Mohon tunggu...
syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat Seni dan Perjalanan

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Politik

Lima Aksi Teror Bom Surabaya Mengirim Pesan "Mengamuk"

15 Mei 2018   20:00 Diperbarui: 15 Mei 2018   20:20 633
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Tiap aksi teror, sekecil apapun, sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan sikap irasional yang no mercy. Namun, lima aksi teror bom dalam periode waktu sekitar 26 jam di Surabaya pada 13 dan 14 Mei 2018, mungkin tak berlebihan jika dipahami sebagai rangkaian aksi yang terkesan mengamuk. Apa yang membuatnya mengamuk? No body knows.

Dari lima aksi teror di satu kota itu, mungkin yang paling menarik perhatian pihak adalah bom di Mapolrestabes Surabaya, karena videonya sempat viral di Medsos sekitar satu jam paska kejadian, merekam detik-detik serangan bom oleh pengendara dua motor di Mapolrestabes Surabaya pada Senin, 14 Mei 2018, pukul 20.50 WIB. 

Tak ayal, video rekaman realtime itu memiliki pesan teror yang jauh lebih dahsyat dibanding bom kembar tiga pada Minggu, 13 Mei 2018 yang diketahui oleh publik luas melalui video real time yang tidak sejelas dengan videa bom Mapolrestabes Surabaya.

Akibatnya, video ledakan Mapolrestabes Surabaya bukan hanya memicu kekhawatiran publik, tapi juga memicu tindakan pengamanan maksimal di hampir semua pintu gerbang di kantor-kantor dan pos-pos aparat keamanan, terutama kepolisian, mulai dari tingkat Polsek hingga Mabes.

Entah kebetulan atau merupakan konsekuensi logisnya, beberapa jam kemudian beredar viral beberapa video, yang memperlihatkan "perlakuan khusus" terhadap pengendara motor (roda dua) ketika mendekati atau memasuki gerbang, palang besi dinaik-turunkan dengan menggunakan tali panjang yang ditarik-ulur dari jarak jauh.

Ada juga video yang memperlihatkan seorang lelaki bersarung, berbaju koko dan berpeci, membawa rangsel di pundaknya, lalu terlihat sebuah kardus yang terletak di sampingnya. 

Lalu ada tiga polisi masing-masing bersenjata laras panjang, memerintahkan lelaki itu untuk membuka paksa rangselnya dan kardusnya, yang ternyata isinya adalah buku-buku dan pakaian, mungkin lelaki usia belasan tahun itu adalah santri yang pulang dari sebuah pondok dan mau liburan ke rumahnya menjelang puasa.

Lalu muncul video yang memperlihatkan seorang pengendara motor diperintahkan dengan pengeras suara untuk menghentikan dan memarkir motornya sebelum palang (portal gerbang), pengendara diminta turun dari motornya, membuka jaketnya, dan berjalan menuju pos pengamanan untuk pengecekan lebih lanjut melintasi portal. Motornya dibiarkan terparkir sekitar 10 meter dari palang/portal.

Perlakuan khusus itu dapat dipahami sebagai langkah antisipasi yang bertujuan memaksimalkan kewaspadaan: menghindari terjadinya kasus yang serupa dengan bom Mapolrestabes Surabaya. Tapi bagi sebagian orang mungkin akan ditafsirkan sebagai perlakuan yang mengirim pesan ketakutan.

Dengan kata lain, nyaris tak berpengaruh signifikan himbauan ratusan meme agar para Netizen tak gampang ikut-ikutan menyebar via Medos postingan video-video atau foto-foto aksi atau korbannya dan kerusakannya.

Saya jadi teringat kasus Irak. Sekitar tiga bulan paska berdirinya ISIS (Islamic State in Iraq and Sham) di Mosul Irak pada 10 Juni 2014, saya kebetulan berada di Baghdad pada September 2014. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun