Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Tapak Tilas Hari Kemerdekaan di Museum Prangko

17 Agustus 2012   04:27 Diperbarui: 25 Juni 2015   01:38 597 2 0
Tapak Tilas Hari Kemerdekaan di Museum Prangko
13451694261950694514

[caption id="attachment_193614" align="aligncenter" width="614" caption="Salah satu koleksi prangko kemerdekaan dengan gambar pembacaan naskah proklamasi"][/caption] "Prangko itu unik, selain dahulunya sebagai tanda bukti pembayaran berkirim surat, juga untuk dikoleksi yang tak lekang tergerus zaman. Sejak akhir abad 20, banyak penggiat prangko yang mengabadikan kertas kecil ini sebagai sebuah kenangan masa lalunya," ucap seorang kawan penggiat filateli.

*      *      *

Berkunjung ke Museum Prangko, di Taman Mini Indonesia Indah, pada Kamis (16/8), merupakan salah satu kenangan berharga bagi saya. Niat awalnya untuk melihat pameran prangko bertema Disney, karya Ibu Christie Damayanti, akhirnya dapat menyaksikan beberapa koleksi bersejarah di Museum yang diresmikan tahun 1983 itu. Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, saya  menyempatkan untuk melihat beberapa koleksi prangko bertema perjuangan. Sekitar 500-an prangko yang tersusun rapi dalam beberapa etalase di dalam ruangan Museum. Di keterangan yang tertera dalam katalog, terdapat beberapa tahun terbit prangko resmi sejak Indonesia merdeka. Mulai era 1945-1949 pasca Kemerdekaan, era 1974-1979 masa Pelita III yang ditandai dengan puncak prestasi Indonesia di dunia olahraga, hingga era 2000-an saat ini. Dengan hanya mengeluarkan Rp 2.000 untuk membeli tiket masuk Museum Prangko, saya pun dapat berkeliling menyusuri areal seluas 9.590 m2, bersama dua kawan Kompasianer lainnya, Om Valentino dan Mbak Avis. Koleksi prangko lawas dari dua Proklamator Kemerdekaan, Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta, tertata apik bersama ribuan prangko lainnya. Atau, yang tak kalah mengejutkan adalah ketika saya melihat koleksi prangko terbitan tahun 1947, bergambar pembacaan teks proklamasi kemerdekaan oleh Presiden Soekarno. Prangko yang diterbitkan dahulu seharga 15 sen itu, tepat dibawahnya terdapat lukisan perobekan bendera warna biru Belanda untuk digantikan bendera Indonesia berwarna merah putih di Hotel Yamato, Surabaya, pada  18 September 1945. Tidak hanya itu, koleksi museum yang digagas almarhum Ibu Tien Soeharto ini, juga terdapat beberapa patung petugas Pos Indonesia, serta Pramuka anak-anak yang sedang melakukan kegiatan filateli. Berikut ini adalah beberapa foto yang saya ambil saat mengunjungi Museum Prangko, sore kemarin (16/8).

*       *       *

[caption id="attachment_193617" align="aligncenter" width="614" caption="Prangko Dwi Tunggal Proklamator Indonesia"]

1345169466720687391
1345169466720687391
[/caption] Koleksi prangko, dengan gambar mantan Presiden Pertama RI, Insinyur Soekarno, dan mantan Wakil Presiden RI, Drs. Mohammad Hatta. Dahulu, prangko ini seharga 25 dan 10 sen, namun saat ini nilainya di pasaran berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah, karena nilai sejarahnya yang tinggi bagi penggemar filateli.

*      *       *

[caption id="attachment_193618" align="aligncenter" width="614" caption="Prangko Kembali ke UUD 1945"]

13451695222059633629
13451695222059633629
[/caption] Koleksi prangko Kembali ke Undang Undang Dasar 1945, yang merupakan landasan utama Bangsa Indonesia. Prangko berwarna putih polos ini, saat diterbitkan dahulu seharga 50 sen, dan kini menjadi salah satu koleksi tak ternilai.

*      *       *

[caption id="attachment_193619" align="aligncenter" width="461" caption="Seri prangko Kemerdekaan terbitan tahun 1945-1949"]

13451696161153986208
13451696161153986208
[/caption]

*      *       *

[caption id="attachment_193620" align="aligncenter" width="614" caption="Seri kartu pos dan prangko era 1990-an dengan mantan Presiden Soeharto dan Piala Dunia 1994"]

1345169661706399569
1345169661706399569
[/caption]

*      *       *

[caption id="attachment_193621" align="aligncenter" width="461" caption="Seri prangko 1979 bertema olah raga, Piala Thomas"]

13451697521408080040
13451697521408080040
[/caption] Keberhasilan tim bulutangkis Putra Indonesia, yang menghempaskan Denmark 9-0 tahun 1979 lalu, membuat Rudy Hartono dkk menjuarai Piala Thomas XI yang ketujuh kalinya dan menjadikan Indonesia sebagai negara paling digdaya dibanding Malaysia dan Cina. Untuk itu Perusahaan Umum Pos dan Giro menerbitkan edisi khusus bertema Piala Thomas seharga Rp 100 rupiah.

*      *       *

[caption id="attachment_193622" align="aligncenter" width="614" caption="Seri prangko 1979 bertema olahraga, SEA Games"]

13451697971259076911
13451697971259076911
[/caption] Tahun 1979, dapat disebut sebagai salah satu puncak prestasi olah raga Indonesia. Selain dapat merebut Piala Thomas, "Tim Merah Putih" juga berhasil keluar sebagai juara umum di SEA Games X, yang dihelat di Jakarta, dengan 92 emas dan jauh meninggalkan pesaingnya Thailand (50), Myanmar (26). PT Pos dan Giro Indonesia kembali menerbitkan prangko edisi khusus tersebut seharga 60 rupiah.

*      *       *

[caption id="attachment_193624" align="aligncenter" width="461" caption="Patung Pak Pos sedang mengantar surat"]

1345169852772865463
1345169852772865463
[/caption] Riwayat panjang dunia pos dan giro di Indonesia, sejak tahun 1965, mengantarkan tukang pos sebagai sosok yang ditunggu-tunggu kehadirannya saat menantikan kiriman surat dari Keluarga atau Kawan. Kendati saat ini kegiatan surat menyurat konvensional sudah tergantikan dengan layanan surat elektronik (email) dan berkirim pesan pendek (sms) atau jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter. Namun, tetap saja sosok Pak Pos merupakan salah satu profesi yang selalu diingat akan jasa-jasanya.

*      *       *

[caption id="attachment_193625" align="aligncenter" width="461" caption="Properti sepeda kuno pengantar pos di era 1960-an"]

13451702811908844310
13451702811908844310
[/caption]

*      *       *

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2