Relawan Jabar Juara
Relawan Jabar Juara

Relawan Pendukung Ridwan Kamil Untuk Menuwujudkan #JabarJuara

Selanjutnya

Tutup

Politik

Mengantar Kang Emil dan Kang Uu ke Gelanggang

14 Januari 2018   11:15 Diperbarui: 14 Januari 2018   11:41 355 0 0

Suasana hangat menyelimuti ruang kenegaraan Pendopo Kota Bandung pada Senin, 8 Januari 2018. Pagi itu, sekitar pukul 07.00 WIB, calon gubernur Ridwan Kamil (Kang Emil) menerima calon wakil gubernur Uu Ruzhanul Ulum (Kang Uu) yang datang bersama keluarga besarnya dari Manonjaya Tasikmalaya. 

Pada hari itu, keduanya telah bersiap untuk mendaftar ke KPUD Provinsi Jawa Barat, sebagai pasangan cagub dan cawagub pada pilgub Jabar tahun 2018 yang diusung oleh Partai Nasdem, PPP, PKB dan Hanura.

Acara pagi itu, dimulai dengan perkenalan keluar besar masing-masing. Kang Emil memperkenalkan istrinya Atalia Praratya, Ibunya Hj. Tjutju Sukaesih, Ibu mertuanya, Hj. Nomi, dan keluarga besarnya yang lain. 

Setelahnya, giliran Kang Uu memperkenalkan Istrinya, Hj. Lina Marlina, Ayahnya KH. Soleh Nasihin, Ibunya Hj. Enung Mutmainnah Affandi serta keluarga besar yang mengantarnya dari Manonjaya.

Keda keluarga ternyata memiliki akar yang sama yaitu dari Tasikmalaya. Sebuah kota cantik berjarak 120 KM tenggara Bandung yang sudah sejak lama dikenal sebagai kota santri. Keduanya juga merupakan turunan pesantren. 

Kakek Emil, KH Muhyidin atau yang dikenal Mama Ajengan Pagelaran adalah pendiri Pesantren Pagelaran di Subang, yang juga adalah tokoh perjuangan kemerdekaan. Sementara kakek Uu, KH Khoer Affandi, atau yang lebih populer dengan sebutan Mama Ajengan Khoer Affandi adalah pendiri pesantren Miftahul Huda Manonjaya yang alumninya tersebar di berbagai daerah di Indonesia, dan juga telah banyak melahirkan pejuang-pejuang dakwah terkemuka di tanah air.

Usai perkenalan keluarga besar, orangtua keduanya kemudian menyampaikan nasehat dan pesan-pesan kebaikan. Hj. Tjutju Sukaesih, atau yang oleh keluarga terdekat dipanggil dengan sebutan Maci,  berpesan kepada Kang Emil agar senantiasa berusaha menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama, sesuai hadits Nabi Muhammad SAW: Khoirunnas anfauhum linnas.

Maci juga memberikan kepada Emil bekal berupa DUIT SAJUTA. Bekal Maci ini, tidak dalam bentuk uang, melainkan pesan sederhana kepada Emil dan Uu, agar saat keduanya berproses dan menjalani rangkaian pilgub ini, selalu membekali diri dengan Doa, Usaha, Ikhtiar dan Tawakal (DUIT), serta Sabar, Jujur, dan Taqwa (SAJUTA).

Sementara Ibunda Kang Uu, Hj, Enung Mutmainnah Affandi, memohon doa dari semua yang hadir agar apa yang direncanakan oleh keduanya mendatangkan kemaslahatan.

Hj. Enung juga berpesan, agar nanti jika terpilih sebagai cagub dan cawagub, saat mengurus masyarakat tidak melupakan para ulama, agar mereka juga senantiasa hormat kepada orang tua, tidak berlaku licik, dan mengamalkan apa yang sudah diperoleh di sekolah.

Pesan lain yang disampaikan ibunda Kang Uu, agar keduanya senantiasa mendahukukan shalat, dan memberikan kemanfaatan kepada seluruh masyarakat di dunia dan akhirat.

Usai mendapatkan nasehat, keduanya kemudian melakukan sungkeman secara bergantian kepada para orang tua yang hadir. Kang Emil mengawalinya dengan sungkem kepada Maci, dan Kang Uu kepada Hj. Enung, berturut-turut diikuti oleh para istri. 

Keheningan, keharuan dan suasana khidmat memenuhi ruangan negara saaat prosesi sungkeman berlangsung. Kang Emil terlihat tak kuasa menahan tangis, dan beberapa kali menyeka matanya yang basah dengan tisu.

Sungkeman anak kepada orang tua memang telah menjadi tradisi di berbagai daerah di Indonesia, dan umumya dilakukan saat prosesi pernikahan. Namun, dalam pandangan budayawan Aat Soeratin, Substansi "sungkem"  sejatinya adalah memohon maaf dan doa restu ketika hendak melaksanakan sesuatu niat, untuk bekerja atau beribadah. 

Dijelaskan Aat, dalam pernikahan, anak sungkem kepada orangtua meminta restu, sebab dia akan 'menempuh' kehidupan rumah tangga  yang merupakan dunia/khazanah baru dalam kehidupannya.  "Begitu pula Kang Emil dan Kang Uu, keduanya mohon doa restu orang tua dan para sesepuh karena akan menempuh/menjalankan amanah sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur di Jawa Barat," ungkap Aat.

Usai sungkem, pasangan dengan tagline RINDU (Ridwan - Uu) pun bersiap berangkat dari pendopo Kota Bandung ke KPUD Jawa Barat di Jl. Garut. Kedua orang tua Kang Emil dan Kang Uu, pun turut mendampingi, mengaping dan mengantar anak-anak mereka terjun dalam ikhtiar bertanding pada sebuah kompetisi bernama pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat tahun 2018.

Demikian juga dengan turutnya orang tua keduanya mengantar ke KPUD Jawa Barat. Menurut Aat, secara simbolik, apa yang dilakukan kedua orang tua Kang Emil dan Kang Uu dengan turut mengantarkan keduanya adalah apa yang dalam khazanah sunda disebut sebagai Ngajurung Laku.

"Kedua orang tua Kang Emil dan Kang Uu, bersama seluruh dimensi semesta berbentuk doa, semangat, harapan, serta keikhlasan, melepas dan mengantar keduanya agar selamat hingga tujuan, tercapai maksud yang dicita-citakan, dan apapun hasil yang mereka capai, pada akhirnya menjadi manfaat dan kebaikan," jelas Aat.

Demikianlah, sebuah ritual sederhana, mengiringi langkah yang telah mereka ayunkan. Apa yang dilakukan Maci, Hj. Enung Mutmainnah, H. Soleh Nasihin sejatinya adalah contoh keridaan orang tua kepada anak-anaknya. 

Bukankah rida Allah tergantung kepada rida dari kedua orang tua? Ketiganya dengan ikhlas mengantar putra-putra mereka ke gelanggang, untuk berjuang dengan kekuatan doa, kedahsyatan ikhtiar, dan tentu saja harapan agar keduanya diberikan kemudahan oleh Allah swt, agar tercapai segala apa yang mereka niatkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2