Mohon tunggu...
Rully Novrianto
Rully Novrianto Mohon Tunggu... Lainnya - A Mind Besides Itself

Kunjungi juga blog pribadi saya di www.rullyn.net

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Hantu Lokal Jagoan Layar Lebar

20 Mei 2024   09:41 Diperbarui: 20 Mei 2024   09:42 93
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Photo by Ryan Miguel Capili: www.pexels.com

Bagi pecinta film horor Indonesia, pasti sudah tidak asing lagi dengan pocong, kuntilanak, dan sundel bolong yang sering menjadi "bintang utama" dalam film. Nampaknya, hantu-hantu lokal menjadi favorit dalam genre horor Indonesia. Tapi pernah nggak sih kalian bertanya-tanya, kenapa film horor Indonesia didominasi tema setan melulu? Apa tema menyeramkan lain seperti zombie, vampir, pembunuh berantai, atau monster tak laku di pasaran?

Pengaruh budaya

Sebagai penikmat film horor (non-setan), saya ingin berbagi sedikit perspektif. Memang benar, film horor Indonesia seakan ketagihan menyuguhkan cerita setan. Tapi ada beberapa alasan kuat di baliknya.

Pertama, hantu adalah hasil dari kearifan lokal. Kisah tentang makhluk astral ini telah meresap dalam budaya masyarakat Indonesia. Sejak kecil, pasti kita sudah pernah mendengar cerita dan mitos menyeramkan mengenai pocong, kuntilanak, dan rekan-rekan sejawatnya. Hal ini membuat tema setan terasa lebih akrab dan dapat dimengerti oleh para penonton. Bandingkan dengan zombie atau vampir, yang mungkin terasa asing bagi sebagian penonton Indonesia.

Kedua, hantu menawarkan fleksibilitas cerita yang luas. Para sineas lokal bisa berkreasi dengan berbagai macam mitos dan legenda yang sudah diceritakan turun temurun dari generasi ke generasi. Ingin horor mencekam? Ceritakan sosok sundel bolong yang bergentayangan. Butuh sentuhan komedi horor? Pocong dengan tingkah konyolnya bisa jadi opsi. Fleksibilitas inilah yang membuat cerita setan selalu terasa segar dan bisa dikemas dengan berbagai gaya.

Ketiga, masyarakat Indonesia memiliki ketakutan yang unik terhadap hal-hal gaib. Berbeda dengan film horor Barat yang sering menampilkan adegan darah dan kekerasan, film horor Indonesia lebih sering menekankan ketakutan psikologis dan kepercayaan pada hal-hal mistis. Hal ini disebabkan oleh tingginya kepercayaan pada hal gaib di kalangan masyarakat.

Pernah ngerasain bulu kuduk merinding pas lagi sendirian di rumah? Itulah kekuatan dari rasa takut akan hal yang tak terlihat yang dimanfaatkan oleh horor Indonesia.

Horor non-setan juga bisa sukses

Namun, bukan berarti film horor Indonesia anti-inovasi. Ada film horor yang mengeksplor tema lain di luar setan. Misalnya, "Reuni Z" yang bertema zombie, atau "Rumah Dara" yang bertema penjagalan oleh seorang pembunuh misterius. Ini menunjukkan bahwa sineas lokal mulai berani keluar dari zona nyaman dan menjelajahi wilayah baru dalam hal kengerian.

Lalu bagaimana dengan horor yang mengeksplor tema zombie, pembunuh berantai, dan monster? Meskipun pasar untuk tema-tema ini masih ada, tapi untuk pasar Indonesia tingkat kesuksesannya belum sebesar film horor bertemakan setan.

Dari luar negeri, film seperti "Train to Busan" dari Korea atau "Shaun of The Dead" dari Inggris membuktikan bahwa cerita horor yang tidak melibatkan setan juga bisa sukses kok. Jadi para pembuat film Indonesia mungkin perlu menemukan cara untuk mengemas tema-tema tersebut dengan sentuhan lokal agar dapat diterima dengan baik oleh penonton.

Pada akhirnya, dominasi film horor Indonesia yang bertema setan merupakan hasil dari gabungan faktor budaya, kreativitas para pembuat film, dan preferensi penonton. Meski demikian, industri film horor Indonesia terus berkembang. Para sineas terus berinovasi dan mengeksplorasi tema-tema baru. Siapa tahu di masa depan kita akan melihat semakin banyak film horor Indonesia yang mampu membuat kita merinding dengan cerita-cerita segar dan tak terduga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun