Wisata Artikel Utama

Pesona Rate Nggaro yang Menakjubkan di Siang Hari

13 Maret 2018   21:38 Diperbarui: 15 Maret 2018   00:00 1556 7 6
Pesona Rate Nggaro yang Menakjubkan di Siang Hari
Dokumentasi Pribadi

Menyebut Rate Nggaro, bagi masyarakat Sumba dan Nusa Tenggara Timur umumnya, terlebih yang suka travelling (jalan-jalan) bukan nama yang asing lagi.  Demikian juga bagi para wisatawan baik domestik maupun manca negara yang pernah ke Pulau Sumba.

Rate Nggaro adalah salah satu destinasi favorit di Sumba. Bukan baru saat ini, tapi sudah sejak lama. Ia bagaikan seorang gadis cantik yang terus diburu.

Nama Rate Nggaro memang sudah sangat populer dan sejujurnya selalu menggetarkan kalbuku serta menggoda khayalku ketika menyebut namanya. Mengapa, karena kisah tentang nenekku, baik keturunan ayah maupun ibuku, berasal dari wilayah itu. 

Aneh memang, sebagai putera asli Kodi dan sampai dengan usia seperti saat ini, saya belum bergemining sedikitpun untuk mengunjungi tempat itu.

Tapi tak dinyana, pagi hari, Selasa 13 Maret 2018, ketika teman-temanku, para kaum pewarta, menghubungi dan mengajakkku untuk ke Rate Nggaro, hatiku begitu bergairah untuk ke sana.

Di pagi yang cerah itu, sekitar pukul 09.30 Wita, saya dan empat temanku, berangkat dengan hati gembira. Tidak terasa, hanya sekitar satu jam, setelah roda kendaraan kami berputar tak ada halangan melalui jalanan beraspal, kami sudah memasuki kawasan Rate Nggaro, Desa Maliti Bondo Ati, pemekaran baru dari Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Mbangedo.

Parona Rate Nggaro

Ketika memasuki kawasan Rate Nggaro, saya menoleh ke kiri di sisi selatan jalan raya. Di sana tampak sebuah desa adat, Parona atau kampung adat menurut sebutan kami di Sumba. Puluhan rumah adat dengan konstruksi berjoglo berdiri kokoh di dalam pagar batu yang disebut atur. Di bagian dalam pintu gerbang Parona terlihat beberapa mobil yang dipangkir.

Saya mengajak teman-temanku untuk mampir sebentar di Parona itu. Saat kami memasuki pintu gerbang, tampak sebuah tenda sederhana di antara rumah-rumah adat. Kami turun dari kendaraan dan inilah untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Parona yang bernama Rate Nggaro ini.

Di tenda itu sedang dilaksanakan kegiatan sosialisasi "Sadar Wisata". Kegiatan ini dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Barat Daya dengan menghadirkan narasumber yaitu seorang dosen pariwisata dari Sekolah Tinggi Pariwisata di Denpasar, Bali, I Nyaman H dan Kapolsek Kodi Mbangedo, I Nyoman Miasa. Tampak hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata, Kristofel Horo, SH dan stafnya serta para tokoh adat pelaku pariwisata.

Kami menyempatkan diri untuk mengikuti  kegiatan ini. Setelah kegiatan ini dibuka secara resmi  oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Drs. Martinus Bulu, kedua narasumber tadi menyampaikan materi sosialisasinya masing-masing. 

I Nyoman H, menyampaikan topik berkaitan dengan Sapta Pesona. Sedangkan I Nyaman Miasa, memaparkan bahan sosialisasi berkaitan dengan jaminan keamanan di obyek pariwisata.

Sementara kegiatan sosialisasi ini berlangsung, saya dan teman-temanku, mulai memantau kondisi Parona Rate Nggaro. Kemudian kami konsentrasi di sisi selatan barat daya Parona. 

Ternyata Parona ini berdiri di atas bibir tebing terjal, sisi timur tenggara Mananga (muara) Rate Nggaro yang indah menakjubkan. Terus terang di sini saya agak ekstra was-was. Khawatir terpeleset dan meluncur ke muara. Karena di sisi ini tidak ada pagar batunya.

Dari posisi tersebut, kami dapat menikmati dan memotret kecantikan, keunikan dan keindahan Parona Rate Nggaro beserta batu-batu kubur megalitnya. Disamping itu kami juga terpana menyaksikan sambil mengabadikan kemolekan muara dan pantai Rate Nggaro di sisi barat serta kawasan Parona Wainyapu di seberang di atas daratan sisi selatan.

Pantai Rate Nggaro

Sekitar dua jam kami di Parona Rate Nggaro. Kemudian kami pamit kepada dua bapak muda yang setia mendampingi kami saat itu. Kami juga pamit kepada peserta sosialisasi tersebut. Sedangkan Mateus Raya Katoda, Kepala Desa Maliti Bondo Ati, masih sempat mengantarkan kami sampai ke pintu gerbang Parona.

Kemudian kami bergegas menuju Pantai Rate Nggaro, yang jaraknya tidak jauh dari Parona Rate Nggaro, sekitar 500 meter. Hanya sebentar saja, untuk pertama kalinya juga saya menginjakkan kaki di Pantai Rate Nggaro.

Di sini kami juga takjub terpesona menikmati wajah unik Pantai Rate Nggaro yang cantik. Di atas daratannya yang berbentuk tanjung dan tidak seberapa luasnya, berdiri kokoh kuburan-kuburan batu megalit yang cukup tinggi  dan sudah berumur ratusan tahun sehingga tampak nilai kekunoannya. 

Belum lagi beberapa batu lempeng kuno yang terhampar di atas permukaan tanjung ini, yang juga adalah kuburan para leluhur tempo dulu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2