Mohon tunggu...
NoVote
NoVote Mohon Tunggu... Mohon maaf jika tak bisa vote balik dan komen
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Terimakasih

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Ayo Mas Nadiem, Kita Semua Program dengan "Persamaan Rasa"

13 Maret 2020   09:34 Diperbarui: 13 Maret 2020   09:40 248 27 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ayo Mas Nadiem, Kita Semua Program dengan "Persamaan Rasa"
Facebook Pelajar Kreatif - Home | Facebook

Yang pernah sekolah pasti juga pernah merasa bagaimana rasanya liburan. Seneng bangetkan? Kalau saya jelas seneng banget. Bisa puas di rumah, puas jalan-jalan, puas berlibur, puas tidur pula.

Tapi kalau liburnya bukan karena hari libur tapi karena wabah viris corona bagaimana? Tetap di rumah tapi masih wajib belajar. Di mana enaknya? Sudah sendirian tak ada teman, belajar seperti biasa lagi. Sebellah rasanya.

Persis apa yang terjadi di Wuhan ini. Karantina akibat wabah virus corona di Wuhan, China memaksa sekolah untuk tutup dan murid-murid dirumahkan. Tapi mereka tetap harus mengikuti pelajaran secara online dari rumah menggunakan aplikasi bernama DingTalk. (Detik.com, 11/3/2020)

Anak-anak memberikan bintang satu dan ulasan jelek pada aplikasi tersebut. Ternyata anak-anak di Wuhan tahu rumor yang menyebut aplikasi dengan bintang satu akan ditendang dari Apple App Store. Ungkapan kekesalan karena tidak bisa sekolah atau memang karena kebiasaan main-main dan bercanda pada anak di Wuhan. Entahlah.

Yang jelas, DingTalk sampai membuat video berisi permintaan maaf yang diunggah di Bilibili, layanan streaming di China. Video tersebut telah ditonton hampir 17 juta kali dan berisi meme dan kartun dengan lirik yang memohon ulasan lebih baik.

Coba, alangkah dahsyatnya pekerjaan anak. Jika mereka bersepakat, bahkan DingTalk pun mengkhawatirkan aplikasinya ditendang dari Apple App Store.

Kasus DingTalk telah memberikan gambaran kepada kita betapa dahsyatnya kekompakan, kebersamaan, dan persatuan mereka. Meski sepertinya hanya karena "persamaan rasa" mampu merepotkan DingTalk.

Bagaimana peserta didik kita? Mampukah Mas Nadiem membuat gebrakan yang menjadikan "persamaan rasa" pada peserta didik kita?

Langkah gemilang Mendikbud dengan merdeka belajarnya, compassion, computation skill, hybrid skill, sekolah penggerak, dan pelajar pancasila tinggal mencari "gong" dalam sebuah gerakan yang memunculkan "persamaan rasa" pada peserta didik.

Langkah perubahan dan perbaikan kurikulum, anggaran pendidikan dalam penambahan dan perbaikan sarana dan prasarana sekolah, kepala sekolah dengan program sekolah penggerak, dan peserta didik dengan "Pelajar Pancasila" sepertinya sudah lengkap. Tinggal satu lagi yang belum yaitu moto yang membangkitkan "persamaan rasa" menjadi pemicunya.

Bagaimana menjadikan peserta didik memiliki "persamaan rasa" yang membuat mereka benar-benar merdeka belajar. Apa pun sebutannya, yang penting mampu menggerakkan rasa peserta didik untuk berubah kearah yang lebih baik dari sekarang. Tak ada lagi kekerasan di sekolah, tak ada lagi perundungan, pelecehan, tawuran, dan sebagainya.

Ketika dahulu "Ayo Sekolah" pernah menggaung karena banyaknya peserta didik yang keluar dari sekolah akibat biaya pendidikan yang dianggap masyarakat miskin terlalu berat. Datanglah program beasiswa PKH bagi mereka.

Bagi peserta didik yang jauh dari akses sekolah ada program SMP Terbuka memberikan peluang kepada peserta didik untuk kembali ke sekolah.

Nah, untuk ke depannya setelah sekolah gratis dengan penambahan anggaran BOS dan gelontoran anggaran pendidikan yang begitu banyak dan sudah dinikmati oleh banyak sekolah berupa rehabilitasi bangungan yang mulai rusak. Penambahan gedung baru bagi yang kelasnya kurang, bantuan mebair peserta didik sudah daapt dinikmati.

Kami para guru menanti sebuah moto yang memantik "persamaan rasa" baik dari guru maupun peserta didik sehinga compassion, hybrid skill, sekolah penggerak, dan "Pelajar Pancasila" mampu kita wujudkan bersama.

VIDEO PILIHAN