Mohon tunggu...
Rushans Novaly
Rushans Novaly Mohon Tunggu... Administrasi - Seorang Relawan yang terus menata diri untuk lebih baik

Terus Belajar Memahami Kehidupan Sila berkunjung di @NovalyRushan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Mengenang Perang Kemerdekaan di Jalur KA Rangkasbitung-Tanah Abang

14 November 2015   06:26 Diperbarui: 15 November 2015   16:10 2240 5 9
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

[caption caption="Ilustrasi | Foto: Kompas - Agus Susanto"]
[/caption]Jalur kereta Rangkasbitung – Tanah abang telah ada sejak zaman Belanda. Jalur ini menjadi jalur yang menghubungkan Jakarta menuju wilayah Banten selatan. Keberadaan jalur ini sangatlah strategis karena bukan saja menghubungkan Jakarta dengan kota Rangkasbitung tapi jalur ini juga menghubungkan  pelabuhan Merak. Jalur ini terintegrasi dengan moda penyebarangan laut.

Di era tahun 70 hingga awal 80 an. PJKA (Perusahan Jasa Kereta Api) –ketika itu , juga menyediakan fasilitas kapal penyeberangan menuju pulau Sumatra. Cerita ini saya dapatkan langsung dari almarhum ayah saya.  Walau akhirnya peran jalur kereta api Jakarta-Merak ini kalah pamor ketika jalan bebas hambatan Jakarta-Merak mulai beroperasi.

Saat ini walaupun masih ada kereta yang menuju Merak tapi tak lagi menjadi pilihan utama. Karena jadwal keberangkatan menuju dan ke Jakarta tidak tersedia setiap saat. Jadwal keberangkatan yang berselang cukup jauh membuat penumpang lebih memilih moda darat lainnya seperti bus.

Jalur Perjuangan

Namun tak banyak yang tahu bila jalur kereta ini menjadi jalur pertempuran yang cukup menentukan ketika zaman perang kemerdekaan. Jalur ini malah pernah menjadi jalur penghambat bagi pergerakan pasukan sekutu yang terus bergerak menuju arah Banten.

Pertempuran yang terjadi di Serpong menjadi saksi sejarah bagaimana para pejuang kemerdekaan dengan semangat berani mati itu menyerang pertahanan Sekutu yang memiliki persenjataan modern dan lengkap.

Pertempuran Serpong terjadi pasca jatuhnya Jakarta ke tangan Sekutu, pihak Nica yang membonceng pasukan sekutu mulai melakukan aksi penguasaan terhadap wilayah Tangerang . Kekuatan sekutu yang dikomandani pasukan inggris terus bergerak hingga perbatasan Serpong.

Pada tanggal 16 Mei 1946 , pasukan Inggris memberikan ultimatum kepada seluruh kekuatan militer Indonesia untuk mundur hingga 4 Km dari sungai Cisadane. Ultimatum ini diberikan melalui pamflet yang disebarkan melalui udara agar dibaca seluruh tentara dan laskar Indonesia.

Pihak pemerintah pusat ketika itu meminta agar tentara dan pejuang kemerdekaan Indonesia mengikuti ultimatum pasukan Inggris tersebut. Karena Perdana Menteri Syahril ketika itu lebih memilih jalur diplomasi ketimbang menggunakan kekuatan senjata yang tentunya sangat tidak berimbang. Selain menghindari jatuhnya korban yang terlalu banyak di pihak pejuang kemerdekaan.

Keputusan itu memang diterima dengan dua pendapat berbeda. Sebagian pejuang yang bergabung pada laskar laskar perjuangan tetap bersikukuh untuk melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan sedang pihak Tentara Rakyat Indonesia (TRI)-kini TNI- yang terikat dengan hirarki kemiliteran tentu harus mematuhi keputusan atasan yang memutuskan untuk bergerak mundur.

Maka dilakukan rapat gabungan yang melibatkan pihak TRI, kepolisian dan wakil wakil rakyat yang dilakukan pihak pemerintahan kabupaten Tangerang yang ketika itu dipimpin Patih R. Akhyad Penna. Rapat itu memutuskan, pasukan TRI akan mundur mengikuti perintah pemerintah pusat tapi para laskar dan rakyat Banten khususnya rakyat Tangerang memilih akan melakukan perlawanan.  Walaupun memilih mundur TRI tetap memberikan bantuan persenjataan, berupa beberapa granat dan beberapa bahan bahan peledak untuk membantu perlawanan rakyat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan