romensy augustino
romensy augustino Mahasiswa

Etnomusikologi 2014, sekolah di jurusan musik tapi nggak ahli main musik. prespektifku mengatakan musik tidak harus menuntut kamu bermain dengan alat musik atau kecanduan mendengarkannya.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Bingkai Internasional Asian Games

3 Oktober 2018   01:26 Diperbarui: 3 Oktober 2018   01:43 163 0 0

Malam itu 19 September 2018, saya dihadapkan pada sebuah simbol pergerakan jurnalistik Indonesia. Motor yang saya kendarai tak bergerak walau hanya sejengkal. Ia ngambek karna asupannya tak terpenuhi. Sementara lagu Indonesia Raya berkumandang dari sebuah kotak suara. Pertanda bahwa hari telah berganti.

Di sebelah kanan terlihat seorang supir becak yang telah sepuh sedang mengistirahatkan tubuhnya di atas becaknya. Beliau besandar pada bangku penumpang sambil memainkan ponsel layar usap yang tak saya tahu merknya. Kotak suara pun kini berganti dengan informasi verbal berseling dengan lagu-lagu pop baru dan lawas.

Di depan becak, tulisan Asian Games Jakarta Palembang 2018 masih menyala terang di depan gedung monumen. Menyiratkan bahwa publik Indonesia masih larut dalam pujian "sukses" setelah event itu ditutup 2/09 lalu. Dan memang secara keseluruhan, penyelenggarann  event akbar itu sukses.

The New York Times, salah satu media besar Amerika Serikat, memuji kapasitas Indonesia yang dinilai berhasil menunjukkan 'Energy of Asia' yang diusungnya dari penyelenggaraan Asian Games kemarin. Mulai dari pembukaan, penyelenggaraan, hingga penutupan, Indonesia mendapat pujian dari dunia internasional (nasional.kompas.com akses pada 22 September 2018).

Ucapan terima kasih layak kita tujukan pada setiap orang yang terlibat, baik atlet, panitia penyelenggara, serta pihak-pihak yang mendukung. Tak lupa kepada media, karena berkat merekalah drama-drama yang tersaji menjadi menarik untuk disimak. Sulapan-sulapan mereka membuat publik terus kepo pada setiap momen yang terbingkai.  Ranah-ranah nasionalis hingga politis yang terus digarap menjadi cerita tersendiri, membuat pagelaran itu lebih banyak warna.

Di panggung besar, dua penyanyi berlabel dangdut didapuk sebagai salah satu pengisi acara pembukaan dan penutupan. Mereka bersanding dengan nama-nama penyanyi berlabel lain seperti Super Junior, Ikon, Rossa, Anggun, Raisa, dsb. Publik dan penikmat musik tanah air pun sadar, kehadiran mereka adalah hal yang menarik untuk diperhatikan.

Penikmat musik Indonesia memang sedang teralihkan dengan kemunculan Via Vallen. Ia mampu membius masyarakat pecinta musik dengan wajah nan cantik dan gaya berbusana kekinian. Bahkan berkat dirinya aksen "hae-hae" yang sering kita dengar di daerah kini menjadi menasional. Membuat pihak televisi tak ragu lagi menghadirkan itu dalam setiap acara musik. Hal itu menjadi pertimbangan untuk tak menahannya berpartisipasi pada pagelaran akbar Asian Games.

Kasus serupa tapi tak sama pun menimpa Siti Badriyah. Menempatkannya pada list penampil agaknya berdampak pada perhatian penonton yang lebih. Lagu lagi syantik yang ia lantunkan begitu dekat dengan kesaharian kita. Tak nyaman rasanya sehari tanpa membuka aplikasi berback sound, "emang lagi syantik, tapi bukan sok syantik". Pastinya, kita akan selalu terbayang-bayang dengan aplikasi "sebelum Bowo terkenal" itu. Maka tak heran, lagu Lagi Syantik begitu banjir tontonan di Youtube, hingga menembus angka lebih dari 350 juta viewers.

Latarbelakang itu cukup untuk membuat pihak penyelenggara memilih keduanya tampil di Asian Games. Meski sebenarnya panitia memiliki banyak opsi penyanyi berlabel dangdut. Penyanyi layaknya Elvi Sukaisih, Soimah, Rita Sugiarto, atau Rara (juara 2 LIDA 1) bisa lebih dipilih jika penilaiannya didasarkan pada tekhnik vokal. Ya, penyanyi-penyanyi itu lebih mahir dalam melantunkan cengkok dangdut daripada Via maupun Siti. Hal itu nampak jelas ketika mereka bergulat di salah satu ajang pencarian bakat Liga Dangdut Indonesia. Acara yang mencoba kembali menghadirkan lagu-lagu dangdut klasik seperti, Bunga Pengantin, Seujung Kuku, dan Mata Hati. Lagu-lagu yang menurut saya kental dengan nuansa dandgut, berkontradiksi dengan Meraih Mimpi dan Lagi Syantik.

Orang awam pun akan sadar bahwa dua lagu yang sedang tren itu bukanlah lagu dangdut. Kesan dangdut hanya datang dari latabelakang penyanyinya. Versi asli Meraih Mimpi dan Lagi Syantik justru lebih mengarah pada Pop, dan Sedikit sentuhan R&B. Tak ada suara "tung maupu dhah", hilangnya pola kopyok, dari keyboard dan gitar, serta semua pola ritmis musiknya tak menyentuh kesan "dangdut"sama sekali. Kedua lagu itu justru lebih kental dengan nuansa POP dan sedikit R&B, dibalut dengan style "kekorea-koreanan."

Memang, kini sedang tren lagu dangdut dengan vokal pop dengan sangat membatasi gaya cengkok. Cengkok sudah tak lagi dipermasalahkan, karena selera publik yang menuntut gaya vokal yang lebih sederhana. Ambil contoh saja lagu Bojo Galak, Sayang, atau Goyang Dumang. Lagu-lagu itu pernah booming di tengah-tengah masyarakat. Dan perhatikan vokal dari setiap penyanyinya. Adakah cengkok yang menjadi khas dalam lagu itu? Jawabannya adalah tidak. 

Karena kembali lagi, lagu itu berada dalam bingkai industri kapitalisme nasional yang kurang menginginkan musik dangdut di daerah muncul apa adanya. Semua distandarkan pada apa yang disebut mereka "berkelas." Maka tengoklah yang terjadi pada penampilan live Via dan Siti. Keduanya tak mendapat apresiasi yang cukup dari publik. Mereka dihujat, dikritik pedas oleh nyinyir-nyinyir netijen karena penampilan mereka yang tak memuaskan hasrat penonton.

Menempatkan mereka dalam list penampil Asian Games tidak ubahnya seperti kosmetik bagi para wanita. Benda itu hanya diperuntukkan untuk menarik perhatian. Bukan sebagai inti dari bangunan tubuh yan utuh. Melainkan hanya untuk memperlihatkan "gebyar" yang akan mendatangkan banyak masa. Adlin dan Kurniasih menyatakan dalam buku Menggeledah Hasrta, "Dengan kosmetik perempuan tampak lebih cantik. Tapi itu adalah kepalsuan, karena kosmetik bukan lagi sekedar unsure material, tetapi juga telah menjadi semacam alat bagi kalangan industri kecantikan untuk menguasai subjek agar selalu menuruti apa yang mereka tawarkan. Sebuah ironi kecantikan yang dianggap sebagai alat eksistentsi, namun justru mematikan subjek dari dirinya sendiri." 

Dan wajarlah jika para netijen itu nyinyir-nyinyir, meski mereka kadang dianggap hanya berkomentar tanpa memperhatikan konteks atau apa yang terjadi di belakang. Sebagai seorang penonton, mengetahui hal di belakang panggung adala tidak penting. Saya pun tak akan mau peduli dengan itu. Yang kami inginkan adalah sebuah kesempurnaan di atas panggung dengan cara pandang kami. "Kau gak perfect, kau jelek."

Ya, karena menonton itu untuk mencari sebuah kepuasan batin atas figur yang diidolakan. Dan pertanyaan, "Lho kok gini ya? kok gini sih penampilannya?", adalah sesuatu yang wajar, dan sangat manusiawi. Penonton punya ekspektasi yang terbingkai dalam selera-selera mereka. Begitu pula sebaliknya, pihak penyelnggara Asian Games juga punya ekspektasi yang terbingkai pada kata "internasional", yang tercermin pada setiap bagian pementasan. Dan yang kita lihat pada 18 Agustus, dan 2 September lalu tak ubahnya pertunjukan internasional menurut panitia penyenggara.

            Lalu bagaimana pertunjukan internasional itu sebernarnya? Apakah didasarkan pada ikut andilnya negara-negara luar dalam pagelaran, segi konsep pertunjukan yang mewah atau hanya sekedar branding saja?. Layak untuk kita pikirkan bersama, apakah penting mengkelaskan itu. Kuwi.