Mohon tunggu...
Muhammad Rodinal Khair Khasri
Muhammad Rodinal Khair Khasri Mohon Tunggu... Penulis Lepas

Peneliti di Collective Academia/ Co-Founder/ Koordinator Bidang Religious dan Cultural Studies; Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada; sekarang berdomisili di Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Relasi Pemikiran Jean-Jacques Rousseau, Immanuel Kant, dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel

4 September 2019   17:27 Diperbarui: 4 September 2019   17:34 1705 0 0 Mohon Tunggu...

A. Jean-Jacques Rousseau

1. Latar Belakang Pemikiran

Rousseau merupakan salah seorang filsuf yang mempengaruhi pemikiran-pemikiran Immanuele Kant, terutama pemikirannya tentang moral yang dimana poin terpentingnya adalah pada konsepsinya tentang kehendak baik sebagai satu-satunya yang baik. Kehendak baik itulah yang disebut oleh Kant sebagai imperative kategoris.

Jean Jacques Rousseau lahir di Geneva pada tanggal 28 Juni 1712. Ia adalah putra dari seorang pembuat jam. Pada tahun 1725, ia sempat bekerja selama lima tahun pada seorang pengukir, namun beberapa saat setelah itu dia berhenti. Semasa hidupnya, ia juga dikenal sebagai seorang katolik, dan di tahun 1728, ia bergabung dengan sebuah gereja di kota Turin. Dari hal itulah ia mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dalam keimanan katoliknya. (Copleston,1968:59)

Pada tahun 1756 sampai dengan 1762, ia menghabiskan waktu pensiunnya di sebuah perumahan yang terletak di Montmorency. Inilah periode yang paling produktif bagi Rosseau dalam menghasilkan karya-karya monumental. Di tahun 1758, ia menulis sebuah karya yang berjudul Lettre Alembert sur les spectacles. Karya ini ia tulis merujuk pada sebuah artikel di Geneva, dimana artikel tersebut berjudul Encyclopaedia, sebuah artikel yang berisi kritikan d'Alembert terhadap larangan pertunjukan teater di Geneva. Pada tahun 1761, ia juga mempublikasikan novelnya yang berjudul La Nouvelle Hlose. Puncak dari tahun-tahun produktifnya yaitu pada tahun 1762, dimana pada tahun tersebut ia merilis karyanya tentang kontrak sosial (Du contrat social) dan karya lainnya yang membahas tentang pendidikan yang berjudul mile. Selain dua karya besar tersebut, sebenarnya ada sebuah karya lain yang ia rangkum dalam Lettres morales, namun karya tersebut dapat dipublikasikan pada tahun 1861. Karena karya Du contrat social dan mile, Rosseau harus mengungsi ke Switzerland. (Copleston,1968:60-61)

Pemikiran Rosseau dipicu oleh reaksinya terhadap realitas sosial di sekitarnya. Ia benar-benar serius dalam membangun sebuah "retorika serangan" yang ditujukan pada masyarakat yang disebut dengan istilah civilized society. Rousseau menaruh perhatian khusus pada aspek artifisial dalam kehidupan sosial masyarakat. Semenjak masyarakat (society) sebagai sebuah institusi dibentuk, human nature secara fundamental tidak dapat terimplementasi secara maksimal. Rosseau menjelaskan bahwa pada saat itu atau mungkin masih berlaku sampai sekarang, bahwa kita tidak lagi berani untuk menunjukkan siapa sebenarnya kita, akan tetapi malah berbohong di bawah kendali yang abadi. Perilaku setiap individu di dalam masyarakat menjadi sama, sejauh ada motif-motif powerful yang mengintervensi, dan sejauh ada motif-motif kuasa yang mengintervensi. (Copleston, 1968:62)

2. Konsepsinya tentang Keadaan Alamiah Manusia

Manusia alamiah, yaitu manusia yang dilahirkan dari kandungan alam, adalah manusia yang baik, yang senantiasa berbuat sesuai dengan asas-asas yang tetap, yang tidak berubah. Tetapi manusia seperti yang telah dihasilkan oleh hidup bermasyarakat adalah jahat. Oleh karena itu, Rousseau tidak setuju dengan Hobbes yang mengajarkan bahwa perang adalah gambaran riil dari keadaan alamiah manusia. Oleh Rousseau dibantah karena menurutnya keadaan perang itu bukanlah keadaan alamiah manusia, melainkan adalah hasil dari kehidupan bermasyarakat. Di dalam keadaan alamiah, manusia hidup atas dasar dirinya sendiri, kesepian, sendirian di tengah-tengah hutan-hutan yang lebat, serta sadar betul dengan otonominya sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas, terlabih dalam menentukan arah hidup dalam trek kebaikan. (Hadiwijono, 1980:59-60)

Kemudian berakhirlah keadaan bahagia itu. Hal ini disebabkan oleh keadaan-keadaan yang bersifat kebetulan saja, yaitu tahun yang gersang, musim dingin yang berlebihan, musim panas yang terlalu kering, dan lain-lainnya. Semuanya itu memaksa orang untuk saling berhubungan dan bekerja sama untuk dapat bertahan hidup. Dalam keadaan demikian mereka merasa memerlukan adanya kerjasama yang tetap. Namun, keadaan baru ini menimbulkan persoalan baru, karena akan menimbulkan persaingan, percekcokan, dan lain-lain. Oleh karena itu, perlu menciptakan aturan-aturan guna melindungi milik pribadi. Maka pada saat ini timbul hak milik pribadi. (Hadiwijono, 1980:60)

3. Kritiknya Terhadap Konstruksi Sosial dalam Masyarakat yang Bertentangan dengan Keadaan Alamiah

Rousseau menunjuk kepada nilai batin dan perasaan serta meninggikan arti kepribadian manusia. Sebenarnya sukar sekali untuk menilai teori-teori yang dikemukakan oleh Rousseau, sebab ajarannya tidak tampak sebagai suatu totalitas, ada banyak hal yang saling bertentangan. Menurut Rousseau, kebudayaan bertentangan dengan alam, sebab kebudayaan merusak manusia. (Yang dimaksud adalah kebudayaan yang berlebih-lebihan tanpa terkendali dan serba semu, seperti yang tampak di Perancis pada abad ke-18 itu). Manusia alamiah yang masih "biadab" lebih tinggi martabatnya dibanding dengan orang Perancis yang "beradab". Bangsa Skit dan bangsa Jerman kuno lebih baik daripada bangsa Eropa sekarang. Kesusilaan Sparta lebih tinggi daripada Athena, dsb. Banyaknya kesengsaraan yang diderita orang waktu itu dipandang sebagai hukuman sorga atas umat manusia, karena usaha mereka untuk membebaskan diri dari keadaan alamiah yang bahagia itu. (Hadiwijono, 1980:59)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x