Rofinus D Kaleka
Rofinus D Kaleka Penulis

Putra Kodi, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ulang Tahunku Mendamaikan Sahabat-sahabatku

19 Januari 2018   01:30 Diperbarui: 19 Januari 2018   01:46 264 1 1
Ulang Tahunku Mendamaikan Sahabat-sahabatku
dokumentasi pribadi

Ibarat tiada hujan tiada angin, di pagi yang indah, meskipun sementara musim hujan,   tapi cukup cerah tanpa hujan, tiada terduga beberapa sahabat sudah merapat ke pondok saya, kamis kemarin. Ada dua kelompok yang datang pagi itu.

Begitu saya melihat mereka, baru saya sadar bahwa hari itu saat ulang tahunku. Maklum orang kampung, tinggal di kampung lagi, belum pernah merayakan ulang tahun, meski pesta yang sederhana sekalipun.

Kelompok pertama tidak sampai sepuluh orang. Mereka datang hanya membawa hati dan mencium saya. Tentu cium al'a Sumba. Ujung hidung saya bersentuhan dengan ujung hidung mereka.

Belum lagi kami menikmati air panas, begitu istilah kami untuk menyebut minum kopi atau teh manis panas, tiba pula kelompok kedua. Kelompok kedua ini datang bukan hanya membawa hati saja tapi juga membawa kue ulang tahun a'la kadarnya. Mereka segera menyalakan lilin di atas kue tersebut sambil menyanyikan syair lagu selamat ulang tahun.

Ketika mereka meminta saya untuk menyalakan lilin ulang tahun itu, saya manfaatkan untuk menyampaikan sesuatu kepada para sahabatku itu. "Terimakasih banyak untuk surprise hari ini. Kue dan lilin ulang tahun ini merupakan yang pertama untuk saya sepanjang hidupku sampai di usia yang cukup matang ini. Saya percaya ini adalah bukti cinta dan kasih sayang para sahabatku semuanya atas diri saya pribadi dan keluargaku," demikian awal tuturanku. Para sahabatku itu terlihat tenang dan sangat sabar mendengarkan.

Kemudian lanjutku, "Lilin yang menyala ini saya tidak akan tiup dan mati. Biarlah ia menyala dan memberi cahaya sampai tuntas. Sebab lilin dan cahayanya ini, seumpama perjalanan hidup kita. Kita lahir dengan cinta dan kasih sayang. Dasar ini harus menjadi cahaya sepanjang perjalanan hidup kita, dimanapun kita berada, berkarya dan bergaul serta berkomunikasi dengan sesama kita. Cahaya cinta dan kasih sayang harus membawa kedamaian dalam hidup kita, dalam keluarga maupun bersama sesama dan sahabat kenalan. Cahaya itu tidak boleh dimatikan sebelum perjalanan hidup kita tuntas." Saya lihat wajah para sahabatku itu semakin tenang dan damai. Bahkan beberapa di antara mereka sudah ada yang matanya berkaca-kaca.

Lilin masih menyala namun tinggal sedikit lagi akan padam. Lalu saya lanjutkan lagi, "Perhatikanlah lilin ini, kendati tinggal sedikit lagi yang tersisa tapi masih menyala dan memberi cahaya. Perjalanan hidup kita sendiri masih panjang. Jangan berhenti membawa cahaya dan kedamaian. Perhatikanlah pula sahabat-sahabatmu di kiri dan kananmu, apakah engkau masih mencintai dan menyayanginya. Apakah engkau masih menganggapnya sebagai sahabatmu. Bila masih ada cahaya dalam dirimu, maafkanlah, ampunilah kesalahannya. Jangan hanya karena nila setitik, merusak susu sebelanga."

Lilin tinggal satu yang hidup. Para sahabatku itu sudah banyak yang terisak. Suaraku pun sudah bergetar. Tanda bahwa kami semua merasa punya beban. Kami lambat mendamaikan tiga sahabat kami. Satu laki-laki ada dalam kelompok pertama. Satu laki-laki dan satu perempuan ada dalam kelompok kedua. Mereka berselisih sudah cukup lama. Gara-garanya hanya komunikasi yang kurang baik begitu.

Lilin sudah mati, satu persatu antre mencium saya. Setelah itu, saya minta mereka, satu persatu, yang unior mendahului mencium yang senior. Tidak ada yang menolak. Sampai tuntas.

Sungguh hari itu saya bahagia dan beryukur. Karena Tuhan berkarya melalui ulang tahunku. Sehingga sahabat-sahabatku bisa berdamai.

Terimakasih Tuhan. Atas cinta dan kasih sayangMu kepada diriku, keluargaku dan sahabat-sahabatku.

Rofinus D Kaleka *)