Travel Pilihan

Memaknai Makam Syekh Maulana Ibrahim Maghribi di Pantaran Boyolali

11 September 2018   17:09 Diperbarui: 11 September 2018   17:18 369 1 0
Memaknai Makam Syekh Maulana Ibrahim Maghribi di Pantaran Boyolali
Dokumentasi pribadi

Kehadiran agama Islam di Indonesia terjadi setelah 9 tahun rasulullah Muhammad SAW memproklamirkan dakwahnya secara terbuka. Sebagai bukti, sebuah arsip kuno dari Tiongkok mencatat, bahwa ditahun 625 Masehi ada sebuah perkampungan Islam di pulau Sumatera tepatnya di Barus. Dengan bukti tersebut, maka klaim Barus sebagai kota tua tidak terbantahkan. Barus terletak dipesisir Sumatera. 

Sekarang masuk kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Wilayah ini dulu merupakan pusat peradaban di abad 1 sampai 17 Masehi. Perdagangan membuat Barus menjadi kondang dan bahan perbincangan para saudagar dunia karena adanya komoditas unik, yaitu kapur berbau sangat harum disamping rempah-rempah. 

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Saking dibutuhkannya, kapur dari Barus ini menjadi mahal dan diburu para pedagang, terutama pedagang  Arab dan Persia sebagai bahan utama untuk pengobatan. Sebutannya menjadi brand, kapur Barus. Bahkan sampai sekarang yang bukan dari Barus disebut kapur Barus. Generasi 45 sampai 80 an pasti tahu dengan kapur barus. Kalian yang millenial tahu nggak?

Sedangkan para penyebar Islam di jawa sudah ada sebelum pra Wali Songo. Diantaranya Syekh Maulana Ibrahim Maghribi. Dari namanya kita tahu kalau beliau berasal dari  Maroko (Maghribi), dibenua Afrika sisi utara.

Para ahli sejarah Islam menyimpulkan, bahwa beliau adalah penyebar Islam generasi pertama di Indonesia. Benarkah? Lalu, apa arti keberadaan perkampungan Islam di Barus? Apakah mereka sekedar dagang dan tidak menyebarkan Islam? Biarkan para ahli menjawab.

Kita kembali ke Syekh Maulana Ibrahim Maghribi. Beliau seorang sufi dengan karomah sungguh luar biasa. Kedatangan beliau di pulau Jawa telah menjadi kisah tersendiri hingga menanamkan kesan positif dihati rakyat. 

Saking cintanya, mereka sampai membuat petilasan dimana beliau pernah menyepi (dalam hal ini mungkin sama dengan hijrah?). Diantara banyak tempat yang disinggahi beliau yaitu Pantaran Boyolali. Daerah ini dikaki gunung Merbabu. Tidak heran, jika pengunjung akan mendapati sosok Merbabu begitu dekat. Persis dibelakang makam.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Sebelumnya mari kita bahas tentang makam beliau. Benarkah beliau di makamkan di Pantaran? Kalau kalian mengatakan 'Iya', siap-siaplah akan didebat pendukung lain yang fanatik. 

Akan terjadi saling klaim. Sebenarnya tidak perlu jika kita mau memaknai arti makam? Atau maqam? Gegara sok tahu (padahal tidak paham. Hanya ngeyel, termasuk saya). Di akar rumput-yang ilmu sejarah serta bahasanya geblek-"gontok-gontokan" masalah makam sampai menghabiskan teh nasgitel (panas legi kentel) bergelas-gelas.

Makam (menurut KUBI: Kamus Umum Bahasa Indonesia dan KBBI: Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah kuburan. Sedangkan Maqam adalah tingkatan. Di Ensiklopedia Islam, Cyril Classe memberi arti maqam adalah tempat berdiri (stasiun spiritual) kesalehan sikap.

Merujuk dari arti tersebut, akan mempermudah kita dalam memaknai petilasan Di Pantaran.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dikisahkan, setelah melakukan perjalanan yang begitu jauhnya, sampailah Syekh pada pulau yang begitu hijau. Sebuah tempat dengan banyak gunung api bersisian dengan kesuburan. Begitu gampang rasa lapar dibilas dengan buah-buah yang betebaran. Haus diusap tegukan air dipancuran.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Menjumpai penduduk pulau menganut Hindu, lainnya Budha rukun damai hidup berdampingan membuat kaki beliau terus bergerak. Suara kalbu seorang sufi membuat beliau menjadikan intuisi arah angin. Berhari-hari lelaku jalan mengasah batin hingga sampailah di kaki gunung Merbabu.

Disinilah beliau mendapat wangsit untuk mengendap cukup lama. Kondisi geografis yang sejuk, bahkan cenderung dingin, serta keberadaan air yang cukup berlimpah dari puluhan sumber menjadi alasan lain.

Kehadiran beliau ternyata menarik keingintahuan penghuni di sekitaran gunung. Dari satu, dua, hingga berbondong-bondong bersua dan berbicara dari hati kehati.

Disinilah, Islam menjadi sesuatu yang menarik bagi mereka. Dibimbing dan sematkanlah wajah muslim dihati mereka. Menimba ilmu agama jadi lelaku mereka usai bercocok tanam. Setelah dirasa cukup beliau mengamanatkan mereka agar menjaga tempat tersebut, karena gelaran dakwah masih harus lanjutkan.

Akhirnya, mereka membuat tanda sebagai petilasan sang pengelana dari Maroko itu.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Jadi, di Pantaran merupakan Maqam Syekh Maulana Ibrahim Maghribi,  bukan makam dalam arti sebenarnya. Karena setelahnya, akan diketahui kalau maqam beliau juga ada di Bayat Klaten, Cirebon, Parangtritis Jogjakarta, Wonobodro Batang, Pekalongan, Tuban.

Jadi makam beliau sebenarnya dimana? Tepatnya Saya,"Tidak Tahu!". Namun Kabar yang  berkembang di masyarakat, makam beliau ada di desa Gapuro Sukolilo kabupaten Gresik Jawa Timur?

Teori lain muncul, para penyebar Islam generasi awal seangkatan Syekh Maulana Ibrahim Maghribi mempunyai nama hampir mirip. Yaitu, Syekh Maulana Kubro, Syekh Maulana Ahmad, Syekh Maulana hasannudin, Syekh Maulana Muhammmad Ali Akbar, dan kesemuanya asalnya dari Maghribi. 

Karena itu penduduk yang lugu menganggap sesuatu yang asalnya dari Maroko dianggap orang yang sama. Para Syekh menyebar menetap, ketika meninggal  dikubur ditempat masing-masing. Jadi di gerbang petilasan tertulis MAKAM (bukan maqam) SYEKH MAULANA MAGHRIBI. Ada yang ditambahi Malik atau Ibrahim.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2