Mohon tunggu...
Robbi Gandamana
Robbi Gandamana Mohon Tunggu... ilustrator

Bunuh diri dan lahir kembali tiap hari

Selanjutnya

Tutup

Humor Artikel Utama

Balada Warung Murah Pinggiran Kota

30 November 2018   16:09 Diperbarui: 1 Desember 2018   08:05 0 16 7 Mohon Tunggu...
Balada Warung Murah Pinggiran Kota
Ilustrasi Warung Makan. (Tribunjabar.co.Id/Rezeqi Hardam Saputro)

Hidup di pinggiran kota Solo memang wasyik. Sandang pangan murah meriah. Lha ya'opo, mangan sego jangan lauk telor dadar  minumnya teh anget cuman enam ribu rupiah.  Tapi yo ngono, pengunjungnya uyel-uyelan saat jam makan.

No problem bagi masyarakat kelas buruh. Kalau cuman makan siang dengan waktu yang mepet, nggak perlu suasana yang romantis. Romantis opo, mangan gak utang ae wis ngAlhamdulillah.

Harga memang murah tapi rasa nggak mengecewakan. Prasaku masakan Jawa itu dimana-mana rasanya sama. Gak nang Solo,  Malang, Surabaya atau Pulau Sempu, rasane jangan lodeh yo ngono iku. Mungkin karena aku nggak rewelan kalau soal makan. Sing penting segone akeh, beres.

Aku nggak pilih-pilih warung, yang penting tempatnya bersih (eh, iku pilih-pilih yo?). Ada dulu saat jaman kuliah, di kampus ada warung dengan format yang aneh, warung merangkap suaka margasatwa.

Si pemilik warung memelihara kucing, burung, ayam, mentok dan kalkun. Jadi ojok kaget nek pas mangan onok pitik angrem ndik isor mejo. Koprosss.

Makanan itu sejatinya adalah bahan bakar bagi tubuh manusia. Ada kelas-kelasnya. Ada yang kelas premium, pertalite atau pertamax. Kalau kelas buruh dikasih premium atau pertalite ae wis cukup sip.

Beda kalau kelas priyayi, mereka harus makan yang berkelas. Kayak burung berkicau yang mahal itu, salah pakane iso mati.

Nggak heran kalau Sandiaga Uno saat datang ke Solo dulu dia kaget berat  saat makan soto seporsi yang harganya cuman lima ribu rupiah.  Dia belum tahu, jangankan lima ribu, sepiring soto yang harganya tiga ribu rupiah masih ada.

Tapi kalau nanti rasanya agak fals, wetengmu senep, ngising gak mandek-mandek, yo ojok protes. Telungewu njaluk sehat.

Saat mudik ke Malang aku banyak menemukan warung portable (jualan pakai mobil pick up) di pinggir jalan. Ada penjual nasi pecel dengan spanduk kecil dengan tulisan besar dan tebal : Nasi Pecel Rp. 8000.

Dipikirnya delapan ribu itu sudah murah banget. Padahal di Solo, nasi pecel yang lima ribu rupiah masih buanyak. Rupanya Malang sudah jadi kota semi metropolis, opo-opo larang. Kota rekreasi yang tidak cocok untuk kere yang suka aksi. 

(indonesiafoodbiz.com)
(indonesiafoodbiz.com)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3