Robbi Gandamana
Robbi Gandamana swasta

tak perduli..jika dengan menulis ini tak menjadikanku apa-apa...tapi setidaknya aku sudah memberi warna pada dunia

Selanjutnya

Tutup

Humor Artikel Utama

Pemilu Tanpa Kampanye

15 September 2018   12:13 Diperbarui: 16 September 2018   00:32 3962 13 10
Pemilu Tanpa Kampanye
Ilustrasi kampanye hitam (Foto: thinkstock)

Wacana Pemilu tanpa kampanye yang dilontarkan Cak Nun saat pengajian Sinau Bareng Bersama Cak Nun di Baturan, Solo (Selasa, 11 September 2018) kemarin sungguh revolusioner. Pokoknya umumkan calon pemimpinnya. Setelah itu silakan cari dan pelajari rekam jejaknya. Beres. 

Tanpa pasang gambar dimana-mana. Tanpa baliho, spanduk, pamflet, cap-capan alias stiker dan semacamnya. Tanpa arak-arakan motor yang suara knalpotnya sungguh jahanam. 

Karena kampanye itu pasti bohong, omong kosong, mengumbar janji-janji palsu, menjelek-jelekan yang baik dan membaik-baikan yang jelek. Kampanye itu kayak iklan, pasti lah berbohong.  Nggak ada kecap nomer dua. Pasti ngakunya nomer satu, paling oke, yang lain ke laut aje. 

Apalagi kampanyenya calon pemimpin yang mengajukan diri jadi pemimpin, bukan orang didorong-dorong pantatnya oleh rakyat untuk dijadikan pemimpin. Pasti lebih banyak nggedabrusnya.  Nggak ada pemimpin yang benar-benar menepati janjinya. Pastilah syarat dan ketentuan berlaku. 

Kampanye yang terjadi di Endonesyah itu konyol. Kampanye di depan kadernya sendiri yang sepaham, sudah tahu visi dan misi partai dan calon yang diusung. Harusnya PKS kampanye di depan kader PDIP atau sebaliknya. Kalau partai  politik kampanye di depan kadernya sendiri,  itu sama saja dengan onani. 

Kalaupun memang harus ada kampanye, kampanyenya harus di Masjid atau tempat ibadah. Tapi yang kampanye hanya  para kandidatnya saja. Menjelaskan visi dan misinya. Sebelum kampanye ada istighosah, shalawatan, sumpah pocong dan sejenisnya. Kalau kampanyenya bohong langsung stroke, lambene mletot, ngising gak mandek-mandek. Rasakno.

Tentu saja bukan kampanye kayak kemarin. Khotbah Jum'at tapi orasi politik. Pengajian di masjid tapi ternyata deklarasi ganti presiden. Bukan yang seperti itu. Itu malah mencemari kesucian masjid. 

Kalau aku sih nggak cuman pemilu tanpa kampanye, tapi juga dilarang kampanye. Asas Luber benar-benar diterapkan. Pilihanmu adalah urusan pribadimu. Nggak usah terang-terangan diumbar di publik. Nggak usah debat, nggak usah perang opini. Karena memang nggak perlu berlomba dalam hal kebenaran, mending berlomba dalam hal kebaikan. 

Buat apa berlomba-lomba benar-benaran, mending berlomba siapa yang paling bermanfaat. Untuk menjadi bermanfaat itu nggak harus kaya, pinter, fasih bahasa enggres. Jangan andalkan pintermu, gelar sarjanamu, kecerdasanmu dan kekayaanmu.  Itu semua percuma kalau kamu tidak bermanfaat bagi orang lain.

Percuma mempertandingkan kebenaran. Kebenaran itu relatif, berdebat cuma menguras energi dan waktu. Teman berkurang, musuh semakin banyak. Ingat, seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.

Aku yang termasuk orang yang nggak berani terang-terangan beropini soal politik. Pertama, aku nggak paham politik dan nggak percaya dengan berita politik. Berita politik yang beredar itu adalah versi kebencian. Kebencian antara kelompok A dan Kelompok B. Ruwet. 

----Apalagi orang sekarang itu gampang menyimpulkan. Misalnya, dia melihat kebanyakan pensiunan tentara itu jadi Satpam. Akhirnya dia menyimpulkan bahwa pangkat tertinggi tentara itu adalah Satpam. T:T----

Alasan kedua aku males nulis soal politik, karena orang sekarang itu sensitif, tidak tega hati untuk berbeda. Jadi kalau kita ketahuan beda pilihan, langsung unfriend dan blokir. Jangankan mbahas politik, tiap kali aku nyetatus di fesbuk, selalu  ada yang unfriend. 

Negeri ini jauh lebih besar, lebih luas, lebih dalam daripada urusan Capres. Siapapun pilihan Capresmu itu tergantung pada doamu pada Tuhan. Nggak mungkin semua orang pilih Jokowi, dan  juga mustahil semua orang pilih Prabowo. 

Selama ini memang kampanye lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Apalagi kalau pakai 'serangan fajar', politik uang. Kalau uang sudah bicara, tidak ada lagi kesucian. Taek kabeh.

Andai saja wacana tadi terwujud. Bayangkan lingkungan bersih dari  pamflet, spanduk, umbul-umbul dan alat kampanye lainnya. Jalan-jalan tidak terpolusi suara knalpot motor arak-arakan pasukan bodrek. Dan semua isapan jempol soal kampanye keparat itu.

- Robbi Gandamana-