Mohon tunggu...
Ropiyadi ALBA
Ropiyadi ALBA Mohon Tunggu... Guru - Tenaga Pendidik di SMA Putra Bangsa Depok-Jawa Barat dan Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan MIPA Universitas Indra Prasta Jakarta

Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat, membaca dan menulis untuk pengembangan potensi diri dan kebaikan ummat manusia.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Sebuah Auto Kritik

18 Oktober 2021   21:38 Diperbarui: 18 Oktober 2021   21:50 130 9 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber gambar: Jurnal Medan

Sebagai seorang muslim, kita semua pasti sepakat bahwa tidak ada manusia yang paling baik akhlaknya selain baginda Nabi Muhammad S.A.W. Beliaulah manusia pilihan Allah S.W.T yang diutus sebagai penutup para nabi yang membawa misi rahmatan lil 'alamin. Tidak ada sesuatu yang dapat menghinakannya, karena beliau telah dimuliakan oleh Zat Yang Paling Mulia. 

Tidak ada sesuatupun yang dapat mengecilkannya, karena beliau telah dibesarkan oleh Zat Yang Paling Besar. Keindahan akhlaknya dapat melembutkan hati yang keras dan beku, sehingga risalahnya dapat tersebar keseluruh penjuru dan diterima oleh setiap hati yang merindukan kedamaian.

Bulan kelahirannya selalu diperingati setiap tahun oleh seluruh umatnya di berbagai penjuru dunia. Beliaulah sosok pemimpin yang tak lekang dimakan zaman. Pemimpin yang pertama kali merasakan lapar dan yang terakhir kali merasakan kenyang. 

Rasa cintanya kepada ummat, melebihi rasa cintanya kepada diri sendiri dan keluarganya. Sampai-sampai ketika ajal menjelang, bukan isteri, anak, atau keluarganya yang dipanggil, justru kita selaku ummatnya yang diingat dan diberinya wasiat.

Kurang lebih 15 abad silam telah berlalu, sampai kini ajarannya masih diikuti oleh sekitar seperempat penduduk bumi.  Mereka datang dari latar belakang yang beragam, suku dan ras yang berbeda, tetapi merasa dalam satu kesatuan yang tunggal yaitu sebagai ummat Muhammad S.A.W. 

Namun begitu, kalau kita mau melakukan autokritik, sesungguhnya saat ini kesatuan akidah yang dimiliki ummat Islam belum mengarah kepada persatuan dalam langkah membangun peradaban Islam. Kita masih terbuai pada perbedaan-perbedaan yang sifatnya furu'iyah, namun melupakan persamaan yang sifatnya ushul.

Masih banyak di antara kita yang mempeributkan hukum perayaan maulid, apakah bid'ah atau sunnah. Bagi pihak yang terbiasa merayakan peringatan maulid, sering terjebak pada prilaku seremonial dan ritual belaka. 

Tidak jarang kita temui di mimbar-mimbar maulid seruan untuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad S.A.W melalui pelaksanaan sholat lima waktu berjamaah, namun kenyataannya berkata lain. 

Ketika peringatan maulid selesai menjelang waktu sholat, maka banyak jamaah yang membubarkan diri dan tidak mengikuti pelaksanaan sholat berjamaah. 

Bahkan ironisnya, tak jarang sang penceramahpun meninggalkan tempat kegiatan, tanpa sholat berjamaah terlebih dahulu, dengan alasan ada kegiatan lain yang harus dihadiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan