Mohon tunggu...
Aryandi Putra
Aryandi Putra Mohon Tunggu...

seorang mahasiswa semester 6 (mau semester 7) Ilmu Komputer Unila yang sedang mencari tahu tentang arti hidup sebenarnya... terlahir dengan nama Aryandi Putra, 20 tahun silam... Punya nickname keren (halah...) di dunia maya yaitu ryandz hunter. Dapet nama itu dulu waktu tergila2 maen game online.. kebawa sampe sekarang...

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Man Jadda wa Jadda, Satu Bukti Bahwa Tidak Ada yang Tidak Mungkin

14 April 2012   15:49 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:36 0 0 0 Mohon Tunggu...
Man Jadda wa Jadda, Satu Bukti Bahwa Tidak Ada yang Tidak Mungkin
13344112271373718134

Man Jadda wa Jadda

Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.

Sebuah pepatah bahasa Arab yang tentunya sudah sering kita dengar khan? Di tahun 2012, pepatah tersebut menjadi identik dengan sebuah film berjudul Negeri 5 Menara. Alhamdulillah,akhirnya setelah Laskar Pelangi, dunia perfilman Indonesia kembali memunculkan sebuah film yang sarat dengan pesan moral. Sebuah film yang tidak hanya sebagai tontonan atau hib

uran, tetapi ada hikmah yang bisa kita petih dari menonton film ini. Negeri 5 Menara menceritakan tentang tekad dan keinginan yang kuat untuk meraih cita-cita walaupun mungkin cita-cita tersebut sangat sulit untuk diwujudkan. Diangkat dari nov

el berjudul sama karya A Fuadi, Negeri 5 Menara menceritakan tentang Sohibul Menara, sekumpulan anak-anak dengan cita-cita masing-masing untuk menuju 5 “Menara” tujuan hidup mereka. Sepintas sangat mirip dengan Laskar Pelangi, sama-sama menceritakan tentang persahabatan yang erat dibalik semua perbedaaan yang ada dan menceritakan tentang perjuangan anak-anak dari keluarag dengan ekonomi yang bisa dibilang kurang mampu untuk menggapai cita-cita mereka

Cerita Negeri 5 Menara dimulai dengan seorang karakter anak laki-laki yang bernama Alif (Gazza Zubizareta). Ia mempunyai seorang teman bernama Randai (Sakurta Ginting). Keduanya memiliki tekad untuk dapat melanjutkan sekolah di Bukittinggi dalam rangka mewujudkan mimpi mereka untuk dapat kuliah di Institut Teknologi Bandung. Mmmm, sama dengan kisah saya, dulu juga pengen masuk ITB. Sayangnya ga lulus tes… T_T. Namun mimpi tersebut harus kandas karena orang tua Alif (David Chalik dan Lulu Tobing) menginginkan agar Alif bisa masuk pesantren di Ponorogo, Jawa Timur. Alhasil, Alif terpaksa mengikuti keinginan orang tuanya dan melupakan mimpinya.

Di pesantren yang bernama Madani, Alif harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Mulanya, Alif tidak betah engan suasana pesantren tersebut, namun semua berubah ketika ia bertemu dengan sahabat-sahabat baru yaitu Baso (Billy Sandy) yang berasal dari Gowa, Atang (Rizki Ramdani) yang berasal dari Bandung, Raja (Jiofani Lubis) yang berasal dari Medan, Said (Ernest Samudera) yang berasal dari Surabaya serta Dulmadjid (Aris Putra) yang berasal dari Madura. Mereka kemudian menamakan diri sebagai Sohibul Menara, dimana setiap orang bertekad untuk mewujudkan tujuannya masing-masing yang disimbolkan sebagai menara mereka. Seperti Alif yang ingin kuliah di ITB.

Satu hal yang saya apresiasi dari film ini adalah detilnya yang sangat baik. Setting Sumatra Barat jaman plus dengan suasana khas penduduknya pada masa itu. Perjalanan di Bus menuju Jakarta, sampai suasana di Pesantren Madani. Cukup bisa menginterpretasikan apa yang tertulis di novelnya.

Tentu bukan hal yang untuk mengadopsi sebuah novel untuk dijadikan film. Merupakan sebuah tantangan sendiri bagi sutradara ketika harus mem-visualisasi-kan sebuah karya sastra. Selain itu keterbatasan durasi juga menjadi satu hal yang harus dicermati, sehingga tak jarang ada beberapa bagian dari novel yang harus dihilangkan pada filmnya. Tak jarang pula cerita di film berbeda dengan novelnya. Salah satu bagian yang menurut saya cukup sayang bila tidak ditampilkan adalah saat raja dan Baso membuat kamus Inggris-Indonesia-Arab. Padahal bagian itu adalah salah satu scene yang saya tunggu.

Namun yang cukup fatal adalah film ini terlalu banyak membahas bagian Man Jadda wa Jadda sehingga melupakan kalau film ini berjudul Negeri 5 Menara. Endingnya terlalu cepat, tiba-tiba ke-enam sahabat ini di Tragalfar Square London. Diceritakan bahwa mereka telah berhasil menuju “menara”-nya masing-masing. Tanpa diceritakan bagaimana mereka bisa sampai di sana. Sepertinya sutradara terlalu asyik dengan bahasan Man Jadda wa Jadda, sehingga tidak menyari kalau durasi film sudah hampir mendekati limit. Yah memang inilah resiko ketika novel setebal 422 halaman hanya diterjemahkan dalam 120 menit film. Tentu tidak se-epic saat kita menonton LoTR. Mungkin jika Salman Aristo, penulis skenarionya berusaha membuat versi yang berbeda dan hanya membahas bagian Man Jadda wa Jadda, sekalian saja dibuat judulnya Man Jadda wa Jadda. Tentunya hal ini tidak terlalu membuat penonton yang sudah terlebih dahulu membaca novelnya tidak terlalu kecewa, karena mereka mengetahui kalau film ini adalah visualisasi dari bagian Man Jadda wa Jadda pada novel N5M. Saya rasa itu bisa menjadi keputusan yang bijak. Seperti di film Resident Evil, sutradaranya mengambil cerita yang berbeda dari versi game-nya, dengan tokoh yang berbeda. Sebuah trik yangcukup cerdas untuk menghindari kekecewaan penggemar fanatik game Resident Evil. Begitu halnya dengan film Silent Hill, juga berbeda jalan cerita dengan gamenya. Bahkan tidak seperti RE yang masih melibatkan tokoh utama di game sebagai cameo, di film Silent Hill cerita sama sekali berbeda. Lalu apa hikmah yang bisa kita ambil dari N5M? Tentunya sebuah film yang baik memberikan pembelajaran kepada penontonnya bukan? Di N5M, kita diajarkan untuk memiliki tekad yang kuat untuk menggapai cita-cita kita. Tak peduli seberapa sulit, tidak ada yang tidak mungkin. Spirit Man Jadda wa Jadda inilah yang menjadi pesan yang coba disampaikan dalam film ini. Tidak peduli seberapa sering kita jatuh, tapi selalu bangkitlah saat kita jatuh. Hal lain yang bisa kita ambil hikmahnya adalahketika Alif dkk protes tentang mesin genset lalu Kiai Rais berkata "Jika kalian protes sama suatu hal, maka kalian juga harus memikirkan bagaimana solusi untuk masalah tersebut , jangan cuma bisa teriak doang,meminta keadaan menjadi lebih baik tapi kalian cuma bisa berteriak tanpa memikirkan bagaimana solusinya ". Sebuah quote yang sangat menyentuh. Saya langsung teringat akan protes tentang kenaikan BBM saat ini. Tanpa sadar, seringkali kita hanya protes saja kepada pemerintah tanpa bisa memberikan solusi. Akhir kata, Negeri 5 Menara adalah sebuah film yang sangat layak untuk ditonton dengan pesan-pesan moral yang bisa kita ambil di dalamnya. Semoga di kemudian hari akan lebih banyak film-film inspiratif seperti ini. Ayo, bangkitlah industri perfilman nasional...

KONTEN MENARIK LAINNYA
x