Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat?

17 September 2014   00:41 Diperbarui: 24 Maret 2016   06:59 90 0 0

Gayanya tegas, tanpa tedeng aling-aling, ceplas-ceplos, dan apa adanya. Itulah sebagian besar sifat yang dimiliki Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Dalam beberapa tahun terakhir, sosok  yang memiliki panggilan Ahok ini merupakan magnet bagi media setelah Joko Widodo (Jokowi), Dahlan Iskan, dan Ridwan Kamil.

Tentu bukan karena sorotan negatif, melainkan tindakan positif dari keempat pria tersebut yang kalau boleh saya sebut sebagai "F4" atau "Empat Serangkai". Keberadaan mereka telah teruji satu sama lain. Jokowi sebagai Gubernur DKI yang kini menjadi Presiden Terpilih, Dahlan (Menteri BUMN), dan Ridwan (Walikota Bandung).

Namun, dibanding ketiganya, hanya Ahok yang memiliki "sisi lain" nan unik. Itu karena selain vokal, Ahok merupakan sosok yang memiliki prinsip tegas dan tak gentar terhadap lawan-lawan politiknya. Termasuk dari partainya sendiri, Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Slogan "Show must to go on" seperti menjadi bagian dari sikap Ahok yang berarti, apapun yang terjadi, dia tetap pada pendiriannya.

Termasuk ketika sosok berusia 48 tahun ini memutuskan mundur dari Gerindra. Bagi saya, ini yang menarik disimak. Sebab, menurut Ahok,  pengunduran dirinya itu karena tidak setuju dengan keputusan partainya yang menginginkan pemilihan kepala daerah tidak langsung alias melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Maklum, pemilihan kepala daerah lewat DPRD akan membuat sang terpilih menjadi budak anggota dewan dan bukan budak rakyat.

Bagi saya, sikap Ahok itu sangat tepat dan tegas. Itu membuktikannya sebagai salah satu dari sedikit pemimpin di negeri ini yang berani mengambil sikap beda meski harus menghadapi banyak rintangan. A ya A, dan bukan di mulut A padahal hatinya B. Jika Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 digelar hari ini, saya tanpa ragu memilih Ahok yang memang lebih tegas dibanding tokoh lainnya.

*     *     *



Di sisi lain, tindakan Ahok yang memilih keluar dari Gerindra tanpa mengajukan surat pengunduran dirinya menjadi ironi tersendiri. Maklum, bagaimanapun juga Gerindra merupakan partai yang mengusungnya saat Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta 2012. Saya sendiri termasuk satu di dari sekitar 2,4 juta suara yang mencoblos gambar Ahok dan Jokowi.

Salah satu pernyataan Ahok yang bisa jadi saya sesalkan adalah ketika menyebut bukan peran Gerindra yang menjadikannya Wakil Gubernur DKI, melainkan justru Jokowi seperti yang saya kutip dari laman Kompas.com"Yang bisa jadikan saya wagub siapa? Jokowi dong. Saya ini cuma numpang. Kalau saya maju dalam pilkada sendirian, enggak akan laku. Sekarang pertanyaannya, Jokowi menyuruh saya mundur enggak?

Padahal, seperti yang kita ketahui, justru Gerindra merupakan partai yang mengusung Ahok untuk menjadi wakil Jokowi dalam Pilgub DKI Jakarta 2012. Bahkan,  menurut Ketua Dewan Pembina Gerindra, Hashim Djojohadikusumo, pada awalnya Jokowi dan Ketua PDI-P, Megawati Soekarnoputri sempat menolak Ahok. Namun, justru berkat kengototan Prabowo Subianto dalam meyakinkan Jokowi-Megawati, akhirnya sukses menjadikan Ahok cawagub (Kompas.com).

Bagi saya, meski sikap Ahok yang tak sepaham dengan partainya dalam memilih kepala daerah melalui DPRD sangat dibenarkan dan patut diapresiasi. Namun, sangat disayangkan ketika Ahok menyebut keberadaannya kini di Jalan Medan Merdeka Selatan bukan karena faktor Gerindra. Itu seperti halnya dalam adagium lawas, "minum air tidak ingat sumbernya" atau bahasa kasarnya sehari-hari, "kacang lupa kulit".

Okelah jika Ahok menegaskan bahwa dirinya memang dari dulu tidak setia pada partai. Tapi, ya, bukan berarti harus melupakan peran sang pendukungnya dengan dalih "demi rakyat". Sebab, bagaimanapun di dunia ini loyalitas merupakan hal yang utama melebihi segalanya. Dalam hal ini, Gerindra sudah memberikan amanah pada Pilgub DKI lalu dengan menjadikan Ahok wakil Jokowi. Namun, kini Ahok malah berbalik 180 derajat seperti mengkhianatinya.

Sebagai salah satu pemilih dan juga pengagum sikapnya, saya berharap Ahok keluar baik-baik dari Gerindra dengan pamitan dan tidak melupakan peran partai. Sayang banget jika kariernya hanya mentok sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga 2017 menggantikan Jokowi yang menjadi Presiden pada 20 Oktober mendatang.

Kelak, saya bermimpi pada 2019, Ahok dan Jokowi bersaing dalam perebutan kursi menuju Medan Merdeka Utara. Atau, setidaknya, keduanya mampu berkolaborasi seperti saat mengurus Jakarta dalam dua tahun terakhir ini. Satu hal lagi harapan saya, semoga Ahok tidak menjadi sosok Lu Bu dalam Roman legendaris asal Tiongkok, Kisah Tiga Negara (Sam Kok) yang bercerita tentang tokoh antagonis yang rela menjual tuannya sendiri demi ambisi pribadi. Semoga.

*     *     *



- Cikini, 16 September 2014