Intan Rosmadewi
Intan Rosmadewi lainnya

Pengajar, Kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain ; sesungguhnya adalah kebaikan untuk diri kita sendiri QS. Isra' ( 17 ) : 7

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Sensasi Menyaru Menuju Raudah

17 Oktober 2014   13:30 Diperbarui: 17 Juni 2015   20:41 130 4 9
Sensasi Menyaru Menuju Raudah
14134522791041609889

Panggilan ibadah haji, telah di serukan sejak zaman Nabi Agung Ibrahim AS dengan kalimat ringkas






“Dan proklamasikanlah haji itu kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepada mu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru (dunia) yang jauh”


(QS. Al Hajj /22 : 27)



Demikian Allah SWT, memanggil hamba Nya lewat Nabi Ibrahim AS sejak itu manusia dari seluruh dunia berjuang untuk bisa menjawab panggilan Nya.



Sepintas Persiapan Menuju Tanah Suci


Jamaah haji Indonesia gelombang II seluruhnya saat ini masih berada di Mekkah, berdasarkan jadwal pemberangkatan menuju Madinah akan di mulai pada 14 oktober 2014,  (googling .metro) sedangkan kloter 68 kabupaten Bandung, jamaah hajinyaakan di berangkatkan dari Mekkah menuju Madinah sekitar 23 oktober 2014.



Sebagai mana program standardi Madinah al Munawarrah jamaah stay ± selama 10 hari, melaksanakan ziarah – ziarah diantara yang terpenting adalah ziarah ke makan Rasulullah saww.


Sejak awal pemberangkatan jamaah haji Indonesia perasaan mendidih dan bergolak, nangis . . . di batin saat menyaksikan tayangan televisi, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada senin ( 1 September 2014 ) jam 04.30 melepas 11 Kloter calon jama’ah hajji dari Pondok Gede Jakarta – Timur.


Saat menyaksikan tayangan tersebut betapa muncul potongan kenangan – kenangan seperti slide otomatis berjalan dan berjalan terbayang hangat . . . diantaranya: persiapan Ibadah Haji yang panjang, mulai administrasi seperti ktp, kk ( kartu keluarga ), buku nikah, keterangan domisili, paspor, surat keterangan vaksin meningitis dan 40 lembar pas foto dengan macam – macam ukuran, demikian pun mundar mandir ke bank yang kita pilih hingga pelunasan usai kemudian menunggu selama tiga tahun akhirnya berangkat dari Asrama Haji Bekasi pada 2011.


Tiga tahun . . . mm ; sungguh masih kurang demi persiapan menghafal do’a, memahami sejarah tempat – tempat mulia, memahami rangkaian demi rangkaian ritual hajji plus hukum wajib, rukun dan sunah mendetail agar tidak terkena dam ( denda ) karena lalai tidak faham hukum, sungguh sayang jika saja beribadah tanpa ilmu.


Persiapan ilmu, dana,mental dan spiritual goal – nya adalah Perjumpaan dengan Nya secara simbolis di alam dunia ( Padang Arafah ) dengan harapan dapat wukuf sesempurna mungkin


Terbayang pun saat ini . . . tentu, seluruh calon jama’ah hajji Indonesia yang telah sampai ke Madinah tengah khusyu’ melaksanakan ibadah shalat wajib lima waktu perdelapan hari yang populer dikenal dengan Arbaiin, ibadah – ibadah sunnah di Mesjid Nabi dan shilah Ar rahiim dengan seluruh calon jamaah hajji Indonesia atau dengan tetangga serumpun Malaysia bahkan dengan masyarakat Internasional bisa saja kita dengan bebas berkomunikasi tanpa menguasai bahasa apapun, maka bahasa tarzan menjadi sedemikian ampuh dan berdaya guna.



Yatsrib Ketika Itu ;


Jika telah sampai di Madinah, maka masjid Nabawi menjadi center of interest, tidak dapat di pungkiri karena sejarahnya yang penting dan bermakna, khusus sejak Rasulullah saww hijrah dari Mekkah ke Yatsrib saat itu, kota ini tempat bermukimnya masyarakat yang sungguh – sungguh butuh pembinaan dan penempaan iman dan dikenal dengan sebutan jahiliyyah, kemudian nama Yastrib di rubah menjadi Madinah al Munawarrah‘kota yang berlimpah cahaya’ oleh sang Nabi , perubahan nama ini pun menjadi satu strategi brillian sebagai peletakan dasar psickologis bagi masyarakatnya yang kelak Madinah menjadi pusat kebudayaan dan pusat kekhalifahan.


Khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman menjadikan kota ini sebagai ibu kota pusat pemerintahan shahabat – shabat pilihan Rasul kecuali Khalifah Ali Bin Abi Thalib yang mengambil Kufah – Iraq sebagai pusat pemerintahan beliau.(googling.wikipedia)



Salah satu kebermaknaan Masjid Nabawi dikenal karena :


Masjid ini di bangun oleh sang Rasul Agung diatas ketakwaan, tidak ada pesona kemewahan yang muncul saat itu bahkan di bangun ala kadar nya oleh tangan – tangan Rasul sendiri di bantu oleh para shahabat beliau yang mulia, dinding – dindingnya di buat dari bata dan tanah dengan ukuran 50 x 50 m dan atap – nya terbuat dari daun - daun kurma yang kering, tinggi sekitar 3.5 m sedang tiang – tiang penyangganya adalah batang kurma.






[caption id="attachment_348131" align="aligncenter" width="622" caption="Raudah, di Mesjid Nabawi"]

14134537831169302481
14134537831169302481
[/caption]

Bisa kita bayangkan betapa sederhana nya bangunan tersebut. Tentunya sangat berbeda jauh dengan kondisi Masjid Nabawi saat ini.(googling. kaskus)


Menuju Raudah ;


Daya pikat utama Masjid Nabawi adalah Raudah, para jamaah akan menjadwal kunjungan utamanya ke makam Rasulullah, maka Raudah ditinjau dari posisinya, yaitu antara makam dan mimbar Nabi jaraknya sekitar 144 m persegi.


Secara fisik Raudah memang berbeda dengan tempat sujud lainnya di sekitar mesjid Nabawi, tampak dari karpet dan lampu – lampu yang artistik sangat indah, tentu saja jamaah nisa dan rijal tidak pernah sepi menyerbu lokasi Raudah ini.


Di sekitar Raudah karpet berwarna hijau, sedangkan yang tidak termasuk Raudah karpet berwarna merah,


Rasulullah sendiri yang menyebutkan bahwa Raudah adalah “Taman Syurga” ; beliau menyampaikan dalam haditsnya“diantara rumahku dan mimbarkuadalah sebagian Taman Surga”( Muttafaqun Alaihi ).


Dalam sejarahnya, dikisahkan bahwa Rasulullah biasa melaksanakan ibadah shalat wajib dan shalat – shalat sunah lainnya di wilayah Raudah.


Dalam Buku Pintar Haji dan Umrah Iwan Gayo, menguraikan bahwa :


Pengertian Raudah sebagai “Taman Syurga”pada hadits diatas terdapat beberapa pendapat para ahli, antara lain sebagai berikut :


1.Bahwa Allah SWT menurunkan rahmat – Nya dan berbagai kebahagiaan di tempat itu dilakukan dzikir dan peribadahan kepada Allah, yang karenanya tentu saja di janjikan syurga.


2.Tempat itu kelak setelah kiamat benar – benar akan dipindahkan oleh Allah ke Syurga,sehingga ia menjadi bagian dari Taman Syurga yang hakiki


3.Orang – orang yang pernah berdo’a di Raudah akan melihat – nya di Syurga (p. 282)


Tiga poin tersebut menjadi motivasi yang teramat kuat bagi seluruh jamaah hajidunia untuk ziarah ketempat ini ( Raudah )


Jamaah haji seluruh dunia, tentu saja tidak terlalu mengamati secara seksama panjang dan luas seputaran Raudah, apalagi jama’ah nisa disamping jadwal ziarah yang relatif sangat terbatas yaitu ba’da dhuha hingga menjelang dzuhur dan ba’da isya, namun Iwan Gayo memperkirakan bahwa, luas Raudah itu berdiameter sekitar 22 meter x 15 meter, yakni jarakantara rumah Nabi dan Mimbarnya ± 22 meter dan panjang ke belakang ± 15 meter”



Adalah dorongan perasaan yang mendesak seakan tidak bisa di tunda lagi, ingin mencoba ziarah ke Raudah saat ba’da isya memikirkan tentang kekhusyu’an jenis apa yang akan didapatkan . . . manis – manis madu jika dapat di ibaratkan pada jenis minuman, mencoba sesuatu yang berbeda, sendiri . . .tak ingin mengajak jama’ah lainnya. Alone . . .tampak berasa akan lebih bermakna, demikian perkiraan hati.


Menyusuri karpet demi karpet tebal, branded mahal sempurna mengikuti petunjuk arah berhurufkan Arab gundul dan bahasa Inggris yang cukup jelas, sendiri diantara ribuan makhluk Nya menuju tujuan yang sama makam sang Nabi dan mimbar beliau.


Yang ada difikiran bagaimana cara cepat menembus Raudah, sedemikian banyak jamaah dan . . .aturan para asykar ( semacam satpam) nisa mereka mengklasifikasikan jamaah Malaysia plus Indonesia, Turki, India dan bangsa – bangsa Arab –tampak agak lebih di prioritaskan dan mendapat perhatian khusus, meskipun rasanya ini sangat subyektif akan tetapi demikian terasa mencolok sikap para asykar nisa saat di lapangan.


Malaysia dan Indonesia sedemikian banyak saat itu perkiraan penulis sekitar± 300 – 700 an jamaah haji nisa, dengan intonasi Arab yang kental para asykar berteriak – teriak,“Indonesiaduduk . . . Indonesia duduk” maksud mereka kepada jamaah haji Indonesia untuk tidak tergesa – gesa menunggu antrian yang menuju ke Raudah.


Penulis menyapu pandangan, rupanya yang paling dekat gerbang menuju Raudah adalah jamaah haji dari India, tampak jelas dari perawakan bangsa India yang tinggi – tinggi tentu saja ciri yang sangat khas adalah tindik hidung para wanita India.


Tanpa fikir panjang, saat itu memang penulis berbusana warna hitam, kerudung hijab warna hitam plus pashmina warna hitam, sesungguhnya pemilihan warna yang serba hitam adalah sesuatu yang diluar kesadaran namun tampaknya ini adalah sebuah keberuntungan.


Maka dengan segera pashmina hitam dililitkan menutupi wajah, hanya kedua mata dibiarkan tidak tertutup untuk memudahkan penglihatan, keluar dari kelompok haji Asia dan menyelinap dalam kerumunan menuju rombongan India, mereka hampir mendekati gerbang Raudah.


Sedang jamaah haji Indonesia dan Malaysia menurut perhitungan kasar tentu mereka semua antri di posisi saat itu membutuhkan waktu sekitar satu jam !!


Jamaah India masing – masing sibuk berusaha dan bergegas menuju Raudah, menggenggam hati membara seakan ingin berjumpa dan tidak ingin tertinggal dengan sang kekasih Nya.


Umumnya mereka tidak menyadari ada satu jamaah Indonesia yang menyusup bergabung bersama mereka dalam rombongan yang cukup besar sekitar ± 500 – 700 orang ; satu dua tampak curiga lewat tatapan mata tajam dan curiga demi menyaksikan perawakan penulis yang nyaris kate di bandingkan dengan perawakan Ibu – ibu India ini, untuk menghindari kecurigaan jamaah haji India meluas dan akan terjadi kegaduhan diantara mereka karena yakin ada penyusup, penulis mendekati seorang tua sekitar 80 tahunan yang tidak membawa apapun di kedua tangannya, maka penulisberlagak akrab menggandeng dan bersama – sama seakan ia adalah keluarga dekat lalu membaca doa dan untaian shalawat menuju Raudah.


Berhasil menggaet sang nenek untuk memfokuskan fikirannya kepada buku do’a yang selalu di bawa penulis dan berusaha se rapih mungkin agar tidak memancing kecurigaan rombongan jamaah dari India.


Subhanallah Raudah itu ada disini . . .dan disini, bukan hanya sekedar mimpi indah ataupun khayalan, maka di tengah gelombang kerumunan manusia yang saling berdesakan kami semua jamaah haji mempersembahkan do’a ziarah pada sang Nabi diantara do’a itu :






[caption id="attachment_348192" align="aligncenter" width="494" caption="QS. al Isra (17) : 80 "]

1413500764373081296
1413500764373081296
[/caption]




waqul rabbi adkhilnii mudkhala shidqin wa-akhrijnii mukhraja shidqin waij'al lii min ladunka sulthaanan nashiiraan










"Dan katakanlah :  "Ya Tuhan - ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong" (17 : 80)





[caption id="attachment_348193" align="aligncenter" width="492" caption="QS. al Isra (17) : 81"]

[/caption]

waqul jaa-a alhaqqu wazahaqa albaathilu inna albaathila kaana zahuuqaan



"Dan katakanlah : "Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap"  Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap"















Kami semua saat itu lebur dalam do’a, shalawat, shalat, aura ke nabian dalam kalbu memancing air mata berderai mengingat semua tentang Rasul yang Agung dalam akhlak dan Ibunda Khadijah yang setia dalam cinta, entah dalam bentuk apa kami dapat mempersembahkan cinta ini wahai Nabi . . .


Segera saja air mata ini di hapus pashmina hitam dan menggandeng sang Nenek India dalam gelombang jamaah yang juga riuh menuju arah keluar.


Semua buyar tidak ada kecurigaan tentang penyusup berbusana warna hitam, dan bahkan para asykarpun berbusana warna kebangsaan tanah arab hitam, sedangkan si nenek India masih bersama dengan isyarat perpisahan penulis memeluknya dan kami berpisah diantara pembatas Raudah.


Jama’ah Asia khususnya Indonesia dan Malaysia masih belum tampak, tentu dengan sabar mereka semua menunggu saat antrian tiba, sedang malam  telah menunjukan 21. 45


Wahai Nabi, iringan shalawat ini . . . jadikan washilah bagi kami untuk segera kembali dapat mengunjungi mu tahun ini, tahun yang akan datang dan setiap tahun. Amiin



22 Dzulhijjah 1435 H / 16 Oktober 2014 M












Referensi :


Iwan Gayo H. M. Buku Pintar Haji dan Umrah. Jakarta : Pustaka Warga Negara. 2012


https://news.metrotvnews.com/read/2014/10/08/302214/pemulangan-



https://id.wikipedia.org/wiki/Madinah
https://www.kaskus.co.id/mengintip-keindahan-masjid-nabawi )


(https://www.kaskus.co.id/thread