Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu...

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Beda Nasib Kartini-Kartono

23 April 2013   03:40 Diperbarui: 24 Juni 2015   14:46 0 4 23 Mohon Tunggu...
Beda Nasib Kartini-Kartono
1366663142850480320

[caption id="attachment_239493" align="aligncenter" width="314" caption="Sosok Kartono, kakak dari Kartini (Nulisbuku.com)"][/caption]

Sewaktu masih kecil, saya dan tema-teman sebaya sering bergurau mengenai keberadaan sosok Kartini, namun tidak adanya sosok Kartono. Itu terjadi saat kami yang masih berseragam sekolah dasar mengikuti peringatan Hari Ibu Kartini, setiap 21 April. Sosok yang semasa hidupnya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 gencar menyuarakan emansipasi wanita atau persamaan derajat.

Maklum, pada hari kelahiran sosok bernama asli Raden Ajeng Kartini itu, selalu dirayakan di sekolah dengan memakai busana adat daerah masing-masing. Waktu itu sekitar pertengahan 1990-an, saya masih ingat bersama puluhan murid lainnya berlenggak-lenggok di depan halaman sekolah. Ada yang mengenakan baju adat Jawa, Betawi, Sunda, Minang, Toraja, dan lainnya.

Alhasil, saat itu, kami mulai bertanya-tanya, kenapa hanya setiap kelahiran Kartini yang seorang perempuan. Tapi, tidak ada peringatan untuk Kartono, yang notabene seorang pria. Pertanyaan itu terus membekas sampai belasan tahun lamanya. Bahkan sempat terlupa seiring rutinitas telah berganti, akibat kegiatan yang kian padat setiap harinya.

Hingga, beberapa hari lalu, saat hendak membuat sebuah tulisan tentang sosok seperti Kartini di Kompasiana, tapi gagal akibat referensi kurang lengkap. Akhirnya menemukan sosok yang selama ini saya cari. Itu terjadi ketika sedang berselancar di dunia maya mencari info mengenai Kartini. Tanpa sengaja terdapat hasil pencarian yang mirip namun sedikit berbeda: Kartono.

Ya, sosok bernama lengkap Raden Mas Panji Sosrokartono itu, ternyata merupakan kakak kandung Kartini. Alhasil, terjawab sudah rasa penasaran saya selama ini yang akhirnya menyadari, ada Kartini (tentu) ada juga sosok Kartono. Apalagi, setelah Senin lalu membaca artikel di majalah Tempo 22 April, yang mentuurkan riwayat Kartono, edisi khusus Kartini.

*      *      *

Hanya, setelah hampir seharian membaca majalah setebal 170 halaman yang identik dengan investigasi itu, terdapat perbedaan nasib antardua saudara. Terutama karena Kartono lebih beruntung karena berhak mengenyam pendidikan tinggi hingga Belanda dengan dukungan penuh sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Sementara, Kartini sejak berusia 12 tahun sudah harus dipingit, dan tidak boleh keluar rumah.

Impian sekolah di "Negeri Kincir Angin" sekaligus bertemu sahabat penanya, Letsy Detmar, kandas akibat doktrin saat itu. Maklum, di zaman feodalisme, kedudukan pria dianggap lebih tinggi dibanding perempuan. Apalagi, Kartini harus dijodohkan dengan kerabat sang ayah, yang menjabat sebagai bupati Rembang, Adipati Djojoadiningrat, yang sudah mempunyai tiga garwo ampil atau tiga selir dengan tujuh anak.

Sementara, Kartono berhasil menamatkan belajarnya di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Eropa, Leiden University, Belanda, jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Terlebih, sosok yang berusia dua tahun lebih tua dari Kartini ini, berhasil menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku Nusantara, yang membuatnya dijuluki "Si Genius" oleh teman-temannya. Bahkan, pria kelahiran 10 April 1877 ini merupakan sosok pribumi pertama yang meraih gelar sarjana.

Bahkan, Kartono merupakan orang Indonesia pertama yang pandai mengusai banyak bahasa (Polyglot), Kelebihan itu membuatnya sempat menjadi wartawan di salah satu surat kabar ternama di Amerika Serikat, New York Herald Tribune. Bahkan, Kartono dipuji mantan Wakil Presiden RI pertama, Mohammad Hatta, sebagai salah satu manusia cerdas dari Indonesia.

*      *      *

17 September 1904, Kartini harus meregang nyawa di usia muda, 25 tahun. Itu terjadi setelah empat hari sebelumnya Kartini melahirkan anak semata wayangnya, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat. Kelak, putra tunggalnya itu menjadi seorang pejuang Indonesia melawan penjajahan Belanda dan Jepang, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.

Meski hidupnya singkat, tapi Kartini berhasil memberikan peninggalan penting bagi bangsa ini. Melalu persamaan derajat perempuan, yang tetap dikenang abadi. Di alam sana, mungkin beliau tersenyum karena pemikirannya menjadi tonggak bersejarah. Terutama karena hampir 100 tahun kepergiannya, sudah tidak ada lagi seorang istri yang mlaku ndodok -alias ngesot- di depan suami dan anak sendiri.

Di sisi lain, Kartono tetap meneruskan perjuangan Kartini. Kendati dengan cara sedikit berbeda. Beberapa tahun setelah kematian adik tercintanya, Kartono menjadi Kepala Perguruan Taman Siswa di Bandung dan menjadi senior aktivis pergerakan seperti Sukarno (Presiden RI pertama), Mr. Sunario Sastrowardoyo (mantan Menteri Luar Negeri), Mr. Usman Sastromidjojo (mantan duta besar RI), dan lainnya.

Selain sebagai wartawan dan pengajar, Kartono juga ahli dalam bidang pengobatan. Bahkan, sebelumnya, dia menjabat sebagai kepala penerjemah Liga Bangsa-Bangsa (sebelum PBB) di Jenewa, Swiss pada 1919. Alhasil, bagi saya, baik Kartono maupun Kartini sama-sama seorang tokoh pejuang meski Kartono belum ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, selayaknya sang adik.

Terima kasih untuk kawan-kawan Kompasianer yang telah memberi koreksi dan tambahan mengenai tulisan ini.

*      *      *

Referensi: - Manungguling Ilmu dan Laku (Kompas.com) - Proyek Patung Sosrokartono Terindikasi Korupsi (Antaranews.com) - Si Jenius Pujaan Adik (Majalah Tempo, 22 April 2013)

*      *      *

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2