Mohon tunggu...
Rumah Aksara
Rumah Aksara Mohon Tunggu... Alumni IIN Jember

Menulis dengan damai

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Perbincangan Kader FMII, UKPX dan Framuka

12 Juni 2019   22:31 Diperbarui: 12 Juni 2019   22:43 0 0 0 Mohon Tunggu...
Perbincangan Kader FMII, UKPX dan Framuka
dokpri

Waktu itu, di sebuah kampus islam IIN, baru saja melakukan pergantian pejabat kampus. Seiring dengan terpilihnya kembali rektor lama (incumben) untuk melanjutkan tangan besinya. Senior FMII mendapat tempat yang lumayan nyaman bahkan beberapa senior lainnya memiliki kedekatan khusus dengan sang rektor, terkadang sampai membawakan tasnya. Tapi, senior UKPX juga demikian, mendapat tempat nyaman disamping rektor. 

Kedua belah pihak, sama-sama kuat, singkat cerita terjadilah perdebatan antara kader FMII dan UKPX karena akan ada perekrutan dosen di kampus islam tersebut. 

Kader FMII: "Sudahlah bro, tidak perlu mendaftar jadi dosen teman-teman mu itu, percuma," ujarnya dengan nada agak songong. 

Kader UKPX: Eits, tunggu dulu, sekarang kita sama-sama kuat, saya juga punya senior, senior mu boleh saja dekat, sampai menjadi babunya rektor, membawakan tasnya segala, hih, cuih. 

Kader FMII: Itu cuman akting bro, setelah semua tertata, ya ndak mungkin lah kita seperti itu, ngapain... 

Kader UKPX: Hah.... akting kok merendahkan harkat dan martabat boss, itu bukan akting tapi memang.... Auk ah, gelap. 

Kader FMII: Ya, lihat saja lah nanti, siapa yang akan tertawa.... 

Tak lama kemudian, pengumunan perekrutan dosen pun muncul di wibsite kampus, info perekrutan dosen dengan cepat menyebar lewat pesan singkat WhatsApp, ketiga organisasi tersebut sama-sama mengirim kadernya untuk turut serta. 

Setelah melalui proses tes segala macam, pengumuman pun terpampang dengan jelas di website, kali ini kader UKPX dan Framuka layak membusungkan dada. 

Suatu ketika, ketiganya bertemu di warung kopi, bullying pun tidak bisa dihindari. 

Kader UKPX: Hei, menurut kamu menjadi babu tidak dibayar itu enak ndak sih ? 

Kader Framuka: Kalau menurut ku sih endak enak lah broo tapi ada kelompok yang beranggapan bahwa menjadi babu itu menyenangkan, loh. Meski tidak bayar--asal menjilat dan kantong tebel. 

Keduanya tertawa terbahak-bahak, sampai perutnya sakit. 

Sementara kader FMII wajahnya memerah, hatinya memanas, kepalanya seakan mau meledak mendengar sindiran kedua kader yang duduk didepannya itu. 

Kader FMII: "Jasikkkk....!!!" 

Kader UKPX dan Kader Framuka kembali tertawa. 

Kader UKPX: Etsss.... jangan marah boss, sudah, terimalah kenyataan. 

Kader Framuka: Iya bro, santai saja, toh senior mu kan sudah enak, kantong saku mereka sudah tebal, jadi sahabat-sahabat mu tidak perlu demo mendemo lagi, kan sudah kenyang. Senior mu dipasang, kan memang fungsinya demikian bro, supaya teman mu tertib berlalu lintas, bukan pemberdayaan kader, sekedar isi perut, ya sadar diri lah bro.... 

Kader FMII hanya terdiam, wajahnya semakin memerah, hatinya berdebar kencang, ingin rasanya ia melayangkan bogem ke wajahnya temannya itu. Tapi, dalam hati kecilnya ia tidak bisa berbohong, bila apa yang disampaikan temannya memang benar. Selama ini, seniornya menjadi jongos rektor, melakukan intervensi kader untuk bungkam, supaya kader tidak demo dan hilang daya kritisnya hanya demi kepentingan seniornya, ia tertunduk lalu pulang. 

Diperjalan menuju kosnya, pikirannya melayang ke mana-mana, memikirkan organisasinya yang terkoyak tak berdaya, seniornya menjual diri untuk kepentingan pribadi, teman-temannya senang menerima receh untuk sepiring nasi, dalam hatinya ia menangis, menjerit dan ingin rasanya angkat kaki, sebagai mana sikap yang dilakukan Ahmad Wahib dalam bukunya.