Ronny Noor
Ronny Noor Geneticist

Pemerhati Pendidikan dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Hijau Pilihan

Harimau Sumatera Kini Kian Termarjinalkan

7 Desember 2017   08:38 Diperbarui: 7 Desember 2017   13:24 17256 17 9
Harimau Sumatera Kini Kian Termarjinalkan
Harimau Sumatera yang hidup di Taman Nasional Bukit Barisan. Photo: Matthew Scott Luskin

Jika kita berbicara langkanya harimau Sumatera, maka tentunya hal ini bukan hanya merupakan permasalahan Indonesia saja namun sudah menjadi  masalah  dunia mengingat jenis satwa liar yang satu ini masuk dalam kategori langka dan status populasinya sedang menuju kepunahan.

Berbagai upaya memang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam mengurangi laju kepunahan harimau Sumatera, namun tampaknya usaha ini belum berdampak, bahkan status populasi harimau Sumatera ini makin mengkhawatirkan.

Hasil studi terakhir yang dilakukan oleh para peneliti dunia yang baru saja dipublikasikan di salah satu jurnal paling bergengsi dunia Nature Communication  menunjukkan bahwa harimau Sumatera yang dikenal nama latinnya sebagai Panthera tigris sumatrae  keberadaannya semakin  termajinalkan dan jika tidak diambil langkah penyelamatan yang drastis, maka satwa liar ini sudah dapat dipastikan akan menuju kepunahan.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa hanya tinggal dua populasi harimau Sumatera ini yang diperkirakan akan dapat bertahan dalam jangka panjang dengan catatan habitatnya tidak terusik oleh manusia. Di wilayah yang dilindungi, populasi harimau Sumatera memang mengalami peningkatan, namun secara keseluruhan jumlah harimau Sumatera mengalami penurunan yang drastis.

Ironisnya dari hasil studi ini mengungkap bahwa faktor yang paling berperan dalam penurunan populasi ini adalah pembangunan jalan jalan baru dan juga perluasan perkebunan kepala sawit disamping tentunya perburuan liar yang masih berlangsung sampai saat ini.  Penelitan ini juga mengungkapkan bahwa habitat harimau Sumatera terus tergerus oleh perluasan perkebunan kelapa sawit.

Sebagai gambaran,  laju penuruan populasi harimau Sumatera ini mencapai 17% pada periode tahun 2000-2012 dimana pada tahun 2012 diperkirakan jumlah harimau Sumatera ini hanya tinggal 618 ekor saja.

Habitat harimau Sumatera yang semakin menciut mengakibatkan kelangkaan harimau Sumatera. Sumber: Nature.com
Habitat harimau Sumatera yang semakin menciut mengakibatkan kelangkaan harimau Sumatera. Sumber: Nature.com

Di beberapa wilayah yang dilindungi jumlah harimau Sumatera betina produktif  kini hanya tinggal 30 ekor saja yang menyebabkan resiko kepunahan satwa langka ini menjadi semakin besar. Dengan jumlah seperti ini walaupun ada harimau Sumatera yang dipelihara dan dikembangbiakkan di berbagai kebun binatang utama dunia, harimau Sumatera statusnya terancam punah.

Pada tahun 2012 di taman nasional Seblat Kerinci ini jumlah harimau betina produktif hanya tinggal 42 ekor saja . Photo: Matthew Scott Luskin
Pada tahun 2012 di taman nasional Seblat Kerinci ini jumlah harimau betina produktif hanya tinggal 42 ekor saja . Photo: Matthew Scott Luskin

Mengingat tergerusnya habitat alami harimau Sumatera yang memiliki daya jelajah yang sangat luas ini, diperkirakan sampai dengan tahun 2017  jumlah populasinya akan terus menurun.

Perlu kita renungkan semua bahwa harimau Sumatera kini tidak saja menjadi milik Indonesia, namun sudah menjadi milik dunia karena keunikan satwa langka ini.

Konflik antara kepentingan ekonomi dengan upaya pelestarian satwa liar memang sudah manjadi masalah klasik yang sudah belangsung lama.  Kedua kepentingan ini seharusnya dapat diseimbangkan dalam arti bahwa kepentingan ekonomi berupa pembukaan lahan baru untuk perluasan tanaman industri harus dapat  menjamin proteksi habitat harimau Sumatera dan satwa langka lainnya seperti orang utan, gajah badak, dll.

Namun sayangnya hilangnya habitat alami satwa liar secara drastis ini seringkali terjadi karena ketidak seimbangan kedua kepentingan ini dimana kepentingan ekonomi seringkali lebih dominan.

Disamping itu kurangnya pengawasan di lapangan membuat semakin menciutnya habitat harimau Sumatera  yang tentunya berdampak langsung pada penurunan populasi.

Semoga pihak yang berwenang dapat menyimbangkan kedua kepentingan ini, sehingga ke depan Indonesia yang dikenal dunia sebagai  negara yang memiliki megadiversitas ini tidak hanya tinggal kenangan saja.

Rujukan:Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima