Rus Rusman
Rus Rusman Praktisi Pendidikan, Aktivis SAMBANGPRAMITRA - www.kompasiana.com/rusrusman522 - www.facebook.com/rusman245

"Hidupmu terasa LEBIH INDAH jika kau hiasi dengan BUAH KARYA untuk sesama".

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Lelaki Itu Bergelar Surolawe

11 Juni 2018   10:20 Diperbarui: 11 Juni 2018   10:33 386 7 3


Berabad-abad yang silam, Kadipaten Tuban merupakan jantung perdagangan bagi kerajaan-kerajaan besar di Nusantara. Tercatat dalam sejarah, mulai dari Kerajaan Kahuripan (Erlangga), Singosari dan Majapahit, semua menjadikan Pelabuhan Kambang Putih sebagai urat nadi  perekonomiannya. Namun semenjak pemberontakan Sutawijaya (Mataram) terhadap Pajang, dimana Tuban lebih memilih berpihak kepada Pajang, maka secara lambat tetapi pasti kadipaten di pesisir utara ini bagaikan lentera yang kian redup cahayanya. Konon di samping karena adanya pendangkalan laut di sekitar Kambang Putih juga karena kebijakan "bumi hangus" oleh raja-raja Mataram terhadap lawan-lawan politiknya.

Dengan jebolnya benteng Kumbokarno sebagai benteng kebanggaan rakyat Tuban itu (+1618), maka Mas Hario Dalem (Adipati ke 17) sebagai pewaris trah Ronggolawe segera melakukan perang gerilya. 

Dia mendirikan perkemahan di hutan Jenggala dan dibantu oleh para pengawal setianya, ialah Ki  Senggara dan Ki Panitis yang merupakan adik seperguruan mendiang Adipati Hario Pemalat (Ayahanda Hario Dalem). Menurut catatan yang ada,  Hario Pemalat adalah menantu Sultan Hadiwijaya (Sultan Pajang) yang saat mudanya bernama Jaka Tingkir.

Matahari sore masih bersinar ketika terjadi perdebatan penting antara Ki Panitis dengan Mas Hario Dalem. Orang tua itu menyarankan agar adipati yang bergelar Benteng Surolawe segera berdamai dengan pimpinan Mataram, namun tentu saja segera ditolak oleh sang adipati. Rawe-rawe rantas malang malang putung, aku tidak boleh menyerah meskipun pendapat paman Panitis tidak jauh berbeda dengan nasehat Eyang Asyari agar kami berdamai saja.

 "Benteng itu terlalu tinggi ngger dan sudah barang tentu terlalu berlebihan," berkata Syeh Asyari terakhir kali. Namun toh tetap dirinya berkeras hati minta orang tua itu merestui keinginannya. Akhirnya berdirilah benteng yang megah itu, meskipun kemudian dihancurkan oleh Brandal Surobahu dari Mataram, pikirnya. (Surobahu dikenal pula dengan nama Pangeran Pojok).

Kini di dalam biliknya Sang Hario masih menggerutu dan menyesali sikap Ki Panitis.

"Ma'afkan paman ngger, jika kata-kata paman dianggap kurang baik."

"Bagiku kata-kata paman bahkan tidak baik. Kau selalu memintaku meletakkan senjata, apakah dengan demikian aku tidak menjadi seorang pengecut? Seorang yang tidak berani menghadapi pahit getir perjuangan? Seorang prajurit sejati akan pantang menyerah kepada lawan, dan pantang menyerah kepada keadaan."

"Raden benar," sahut Panitis "Jangan menyerah kepada lawan, jangan menyerah kepada keadaan. Namun jangan membutakan diri atas kenyataan. Selama kita masih dihadapkan pada cita-cita, maka kita tidak akan berputus asa. Namun apabila kita meyakini kelemahan diri dan meyakini bahwa apa yang hendak kita capai itu tidak akan terpenuhi, maka sebaiknya kita menyadari keadaan. Korban telah semakin banyak dan korban itu tidak akan berarti apa-apa. Korban yang sia-sia. Korban dari nafsu pembalasan dendam dan sakit hati."

Mas Hario Dalem tidak berkata apa-apa lagi. Ia kini seakan-akan melihat sebuah gambaran yang suram tentang masa depan perjuangannya. Ia kini melihat betapa korban berjatuhan di kedua belah pihak tanpa dapat merubah keadaan. Korban yang menurut Panitis adalah korban yang sia-sia.

Sesaat mereka berdiam diri, berbicara dengan angan-angannya masing-masing. Namun sejenak kemudian terdengar Benteng Surolawe itu menggeram lagi.

"Apakah paman menyayangkan korban-korban itu?"

"Ya." sahut Panitis pendek.

"Mati bagi prajurit adalah kemungkinan yang sudah diketahuinya. Mati bagi seorang prajurit adalah kemungkinan yang sama dengan kemungkinan untuk hidup. Sehingga mati bagi seorang prajurit sama sekali bukan suatu hal yang mengejutkan."

"Angger benar. Mati bagi aku dan bagi angger adalah kemungkinan yang paling dekat terjadi. Bahkan lebih dekat daripada kemungkinannya untuk hidup. Tetapi apakah mati bagi mereka yang sama sekali tidak tahu menahu persoalan ini juga dapat dibenarkan? Apakah mati bagi orang-orang di kanan kiri papringan, dukuh Beji dan masyarakat di sekitar Bangkle itu juga sudah wajar?"

Panitis berhenti sejenak, lalu ia melanjutkan.

"Laskar raden yang terpencar dan menyusup di daerah-daerah itu benar-benar tak terkendali. Rakyat di daerah itu dan pasukan Mataram bahkan sudah menyatu berusaha untuk menumpas pasukan kalian. Kematian bagi laskar angger dan laskar Mataram adalah wajar. Tetapi bagaimana dengan rakyat yang tergilas oleh arus peperangan itu?"

Mas Hario Dalem mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagian kawan-kawanku memang biadab, ada yang dengan sengaja mempergunakan kesempatan untuk kepentingan-kepentingan yang kotor. Merampas, membunuh dengan dalih untuk kepentingan perjuangan. Bahkan mengkhianati perjuangan atau berpihak kepada musuh. Apabila peperangan ini masih berlangsung terus, maka hal-hal yang serupa itu masih akan berlangsung lama.

Kembali mereka berdua terlempar dalam kesenyapan. Yang terdengar hanyalah nafas Benteng Surolawe yang semakin cepat mengalir lewat lubang-lubang hidungnya. Matanya yang tajam menerkam dinding bambu yang berlubang-lubang dihadapannya. Tetapi lubang-lubang itu kini sama sekali sudah tidak kelihatan.

Ketika Mas Hario Dalem berpaling menembus celah-celah dinding gubugnya yang tidak rapat, maka terdengar ia berdesis "Sudah hampir gelap."

Panitis mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Ya, sudah hampir gelap."

Tiba-tiba Benteng Surolawe berdiri. Beberapa langkah ia berjalan ke sudut ruang itu. Diraihnya pedang wesi kuning yang tersangkut diatas pembaringannya. Panitis memandang senjata itu dengan wajah yang tegang. Ia tidak tahu, apakah yang akan dilakukan oleh Benteng Surolawe yang garang itu. Tetapi ketika ia melihat Mas Hario Dalem memutar tubuhnya, dan dilihatnya dalam keremangan malam itu kesan sikap yang wajar, maka Panitis pun tidak beranjak dari tempatnya.

Sebuah obor telah dinyalakan di samping mulut pintu bangunan itu.

"Paman, aku ingin berjalan-jalan bersama paman malam ini." suara Mas Hario Dalem datar. Dada Panitis berdesir. Tidak pernah Mas Hario Dalem membawanya pergi akhir-akhir ini, kini tiba-tiba Benteng Surolawe itu mengajaknya. Apakah anak muda ini benar-benar marah kepadanya, ataukah Benteng Surolawe itu ingin mendengar pendapatnya lebih lanjut, semua adalah teka-teki yang belum dapat diketahuinya. Tetapi sudah tentu ia tidak dapat menolaknya.

Kalau Mas Hario Dalem ingin berbuat jahat kepadanya, maka sudah tentu mereka tidak akan pergi berdua. Anak ini pasti menyadari sepenuhnya bahwa ia bukanlah lawannya. Panitis adalah takaran dua atau tiga kali di atas sang Hario, sebab Panitis adalah suadara seperguruan dari gurunya yang sekaligus ramandanya, Ki Hario Pemalat.

Tetapi apa yang dilakukan Panitis akhir-akhir ini memang tidak lebih dari seorang pencari rumput yang taat. Bahkan sebagian besar dari pasukan Tuban yang tergolong baru yang tersebar di mana-mana tidak mengenal Panitis dengan baik. Mereka menyangka bahwa orang itu benar-benar seorang pencari rumput untuk makan kuda-kuda di pasukan ini.

Ketika Panitis tidak segera menjawab, maka sekali lagi Adipati itu berkata "Paman, setelah sholat maghrib kita pergi berdua malam ini."

"Kemana ngger?"

Anak muda yang perkasa itu menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan itu terasa aneh baginya. Panitis pasti tahu kemana mereka akan pergi dalam keadaan seperti ini.

Meskipun demikian Mas Hario Dalem menjawab: "Paman pasti sudah tahu, kemana kita akan pergi dalam keadaan ini. Keadaan di mana pasukanku sudah siap untuk menggempur dan merebut Tuban kembali."

"Oh, jadi kita melihat-lihat kadipaten?"

"Ya !"

Panitis menarik nafas dalam-dalam. Ternyata anak Pemalat ini hendak memaksanya untuk melibatkan diri ke dalam peperangan yang dibencinya itu. Peperangan yang semakin lama menjadi semakin jauh dari bentuknya.

Setelah mereka solat berjama'ah, Mas Hario Dalem tidak menunggu lama. Perlahan-lahan ia berjalan ke pintu dan hanya sekali ia berpaling. Ketika dilihatnya Panitis telah berdiri, maka Mas Hario Dalem itupun berjalan terus.

Di muka gubug Senggara Mas Hario Dalem berhenti. Dipanggilnya Senggara yang sedang makan nasi dan daging rusa.

"Apakah raden akan pergi?" bertanya Senggara.

"Ya," jawab Hario Dalem "Pekerjaanmu besok mengumpulkan semua kekuatan. Malam ini aku ingin melihat pusat kadipaten bersama paman Panitis."

Senggara mengerutkan keningnya. Ia kenal siapakah Panitis itu. Ia kenal kebesaran namanya pada masa-masa lampau. Tetapi ia kenal juga, bahwa Panitis kini lebih senang menjadi seorang pencari rumput dengan arit ditangannya. Membelah daging binatang-binatang buruan dan membelah kayu-kayu bakar. Bagi Senggara, Panitis sekarang hampir-hampir tidak berarti sama sekali. Seandainya Panitis itu mati sekalipun, maka laskar Tuban tidak akan merasa kehilangan. Sebab pekerjaannya segera dapat diganti oleh orang lain.

Karena itu Senggarapun bertanya: "Apakah raden tidak memerlukan orang lain?"

"Tidak." jawab Mas Hario Dalem menggelengkan kepalanya. Senggara tidak bertanya lagi. Benteng Surolawe sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya, sehingga ia pasti sudah memperhitungkan.

Ketika Mas Hario Dalem itu kemudian berjalan meninggalkannya, maka segera Senggara masuk kembali kedalam biliknya, menjatuhkan dirinya di sebuah bale-bale dan kembali meneruskan menikmati daging rusa muda. Sambil mengunyah nasi, Senggara berkata: "He, panggil Raguna di gubugnya!"

Seseorang yang berdiri dimuka pintu berpaling. Sekali lagi Senggara berkata:  "Panggil Raguna."

"Baik, baik Ki Lurah." jawab orang itu sambil berlari-lari ke gubug yang lain. Tetapi kemudian langkahnya terhenti. Dilihatnya Benteng Surolawe dan Panitis berjalan di hadapannya menuju ke gubug Raguna pula.

Sampai di gubug Raguna, Mas Hario Dalem berhenti. Dia bermaksud menyampaikan pesan yang sama seperti halnya kepada Senggara.

Namun belum sempat dirinya berkata-kata, terdengar suara Raguna yang muda itu: "He, siapa diluar ?"

Tak ada jawaban, sehingga sekali lagi terdengar suara Raguna: "Siapakah orang gila yang ada di luar itu? Bukankah sudah kupesan, kalau aku sedang beristirahat tidak boleh ada yang mendekati gubukku ?"

Tiba-tiba sebuah pedang sengaja dilempar dari dalam bilik. Kini pedang itu melintang di depan pintu dan suara Raguna terdengar lagi: "Siapapun kau yang tidak segera pergi, pedangku itu yang akan mengganti berbicara !"

Demikian marahnya Benteng Surolawe mendengar kata-kata itu sehingga bibirnya menjadi gemetar. Tak sepatah katapun dapat terlontar dari bibirnya. Kini lelaki berkumis melintang itu tidak dapat lagi mengendalikan kemarahannya. Maka tiba-tiba Mas Hario Dalem itu mengangkat pedang wesi kuningnya tinggi-tinggi. Sekali ia meloncat mendekati gubug itu, dan dengan sekuat tenaganya tiang sudut gubug itu berderak patah, dan runtuhlah sudut gubug Raguna.

Mendengar suara berderak-derak itu, alangkah terkejutnya Raguna. Dengan tangkasnya anak muda itu meloncat ke pintu dan dengan sebuah loncatan yang panjang ia telah berdiri tegak diluar pintu.

Tetapi alangkah terkejutnya Raguna yang malang itu. Demikian ia berdiri tegak, maka dengan serta-merta sebuah tangan terjulur kearahnya dan dengan kuatnya menggenggam leher bajunya. Alangkah kuatnya tangan itu. Raguna merasa kehilangan kekuatannya ketika tangan itu menariknya.

Sebelum Raguna sadar akan keadaannya, maka sebuah tamparan yang keras mengenai pipinya. Kini ia terhuyung-huyung. Tangan kuat itu tidak lagi menggenggam bajunya, sehingga Raguna terbanting jatuh. Namun sebenarnya Raguna begitu lincahnya, demikian ia terguling maka segera ia meloncat berdiri di atas kedua kakinya yang kokoh.

Kini barulah ia melihat siapakah laki-laki yang telah menamparnya itu. Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi kekar berkumis tebal melintang, siapa lagi kalau bukan Benteng Surolawe.

Ketika disadarinya siapa yang berdiri dihadapannya, maka kagetlah hatinya. Segera ia membungkukkan badan dan berkata: "Maafkan aku Raden. Aku tidak tahu, bahwa Raden berada disini."

Terdengar gigi Benteng Surolawe gemeretak menahan kemarahannya yang memuncak. Dengan tajamnya ia memandang wajah Raguna yang tunduk.
Seandainya pada saat itu Raguna berkata sepatah kata saja, maka wajahnya pasti akan menjadi bengkak, karena Mas Hario Dalem telah mengepalkan tinjunya dan siap untuk memukul mulut Raguna.

Namun untunglah bahwa Panitis sempat menenangkannya.

"Sudahlah ngger, biarlah ini menjadi pelajaran bagi setiap orang di perkemahan ini bahwa tidak boleh berbuat sombong. Anak muda itu telah menyesal."

Mas Hario Dalem tidak menjawab. Diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Ternyata di sekitar tempat itu telah berdiri berkerumun beberapa orang. Di ujung berdiri seseorang dengan mulut yang bergerak-gerak, ialah Senggara. Meskipun ia tegak dengan wajah tegang, namun mulutnya masih saja mengunyah daging rusa yang belum sempat ditelannya.

Mas Hario Dalem kemudian melangkah maju. Dengan pedang wesi kuningnya ia menunjuk ke dalam malam yang kelam, kekelaman hutan disekitarnya: "Anak laknat, pergi dari sini. Kaulah yang membawa sial dalam laskar kami."

"Raden," cegah Panitis hati-hati "Biarkan si Raguna tetap di sini. Tempatkanlah lelaki itu pada gubuk Senggara. Jangan meninggalkan tempat ini, kalau ia pergi maka Senggaralah yang akan bertanggung jawab."

Betapapun marahnya Benteng Surolawe, namun naluri kepemimpinannya segera merayapi otaknya. Karena itu maka katanya: "Paman benar. Anak itu tidak boleh meninggalkan tempat ini."

Kemudian katanya kepada laki-laki kurus berkumis jarang itu: "Kau jaga dirimu baik-baik. Kalau kau berbuat gila seperti tadi, lehermu menjadi taruhannya."

Raguna menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak tahu kenapa hari ini benar-benar sial. Tetapi ia hanya mampu menjawab "Ya, ya tuan."

Panitis yang berpengalaman itu dapat membayangkan apa yang akan terjadi seandainya anak muda itu meninggalkan perkemahan ini. Perkemahan yang dengan hati-hati dipersiapkan khusus untuk tujuan yang penting. Perkemahan yang dibangun dengan tergesa-gesa untuk mempersiapkan laskar-laskar Tuban yang terpencar di segala penjuru.

Kalau anak itu lepas dengan luka di hatinya, maka perkemahan itu pasti segera akan hancur. Sebab tidak mustahil, tempat itupun akan segera diketahui oleh Surobahu, utusan Mataram yang kini menguasai kadipaten Tuban.

Untunglah bahwa Mas Hario Dalem segera menyadari pula keadaan itu. Sejauh ini yang baru diketahui oleh orang-orang Mataram adalah persiapan-persiapan dan kesibukan dari beberapa orang yang terpencar-pencar. Namun secara pasti, pusat perkemahan tentu belum dapat mereka ketahui. Apalagi tempat ini belum lama dibangun, setelah beberapa puluh kali berpindah-pindah.

Sekali lagi mata Sang Hario beredar diantara orang-orangnya yang berdiri berkerumun sambil menahan gelora hati masing-masing. Dengan lantang ia berkata "Aku tidak mau melihat perbuatan sombong ini berulang lagi di perkemahan ini."

Dan sebelum gema suaranya lenyap dalam kekelaman malam, maka segera Mas Hario Dalem melangkah pergi. Beberapa orang menyibak ke samping memberinya jalan. Tanpa menoleh Mas Hario Dalem berjalan masuk ke dalam malam yang gelap. Di belakangnya Panitis berjalan cepat-cepat.

Diujung perkemahan itu Panitis masih sempat meraih sebuah golok pembelah kayu. Kalau mereka pergi ke kadipaten, maka perjalanan itu bukanlah perjalanan tamasya. Sehingga karena itu, maka golok itu akan sangat bermanfaat baginya apabila ditemuinya bahaya diperjalanan..***

 

Keterangan:

Cerita ini hanyalah imajinasi belaka, namun pada beberapa bagian ada sumbernya.

Penulis adalah pemerhati sejarah lokal  dan praktisi pendidikan di Kota Tuban.