Rustian Al Ansori
Rustian Al Ansori Pegawai

Pernah bekerja di lembaga penyiaran, berdomisili di Sungailiat (Bangka Belitung)

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Pilihan

Malam di Sungailiat Menikmati Manis Kue Putu Mas Nur dari Brebes

9 September 2018   18:25 Diperbarui: 9 September 2018   18:57 763 12 3
Malam di Sungailiat Menikmati Manis Kue Putu Mas Nur dari Brebes
Kue putu buat mas Nur (dokpri)

Aroma pandan tercium dari kue Putu yang masih hangat ditaburi putih parutan kelapa di atas piring lebar, menambah kehangat malam.

Kue Putu buatan Ali Nurdin (30 tahun) asal Brebes, Jawa Tengah ini menjadi hidangan malam hari, ditambah secangkir kopi. Semakin terasa nikmatnya. Kapan lagi bila ada waktu untuk selalu memanjakan dan menyenangkan hati.

“ Mas, putunya dua puluh,” pinta saya kepapa Mas Nur, pangilan akrab Ali Nurdin.

Mas Nur langsung membuat pesanan saya. Peralatan memasak Kue Putu yang ditaruh diboncengan sepedanya yang sudah tak lagi baru, dengan cekatan ia memasukkan tepung beras berwarna hijau pandan serta gula merah ke dalam cetakan yang terbuat dari bambu. Satu per satu kue Putu dibuatnya dengan cepat. Sekitar 20 menit, Kue putu selesai dibuat dan siap santap.

Mas Nur penjual kue putu (dokpri)
Mas Nur penjual kue putu (dokpri)
Hanya Rp 1000/ buah. Jadi dengan 20 buah kue Putu saya hanya mengeluarkan kocek Rp 20 ribu saja. Kue Putu juga kesukaan putri bungsuku. Kami bersama - sama menyanyantap kue Putu yang masih hangat. Istriku sempat mulutnya kepanasan, sehingga beberapa kali kue Putu harus ditiup hingga terasa dingin baru dimakan.

Malam di Sungailiat, kali ini kami menikamati manisnya kue Putu Mas Nur. Ketika dikunyah aroma pandan tetap terasa dengan parutan kelapa yang manis ditambah gula merah, semakin bertambah manis. Malam juga semakin terasa harmonis, sambil menikmati kue Putu bercengkrama dengan keluarga. 

Tepung beras dan gula merah bahan pembuat kue putu (dokpri)
Tepung beras dan gula merah bahan pembuat kue putu (dokpri)
Sepertinya saya berlebihan memuji Mas Nur. Namun dibalik enaknya kue Putu Mas Nur, juga perjuangannya merantau ke Bangka sepuluh tahun lalu hingga sekarang ini tetap merasa betah berada di Sungailiat, Kabupaten Bangka.

“ Disini aman, mas,” kata ayah dari seorang putri usia 9 bulan ini.

Walau ia sudah sepuluh tahun merantau berjualan kue Putu di Sungailiat namun cintanya tetap tertambat kepada perempuan asal Brebes.

“ Cinta pertama, mas.” kata Mas Nur tertawa lepas, mengomentari tentang istrinya. 

Sepuluh tahun berjualan kue Putu di Sungailiat, ia tetap bertahan karena merasa daerah ini aman. Dengan mengayuh sepeda dimulai sore hari, hingga berakhir malam hari sekitar pukul 22.00 Wib Mas Nur tidak merasa cemas melalui jalan sepi.

Peralatan pembuat kue putu yang dibonceng di atas sepeda (dokpri)
Peralatan pembuat kue putu yang dibonceng di atas sepeda (dokpri)
Setiap malam ia membawa 3 kilogram lebih tepung beras bahan baku membuat kue Putu, selalu terjual habis. Tepung beras sebanyak itu dapat dibuat lebih 300 buah kue Putu.

Mas Nur yang tinggal bersama anak dan istrinya di Kampung Jawa Sungailiat ini, berada di rumah kontrakan diantara para perantau dari pulau Jawa yang juga berdagang selain kue Putu, juga bakso, es krim dan sol sepatu.

Kodisi yang aman di Sungailiat, telah menjadi maghnit bagi para perantau untuk datang sebagai modal utama dalam menggerakkan perekonomian di daerah ini. Termasuk mereka yang mengais rezeki di malam hari, diantaranya Mas Nur.

Salam dari pulau Bangka.

Rustian Al Ansori