Kuliner Artikel Utama

Indonesia dalam Secangkir Americano ataupun Tubruk

22 Mei 2015   13:20 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:43 162 0 0
Indonesia dalam Secangkir Americano ataupun Tubruk
1432273973892813720

Ketika orang Amerika takluk dengan rasa kopi espresso yang pekat, dan meminta agardibuat lebih encer, muncullah istilah ejekan untuk mereka: Americano—espresso yang ditambahkan lebih banyak air. Suatu waktu, saya ke satu kafe, di Bandung, namun pihak kafe hanya menyediakan menu kopi tubruk dan espresso, entah kenapa tidak ada menu espresso yang lebih encer itu. Padahal buat saya, ngapain ke kafe kalau minumnya kopi tubruk lagi kopi tubruk lagi. Kopi tubruk buat saya domain rumahan.




[caption id="attachment_384870" align="aligncenter" width="300" caption="americano"][/caption]

Waktu itu, saya belum tahu istilah Americano. Saya hanya tahu bahwa kopi yang disajikan tanpa ampas itu dibuat dengan cara di-steam; ini definisi yang saya tahu dari kafe lain. Berhubung saya sedang ingin kopi steam ini, maka waktu itu saya terpaksa tetap memesan espresso, namun minta ekstra air panas berikut gula, persis seperti orang Amerika yang tidak punya nyali minum espresso.

Saya tidak peduli kendati teman saya terkekeh; kudunya bawa termos dan mug sendiri dari rumah. Apalagi pihak kafe ini, anehnya, bisa mengamini keinginan saya. Belakangan saya baru tahu bahwa kopi jenis ini diistilahkan secara (agak) umum sebagai americano. Semula saya pikir istilah americano cuma milik satu kedai kopi waralaba asing.

Ketika semakin banyak kafe bertumbuhan di kota saya, sejumlah kafe memang menggunakan nama americano, kendati kafe lain lebih suka menamakan sendiri seperti long black, black origin, atau sekadar black coffee, dll. Namun ada yang pasti dari istilah americano di kafe manapun, yakni disajikan tanpa ampas, dengan bahan dasar espresso; kopi yang diekstrak.

Satu waktu, saya satu kafe dengan seorang bule yang memesan espresso; terlihat dari cangkirnya yang kecil. Dia mungkin hanya menunggu espresso-nya cukup dingin, untuk kemudian dengan sekali teguk espresso di cangkirnya tumpas. Saya berpikir, apa enaknya minum kopi seperti itu. Tapi saya juga tahu, “penggemar” espresso biasanya mencari efek kafein dari espresso, biar tetap melek, bukan untuk berlama-lama, leyeh-leyeh , sambil ngobrol ngaler ngidul di kafe.

Dari espresso, berbagai jenis kopi bisa diciptakan mulai cappuccino, macchiato, latte, ataupun yang disajikan dingin dengan dicampur berbagai bahan lain seperti coklat, teh hijau, bahkan wortel dan alpukat. Untuk jenis dingin ini, Oprah Winfrey misalnya begitu tergila-gila pada frappucino dari satu kedai kopi waralaba.




[caption id="attachment_384871" align="aligncenter" width="300" caption="cappucino"]

14322740616674710
14322740616674710
[/caption]

Lain orang Amerika latin lain orang kita. Orang Indonesia yang terbiasa minum kopi tubruk yang kental; juga akan menganggap americano terlalu encer. Karenanya beberapa orang yang saya kenal yang lebih suka kopi tubruk, cenderung kecewa ketika sekali-kali mencoba minum kopi hitam di kedai kopi asing tersebut. “Udah mahal, cawerang pula,” opini salah seorang teman (cawerang; istilah Sunda, misalnya untuk kopi yang tidak pekat/kental). Kendati begitu, dia juga tidak suka minum espresso yang lebih kental yang hanya secangkir kecil.

Cara pembuatan kopi antara tubruk (ada ampasnya) dengan menggunakan mesin, memang membuat cita rasa kopi menjadi berbeda. Sebagai penyuka americano, menurut saya cita rasa kopi bikinan mesin ini lebih segar ketimbang tubruk. Mungkin karena persentuhan kopi dengan air panas yang lebih intens pada cara pembuatan Americano, atau karena tidak ada ampasnya itu.

Penyuka kopi tubruk sudah pasti bakal protes keras. Apalagi ada tradisi khusus yang tumbuh di negeri ini dalam cara meminum kopi, yang anehnya menambah nikmat rasa kopi. Saya sendiri awalnya hanya tahu, dan ini pernah dipraktikkan bapak saya, minum kopi tubruk dari gelas belimbing khas Indonesia, lalu meminumnya dengan menumpahkan terlebih dulu air kopi yang panas mengepul ke tatakan keramik. Sebagian malah lebih suka meminumnya dengan gula aren.




[caption id="attachment_384992" align="aligncenter" width="300" caption="kopi stubruck"]

14323158721325937821
14323158721325937821
[/caption]

Lebih unik lagi ketika seorang teman asal Majalengka mengejek saya bagaikan nenek-nenek di kampung halamannya, ketika saya menyeduh kopi tubruk untuk teman bekerja. Saya tertawa, seraya merespon bahwa keluarga saya tak ubahnya keluarga Claudia Schiffer yang peminum kopi.

Namun saya memaklumi adanya paradigma tertentu yang tumbuh di negeri ini mengenai minum kopi. Maklum, seperti halnya teh, minum kopi sudah mendarah daging di Indonesia hingga ke rumah-rumah sederhana di kampung-kampung, dari sejak zaman baheula.



Produsen Kopi Terbesar
Bicara mahal murahnya harga kopi di Indonesia,banyak pihak mengatakan bahwa sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, harga-harga kopi yang ditawarkan kafe-kafe di Indonesia bikin kocek berdenyut kencang. Apalagi jika yang dipesan adalah kopi yang ditambahkan dengan berbagai bahan lain, yang biasanya disajikan dingin. Saya sendiri harus melihat sisi kenikmatan nongkrong di kafe sambil ngopi-nya, ketimbang hanya ngopinya itu sendiri, untuk bisa menyebut “worth it” atas harga kopi di kafe-kafe.

Ajaibnya, harga kopi di negara yang bahkan bukan penghasil kopi, bisa lebih murah daripada di negara-negara penghasil kopi terbesar. Wall Street Journal pernah mencoba me-ranking harga-harga segelas kopi tertentu di satu kedai kopi waralaba ternama di 29 negara di dunia.

Setelah dikonversi ke rupiah (saat rupiah berada di Rp 9.677/dolar AS), harga termahal ditempati Oslo, Norwegia, dengan harga Rp 95.124, sedangkan termurah New Delhi, India, Rp 27.095. Indonesia (Jakarta), negeri peringkat ke-3 penghasil kopi terbesar dunia, menjual produk yang sama dengan harga sekitar Rp 40.000. Nah, bayangkan harganya sekarang dengan rupiah di Rp 13 ribuan.

Dalam hal ini, menjadi produsen kopi terbesar tidak ada hubungannya dengan murah mahalnya harga. Brasil sebagai produsen kopi nomor wahid, juga membanderol dengan harga Rp 40.933 (di Sao Paolo), padahal di London, Inggris, hanya Rp 36.869. Tampaknya ada komponen lain yang membuat harga di kota yang satu lebih mahal dari yang lain, tentu salah satunya adalah kebijakan pajak di masing-masing negara.

Ihwal negara penghasil kopi terbesar, informasi terakhir menyebutkan negara peringkat pertama masih diduduki Brasil, lalu disusul Vietnam dan Indonesia. Di posisi berikutnya ada Kolombia dan Ethiopia. Namun seorang pengamat kopi asal Belanda, Ted van der Put, mengatakan, kopi terbaik justru berasal dari Ethiopia. Iklim yang stabil di Ethiopia, dan pengetahuan para petaninya mengenai cara bertani kopi yang baik, menjadi alasan utama. Penghasil kopi terbaik lainnya, kata dia, adalah Kolombia dan juga Brasil.

Menurutnya, Indonesia hanya kurang stabil saja; kadang baik kadang kurang baik. Ini dipengaruhi faktor cara atau pengetahuan menanam dan memanen para petaninya, juga iklim yang berubah-ubah.



Memang, Indonesia penghasil kopi termahal di dunia, yakni kopi luwak. Namun kini bahkan mulai muncul kampanye mengurangi bahkan menghentikan konsumsi kopi luwak, terkait banyaknya muncul kasus perlakuan “petani” kopi luwak terhadap hewan luwak yang tidak “berperikeluwakan”.

Nikmat, Harga Terjangkau

Sebenarnya pilihan untuk menikmati kopi dengan harga terjangkau, ada di warung-warung dan toko-toko swalayan. Di sana berbagai kopi ditawarkan mulai yang harganya sangat terjangkau sampai yang cukup membuat dompet ogah terbuka. Kendati ada juga desas-desus yang menyebutkan, kopi-kopi yang dibanderol murah sebenarnya lebih banyak unsur bukan kopinya, atau menggunakan kopi KW.

Pilihan lain yang lebih seru adalah membeli langsung di pabrik pengolah kopinya. Selain harganya tidak mahal-mahal amat, rasanya nikmat, dijamin pula kenikmatan itu berasal langsung dari kopinya; bukan dari perasa buatan atau campuran bahan lainnya. Untuk membuktikannya, satu pabrik pengolah kopi di Bandung melayani “tur pabrik kopi”. Di sana konsumen bisa melihat pengolahan kopi dari masih berupa biji hingga proses pemanggangan dan penggilingannya.

Sang pemilik pabrik, Widya Pratama, pada satu waktu saya pernah berkunjung ke sana, mengatakan, kopi-kopinya diperam cukup lama sebelum diolah. Untuk jenis Arabica, dia memeramnya hingga delapan tahun, sedangkan robusta lima tahun. Pemeraman ini menurut dia dapat menurunkan kadar kafein dalam kopi. Selain itu, Widya menggunakan kayu untuk memanggang kopinya karena inisangat mempengaruhi rasa kopi. Widya mengaku berburu sendiri kopi-kopi untuk pabriknya hingga Sumatra dan Sulawesi. Jawa Barat sudah pasti.

Di beberapa tempat kata dia, kopi lebih bercitarasa buah-buahan karena kebunnya berdekatan dengan kebun buah, semisal jeruk. Tapi di tempat lain bisa bercitarasa coklat karena berdekatan dengan kebun coklat. Widya mengatakan, kopi memang mudah menyerap aroma-aroma di sekitarnya, termasuk ketika sudah diolah menjadi kopi bubuk.

Karenanya kata dia, jangan pernah menaruh kopi di lokasi-lokasi yang menguarkan bau keras, seperti misalnya di dekat mesin mobil. Di rumah, sebaiknya kopi segera dimasukkan ke dalam wadah kedap udara.




[caption id="attachment_384993" align="aligncenter" width="576" caption="kopi produksi rumahan (foto: Suhud Darmawan)"]

1432316620361846315
1432316620361846315
[/caption]

Belakangan ini, komoditas kopi mengalami peningkatan peminat/permintaan, dengan harga cukup menggiurkan, khususnya untuk jenis arabika. Suhud Darmawan, seorang yang mencoba melirik bisnis kopi, menyebutkan, dia memperoleh bahan baku biji kopi arabika dari petani kopi di Gambung, Ciwidey. Dengan bisnis yang masih bersifat rumahan, Suhud membeli biji kopi yang masih terbungkus kulit, menyangrai, dan menggiling sendiri, sehingga menghasilkan kopi dengan rasa arabika murni.

Menurutnya, peningkatan permintaan membuat banyak petani yang semula menanam teh, mengonversi lahannya ke kopi. Padahal dahulu kala lahan mereka juga pernah ditanami kopi sebelum teh. Mungkin ini juga yang, seperti dimaksud van der Put, membuat kualitas kopi Indonesia tidak stabil.

Kedai Asing Bikin Industri Lokal Berdenyut

Syukurlah, negeri sendiri kini mulai bisa mengapresiasi produk kopi sendiri sebelum semuanya diboyong ke luar negeri. Tak bisa dimungkiri, ada kontribusi dari bermunculannya kedai-kedai kopi asing di Indonesia yang menjual budaya minum “kopi tanpa ampas”. Satu kedai kopi asing yang bahkan telah sejak 1980-an menggunakan kopi Indonesia,tampaknya akan semakin masif menyerap kopi Indonesia, pasalnya kedai ini berencana membuka puluhan gerai lagi di Indonesia.

Apalagi kemudian kemunculannya kedai kopi asing ini juga telah memicu munculnya gaya hidup baru; nongkrong di kedai kopi. Hal ini telah memicu bertumbuhannya kedai-kedai kopi lokal bergaya kedai kopi asing, namun berharga lebih miring. Terlebih kemudian budaya ini juga tidak hanya tumbuh di kota-kota besar, melainkan juga mulai merambat ke kota kecil. Seorang ibu rumah tangga bernama Yayank S. Sahara dari Sidoarjo, misalnya, sukses membangun kedai kopi ala asing namun dengan harga kaki lima di kotanya.

Jika tren seperti ini terus berlangsung, industri kopi lokal dari hulu ke hilirmasih akan menyediakan pangsa pasar yang lebar bagi kopi-kopi produk sendiri. Kondisi ini tentu akan turut mempengaruhi kesejahteraan petani kopi Indonesia. Jika rasa kopi asal negeri sendiri bisa bersaing, kenapa pula harus menggunakan kopi impor. Jikapun kopi impor ada, mungkin lebih untuk kelengkapan dan variasi pilihan di satu kedai kopi.***

Sumber pendukung:

http://food.detik.com/read/2013/03/03/122649/2184291/294/negara-mana-yang-jual-kopi-starbucks-paling-mahal?d992202284

http://lifestyle.liputan6.com/read/2200655/negara-ini-penghasil-kopi-terbaik-di-dunia

http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/trend/13/03/17/mjtbbo-menikmati-kopi-lokal-di-kedai-asing).