romensy augustino
romensy augustino Mahasiswa

Etnomusikologi 2014, sekolah di jurusan musik tapi nggak ahli main musik. prespektifku mengatakan musik tidak harus menuntut kamu bermain dengan alat musik atau kecanduan mendengarkannya.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Membuat Ruang Ekslusif

12 Oktober 2018   10:07 Diperbarui: 12 Oktober 2018   10:58 115 0 0

Pecinta sepak bola indonesia sedang berduka. #RIP Haringga masih menjadi trending topik Twitter pasca 4 hari kejadian aksi brutal itu. Haringga Sarli (seorang The Jack Mania) harus meregang nyawa ketika hendak mendukung persija jakarta bertanding. Di Stadion Bandung Lautan Api itulah, ia menghembuskan nafas terakhirnya di tangan 10 orang. Meski pelakunya telah diamankan pihak berwajib, kejadian itu tetap menambah daftar hitam ruang pecinta bola.

Ruang yang selalu diidentikan dengan sebua kebanggaan atas nasionalisme itu menjadi kontradiksi atas fakta di stadion. Nyanyian-nyanyian supoter bagai bius penyemangat justru menjadi anti klimaks ketika melihat rival abadi. Ejekan-ejekan merendahkan, lontaran kalimat permusuhan, hingga rasis menyisip dalam teriakan keras bersama suara drumband yang kian lantang. Simbol-simbol kekuasaan tak lupa mereka hadirkan, bagai bentuk kejumawaan atas kandang sendiri. Seolah mempertegas, "siapa kita."

Fanatisme buta mungkin masih menjadi masalah untuk sadar pada semboyan bhineka tunggal ika. Tak hanya di ruang bola, ruang politik pun juga demikian. Tak terima klah suara, aksi anarkis kadang menjadi pilihan. Mencoba merubah keputusan tanpa berusaha untuk legowo menerima kekalahan. Ekspresi berlebihan yang disadari atau tidak, menggambarkan kecintaan segolongan manusia terhadap suatu hal tertentu yang telah dianggap dan diyakini sebagai suatu hal yang terbaik bagi diri manusia tersebut (Nataliawaty, 2002:27)

Bangsa ini kuat dengan persatuan, dan bukan sikap fanatik atas warna yang justru menojol. Nilai itu coba disiratkan lewat acara bertajuk kampanye damai, Monas, 23/9 lalu. figur terpandang elit politik melilit tubuh mereka dengan balutan tradisi Indonesia. Keramahan tercermin dalam tawa dan gandengan tangan. Dan merpati terbang itu pun mengisyaratkan "jangan fanatik buta, dan janganlah kalian terkukung lagi dalam sangkar yang membatasi pikir."

Cenderung menilai tanpa memperhatikan konteks kejadian masih menjadi masalah di tengah-tengah masyarkat kita. Prasangka-prasangka bersalah dan miss komunikasi menjadi luaran atas dangkalnya proses verifikasi. Pertanyaan pun muncul, apakah itu juga berlaku pada acara pagelaran musik?. Di mana penonton hadir untuk menikmati pertunjukan dengan ekspektasi mereka masing-masing. Terlebih jika telah mengacu pada konteks industri yang selalu menggembar-gemborkan profesionalitas.

Antitesis justru sering terjadi ketika para artis-artis musik iu menanggapi komentar-komentar pedas netizen. Mereka sering kebakaran jenggot, alih-alih mengklarifikasi kesalahan di atas penggung. Namun justru sebenarnya mereka membuka kelemahan mereka sendiri. Langkah "masa bodo" kadang adalah pilihan bijak untuk menaggapi penilaian-penilain spontan yang wajar itu. "Saya selalu hempas komentar netien. Toh komentar mereka tidak mempengaruhi rekening saya," ucap Syahrini di sela konser "Journey of Syahrini" (tempo.co akses pada 27 september 2018).

Konser 10 tahun Syahrini berkarir di Industri Musik tanah air itu mencuri perhatian masyarakat penikmat musik. Harga tiket yang menembus angka 25 juta menjadikan kita terheran-heran, "Dua puluh lima juta hanya untuk konser?." Sebagai seorang yang bukan fans Syahrini saya akan berpikir 100 kali untuk melakukan itu. Ya, karena menurut saya, Syahrini bukanlah penyanyi yang punya tekhnik bernyanyi spesial. Lagu-lagunya terkesan biasa-biasa saja. Tak ada lompatan nada berarti, improvisasi vokal yang cenderung mainstream, dan rasa lagunya terkesan nanggung.  Hits yang ia miliki seperti Sesuatu (2012), Jangan Memilih Aku (2010), dan Seperti Itu (2016)menjadi boom, justru karena pernak-pernik yang melatarinya.

Sesuatu dan Seperti Itu hanyalah sebuah kata yang terlontar dari bibir Syahrini. Keduanya menjadi kekhasan karena hanya ia ynag "pantas" melekukannya. Gimik wajah menggoda serta intonasi nan manja namun tetap glamor, menjadi sesuatu yang sulit untuk disamai orang lain. Nah, keglamoran yang melekat kuat pada dirinya itulah yang membuat orang tak sungkan membayar 15 juta-25 juta. 

Box perhiasan 24 karat, perfume, syal hingga meet and great menjadi bentuk apresiasi kepada para pembeli tiket itu. Ditambah dengan penampilan konser yang tak lebih dari dua jam membuat mereka merasa sepadan dengan jumlah budget yang mereka keluarkan. Dan dengan habisnya tiket yang dijual, bisa dikatan bahwa konser tunggal Syahrini itu sukses.

Syahrini bukanlah sosok penyanyi yang mampu memukau peonton dengan suara, layaknya Rossa, Vina Pandu Winata, Atau Agnes Mo. Kesuksesan konser tunggalnya itu adalah akibat dari kecerdasan dia menggiring opini masyarakat dalam bingkai pikirannya. Ia tak pelu tekhnik-tekhnik dalam bernyanyi, karena itu bukan senjata ampuh bagi dirinya. Saya pun sependapat dengan Najwa Shihab tentang masalah ini, "Cuma Syahrini yang bisa bikin pamer buka lagi Riya' tapi pamer adalah pertunjukan itu sendiri" (tempo.co akses pada 28 september 2018).

Ruang Syahrini begitu menjadi eksklusif karena ia mampu membuat ruang yang ia inginkan. Begitu pula denga ruang pencinta dan para elite politik. Ruang-ruang itu memiliki keesklusifannya masing-masing. Dan pertanyaanna kemudian, "apakah ketika kita terjun dalam sebuah ruang berproses, kita hanya akan mengekor?, atau kita buat ruang itu lebih indah dengan keberadaan kita." Perlu untuk kita renungkan.