Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu...

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Pengalaman Seru Naik Panser Anoa TNI AD

6 Oktober 2013   02:56 Diperbarui: 24 Juni 2015   06:56 0 4 3 Mohon Tunggu...
Pengalaman Seru Naik Panser Anoa TNI AD
13809819051049032125

[caption id="attachment_270447" align="aligncenter" width="491" caption="Suasana di atas Panser Anoa (www.kompasiana.com/roelly87)"][/caption] Naik Panser? Wow itu bisa jadi salah satu pengalaman yang mengesankan. Sebelumnya, itu hanya bisa dilihat di televisi atau koran dan internet, kini menjadi kenyataan. Setidaknya, itu yang saya alami saat menghadiri pameran Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) TNI Angkatan Darat di Monas, Sabtu (5/10). Acara yang menjadi bagian dari HUT TNI ke-68 itu memang sudah pernah saya ikuti dua hari sebelumnya, Kamis (3/10). Namun, ketika itu keberadaan saya di Monas tidak begitu lama karena ada pekerjaan mendadak. Alhasil, saya hanya bisa menyaksikan berbagai peralatan tempur berupa kendaraan dan senjata tanpa mencobanya sama sekali. Khususnya menaiki salah satu kendaraan lapis baja terkenal buatan bangsa sendiri: Panser Anoa. Ya, mobil berbentuk kubus dengan senjata lengkap di bagian atasnya itu produksi Pabrik Alat Peralatan Angkatan Darat (PT Pindad) yang merupakan anak usaha dari BUMN. Berbeda dengan kendaraan tempur lainnya yang dipamerkan di Monas seperti Tank Leopard, Helikopter (Bell 412), Truk misil (MLRS Astrol), dan peluru kendali (Mistral). TNI sangat mengistimewakan Panser Anoa yang boleh dinaiki masyarakat umum, khusus pada saat pameran berlangsung dan gratis! Tentu, siapa yang tidak tertarik dengan kendaraan lapis baja yang sangat legendaris tersebut. Termasuk saya yang sangat penasaran karena Kamis sebelumnya batal naik Panser yang diberi nama berasal dari hewan khas Sulawesi tersebut.

*      *      *

Kemarin, sebelum matahari mulai menampakkan senyumnya, saya sudah berada di Monas yang lokasinya memang tidak jauh dari rumah. Kebetulan, Sabtu merupakan hari libur yang biasanya sepanjang hari saya isi dengan tiga hal: Jalan-jalan termasuk mengikuti berbagai acara yang diadakan Kompasiana, tidur seharian, dan mencuci pakaian. Hanya, sesampainya di Monas, ternyata Panser Anoa baru bisa dijalankan pada pukul 09.00 WIB. Terpaksa saya harus menunggu empat jam lagi karena untuk kembali ke rumah rasanya tanggung. Apalagi, saya khawatir kebablasan tidur sampai sore hingga tidak mempunyai kesempatan menaik Panser Anoa. Akhirnya, saya menggunakan jurus pamungkas: Sabar. Apalagi, pepatah mengatakan, orang sabar itu disayang Tuhan. Atau kalau di film Negeri 5 Menara yang pernah saya tonton setahun lalu, "Man jadda wajada, Man shabara zhafira, dan Man saara ala darbi washala," yang berarti, Siapa yang bersungguh-sungguh dia berhasil, siapa yang bersabar akan beruntung, dan siapa yang berjalan di jalannya akan sampai tujuan. Sambil mengisi waktu, saya pun berkeliling Monas dan mengunjungi setiap stan dan beberapa panggung yang ada di pameran Alustista tersebut. Mulai dari stan Kavaleri TNI Angkatan Darat, Artileri, Infantri, Penerbangan, Perhubungan, Polisi Militer (PM), Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad), hingga yang awalnya tampak seram tapi ternyata mengasyikkan karena petugas yang jaga sangat ramah: stan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Hampir setiap stan yang ada saya mencoba peralatan dan kendaraannya, seperti Panser Anoa yang masih terparkir rapi, Tank Leopard, deretan Helikopter, peluru kendali jarak jauh ATGM NLAW buatan Inggris, hingga berpose di depan mobil milik Proklamator Indonesia, Soekarno. Selain itu, saya juga turut menghampiri beberapa stan lainnya yang mendukung pameran Alutsista, misalnya dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Donor Darah yang ditangani tim medis TNI, dan tak lupa, Inbox. Di panggung utama juga terdapat suguhan Tari Saman Denrudal-003, Tari Remong (Yonarhanudse-10), band Chandraca Ajen (Kopassus), Marawis (Yonif-203), dan Band Kartika (Denma Mabes AD). Pada saat bersamaan, salah satu anggota TNI yang berlaku simpatik dan sangat ramah, Sersan Mayor (Serma) Sulistyono, memberitahu kalau di Lapangan Udara Halim Perdana Kusumah sedang dilangsungkan upacara peringatan HUT TNI ke-68 yang jatuh tanggal 5 Oktober. Sosok berambut cepak dengan pangkat balok empat siku itu menyebut jika di Monas hanya berlangsung pameran Alutsista, di Halim lebih meriah. Karena ada atraksi pesawat tempur (berbeda dengan Helikopter di Monas yang hanya jadi pajangan), demo terjun payung dan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta Panglima TNI Jenderal Moeldoko. Namun, saya kurang begitu tertarik, selain lokasinya dari Monas ke Halim lumayan jauh. Juga karena niat saya yang utama ingin menaiki Panser Anoa, tidak lebih. Maklum, sebagai manusia, saya harus tahu batas, mana yang menjadi tujuan utama dan dipilih terlebih dulu. Meski, pilihan itu harus membuat saya kehilangan kesempatan menyaksikan atraksi heboh di Halim. Sebab, menurut Sulistyono, tahun depan saat perayaan puncak HUT TNI ke-69 bukan diadakan di Jakarta, melainkan Surabaya.

*      *      *

Tak terasa setelah puas berkeliling sambil mengabadikan ratusan momen yang ada dan mencicipi berbagai peralatan serta persenjataan tempur, akhirnya tiba juga untuk naik Panser Anoa. Ya, berdasarkan penuturan anggota TNI yang mengemudikannya serta dipanggil "Dan" -akronim Komandan-, Panser Anoa merupakan salah satu kendaraan tempur termutakhir. Mobil lapis baja yang sekilas berjenis mirip jip dengan perbedaan ukuran rodanya yang superbesar dan banyak ini, menjadi andalan militer Indonesia. Termasuk ikut dikirimkannya dalam Operasi Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon. Tampak beberapa pengunjung Monas sangat antusias menaiki Panser Anoa, pria dan wanita, mulai dari anak kecil, remaja, hingga orang dewasa. Tidak ketinggalan puluhan murid SD yang baru pulang dari sekolah berebut untuk naik. Beruntung, di setiap Panser Anoa terdapat dua anggota TNI yang bertugas memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung saat naik atau setelah berada di atasnya agar tidak terjatuh. Usai mengantre, tak lama kemudian Panser Anoa mulai berjalan dengan perlahan mengelilingi Monas melewati berbagai panggung dan stan yang ada. Meski saat itu udara sangat terik, dan di atas Panser lumayan panas karena terbuat dari baja, namun tidak menyurutkan antusiasme pengunjung Monas, termasuk saya. Sebab, kapan lagi bisa ikut berbaur dengan TNI dan menaiki kendaraannya kalau bukan sedang berlangsung pameran.

*      *      *

Sekadar informasi bagi kawan Kompasianer yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Pameran Alutsista TNI AD ini berlangsung sejak Rabu (3/10) hingga esok Senin (7/10) dan masuknya gratis alias tidak dipungut biaya sama sekali. Hanya, disarankan jika membawa anak kecil, khususnya balita agar lebih hati-hati, karena faktor udara yang panas dan pengunjung yang cukup ramai hingga berdesak-desakan. Selain bisa berinteraksi dengan anggota TNI dan menyaksikan peralatan dan persenjataan tempur yang biasa digunakan saat perang, termasuk berkesempatan menaiki Panser Anoa. Juga terdapat beberapa lomba berhadiah, panggung hiburan, donor darah, edukasi militer, parade foto, dan seleksi perekrutan jika ada anggota keluarga yang ingin mendaftar sebagai calon anggota TNI. Di bawah ini beberapa foto yang saya jepret saat berlangsungnya pameran, berdasarkan urutan mulai dari awal kedatangan hingga selesai.

*      *      *

[caption id="attachment_270448" align="aligncenter" width="491" caption="Rombongan TNI tiba untuk melakukan persiapan pertunjukan tari"]

13809819721552911376
13809819721552911376
[/caption]

*      *      *

[caption id="attachment_270449" align="aligncenter" width="491" caption="Salah satu mobil pertama RI pada era 1940-an"]

1380982040907645848
1380982040907645848
[/caption]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x