Mohon tunggu...
Rony K. Pratama
Rony K. Pratama Mohon Tunggu... Ilmuwan - Peneliti Pendidikan di Yogyakarta

Peneliti Pendidikan di Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mentradisikan Menulis, Melisankan Gagasan Ilmiah

21 Mei 2016   17:52 Diperbarui: 21 Mei 2016   17:56 209
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Mentradisikan Menulis Ilmiah

Pada mulanya berawal dari ide abstrak yang terniang di dalam ruang pikiran. Atas usaha sadar untuk menjadikannya “ada”, maka ia ditulis ke dalam huruf yang membentuk suatu makna. Akhirnya, ia pun mewujud pada satuan mikro yang mengandung makna bernama “kata”. Acap kali ide ditandai oleh sebuah kata yang masih umum, universal, dan independen. Karena itu, usaha sadar berikutnya untuk membangun sebuah ide yang operasional ialah menyandingkan beberapa kata sehingga membentuk sistem tata bahasa. Pada konteks demikian, kalimat pun lahir; dan ide yang terniang abstrak sebelumnya telah muncul ke dalam realitas.

Proses munculnya ide hingga kalimat dapat hilang apabila ia didiamkan, diacuhkan, atau pun dihiraukan. Karena itu, usaha sadar untuk menjadikannya “abadi” ialah dengan menuliskannya di selembar kertas. Beberapa penulis yang menggandrungi jagat tulis-menulis tak luput dari kebiasaan mencatat tanpa dibatasi ruang dan waktu. Mereka melakukan hal demikian untuk “memanfaatkan momen tertentu” yang boleh jadi tak akan datang dua kali. Meski momen atas munculnya ide secara tiba-tiba itu tak langsung berguna di rentang waktu yang bersamaan, namun ia—setidaknya—akan berguna di hari depan jika dibutuhkan dan relevan dengan topik tertentu yang hendak didedah lebih lanjut.

Pengejawantahan ide ke dalam bentuk tulisan dapat diuraikan secara komprehensif melalui dua pendekatan di antaranya memuat unsur “ilmiah” dan “fiksi”. Pendekatan pertama menitikberatkan pada dimensi objektif, sistematis, empiris, dan jujur. Jagat akademik mengenalkan konsep pendekatan pertama dengan sebutan karya ilmiah yang dapat diderivasikan menjadi pelbagai macam penyebutan. Meski khalayak akademik menyebutnya secara beraneka ragam, substansi mayor suatu tulisan “ilmiah” tak terlepas dari empat dimensi di atas.

Apabila tulisan “ilmiah” mengandung dimensi objektif, tulisan “fiksi” cenderung bersifat subjektif. Kadar kesubjektifan pada tulisan “fiksi” tercitra pada penggunaan bahasa figuratif yang sarat konotasi. Sementara itu, tulisan “ilmiah” (harus!) dibangun oleh bahasa baku yang lugas dan denotatif sehingga tak cenderung multitafsir bagi pembaca. Karena itu, menulis “ilmiah” dapat dikatakan “gampang-gampang sukar”, sebab ia harus mengikuti metodologi tertentu yang bersifat instruktif demi mencapai kebenaran objektif.

Selain penggunaan bahasa denotatif, tulisan ilmiah mengandung logika sintaksis—ilmu tentang tata kalimat—yang saling berkelindan satu sama lain. Untuk mencapai kelengkapan kalimat secara utuh dibutuhkan kejelasan struktur yang terdiri dari subjek, predikat, dan objek. Ketiganya merupakan inti dari kalimat, meski ia dapat ditambahkan dengan pelengkap sebagai tambahan. Pada prinsipnya, struktur kalimat tersebut saling terintegrasi satu sama lain. Karena itu, ia harus bersifat “diterangkan” dan “menerangkan”.

Pokok terpenting yang tak boleh dipisahkan dari tulisan “ilmiah” adalah bukti empiris. Ia dapat berupa realitas di lapangan yang diamati oleh peneliti—sang subjek “penulis”—melalui observasi. Selain itu, pelbagai referensi dari buku maupun jurnal “ilmiah” yang telah dipublikasikan oleh lembaga terakreditasi juga termasuk ke dalam kategori ini. Poin kedua ini perlu diperhatikan lebih jeli, sebab tak semua sumber di buku maupun jurnal “ilmiah” relevan dengan kajian yang diteliti. Di samping itu, sumber tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan, baik secara “ilmiah” maupun “moral”.

Banyak pula peneliti atau penulis “ilmiah” tak mengindahkan prinsip di atas, karena ia “terdesak” oleh keterbatasan waktu sehingga perilaku “asal kutip” dilakukan tanpa pertanggungjawaban. Karena itu, perilaku demikian akan berimplikasi pada kualitas tulisan “ilmiah”. Meski hal tersebut terlihat sepele, ia akan mengurangi originalitas tulisan. Boleh jadi suatu tulisan terlihat “ilmiah” karena diperkaya oleh referensi dari pelbagai sumber. Namun demikian, esensi tulisan tersebut sebetulnya “kosong”, karena bejibun kutipan di dalamnya hanya sekadar dekorasi imitatif.

Dimensi kebermanfaatan bagi masyarakat juga menjadi prinsip utama dalam tulisan “ilmiah”. Kalau tulisan “ilmiah” hanya sekadar diupayakan untuk kebermanfaatan individual, maka ia masih berada pada tataran singular. Karena itu, tataran kebermanfaatan dalam konteks demikian sebaiknya diupayakan demi kepentingan plural—jamak atau heterogen. Kebermanfaatan ini diartikan sebagai usaha dalam pemecahan persoalan yang dialami dan/atau terjadi di masyarakat.

Kendati tulisan “ilmiah” yang berusaha merangkul masyarakat sebagai objek kajian, maka dalam proses kreatif kepenulisannya diperlukan kerja bersama. Hasil penelitian yang baik mustahil terlepas dari kerja kolektif yang saling bersinergi. Oleh sebab itu, peneliti harus bersedia untuk membangun kelompok kerja yang solid.

Banyak peneliti yang kurang mampu melakukan kolaborasi pikiran, tenaga, dan waktu demi mencapai hasil maksimal, karena ia cenderung leluasa untuk bekerja sendiri. Karena itu, belajar meneliti atau pun menulis “ilmiah” tak sekadar menguraikan ide abstrak ke dalam tulisan sistematis, objektif, empiris, dan jujur; melainkan juga belajar manajemen waktu, usaha, dan pengolahan raga sendiri dengan orang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun