk menekan kenaikan suhu global agar berada di bawah ambang 1,5 derajat Celcius, perlu dilakukan pengurangan emisi karbondioksida sebanyak 45 persen pada tahun 2030 mendatang (BBC News, 23 Juli 2019).

Suhu rata-rata Bumi memang naik 1,5 derajat Celcius sepanjang abad 20, lantas kenapa kita harus mencemaskannya? Meski angka kenaikannya terlihat kecil, namun hal itu merupakan sebuah fenomena yang tidak lazim terjadi sepanjang sejarah awal planet ini.

Data iklim Bumi yang tersimpan rapi dalam lingkaran-lingkaran usia di irisan lintang batang pohon  (tree rings), sampel inti es yang diambil dari gletser di berbagai pegunungan tinggi (ice cores), dan terumbu karang (coral reefs) memperlihatkan bahwa suhu rata-rata global selalu stabil alias tidak pernah menunjukkan fluktuasi selama kurun waktu yang sangat panjang.

Itu berarti bahwa perubahan-perubahan sekecil apapun pada suhu Bumi mengisyaratkan telah terjadinya perubahan lingkungan hidup secara besar-besaran. Gletser yang terus menyusut, lapisan es di sungai dan gunung lebih cepat retak, habitat flora dan fauna mengalami pergeseran, serta pepohonan yang berbunga lebih cepat adalah sebagian kecil contoh perubahan tersebut. Berikutnya kenaikan permukaan laut yang lebih cepat dan berlangsung lama serta gelombang panas yang kuat.

Awal tahun ini sebuah studi tentang kerugian yang dirasakan di seluruh dunia sebagai dampak dari meluasnya campur tangan manusia telah memicu kehebohan besar di kalangan pemerintahan banyak negara. Sebuah laporan menyebutkan kemungkinan sejuta spesies akan lenyap dari muka Bumi pada beberapa dekade mendatang.

Penetapan tahun 2020 sebagai batas akhir untuk melakukan tindakan nyata merespon perubahan iklim global dilontarkan oleh Hans Joachim Schellnhuber, pendiri dan sekarang menjadi direktur emeritus Postdam Climate Institute,  pada tahun 2017,"Ancaman perubahan iklim sudah sangat nyata dan bila langkah-langkah penyelamatan Bumi tidak segera dilakukan pada selambatnya tahun 2020, maka dikuatirkan kerusakannya akan menjadi sangat fatal."

Kekhawatiran di atas ditegaskan kembali oleh Pangeran Charles dalam sebuah kesempatan menjamu para menteri luar negeri Negara-negara Persemakmuran baru-baru ini,"
"Saya dengan jelas melihat bahwa 18 bulan ke depan akan menjadi penentu seberapa mampu kita menjaga perubahan agar Bumi dapat bertahan dan mengembalikan alam pada keseimbangan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup kita."

Dia menaruh harapan pada serangkaian pertemuan menentukan yang akan digelar Perserikatan Bangsa-bangsa tahun ini sampai akhir 2020 mendatang. Sejak kesepakatan iklim global ditandatangani di Paris pada bulan Desember 2015, perdebatan seputar aturan teknis pelaksanaannya masih terus berlangsung. Namun sesuai kesepakatan yang telah ditetapkan, negara-negara penandatangan pakta tersebut telah berjanji untuk meningkatkan upaya pengurangan emisi karbon di wilayah masing-masing pada akhir tahun depan.