Mohon tunggu...
Rizki Muhammad Iqbal
Rizki Muhammad Iqbal Mohon Tunggu... Sedang belajar sosiologi. Kadang suka sekali selonjoran

Hari ini adalah besok pada hari kemarin.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Relevansi "Dramaturgi" Erving Goffman dalam Kehidupan Sosial

25 Oktober 2020   14:16 Diperbarui: 29 Oktober 2020   18:51 708 11 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Relevansi "Dramaturgi" Erving Goffman dalam Kehidupan Sosial
Sumber Ilustrasi: joeryanddigitalart.com

Rizki Muhammad Iqbal (19107020047)

Teori Sosiologi Modern/B (diampu oleh Bapak B.J Sujibto M.A.)

Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Kehidupan sosial selalu diwarnai oleh beragam kejadian yang kompleks. Beragam hal ini telah menjadi fokus para sosiolog dalam mengkaji fenomena sosial. Hal yang paling mendasar dari fenomena sosial berawal dari interaksi sosial antar individu dalam masyarakat. Bahkan sudah terdapat para pemikir penting dalam tradisi interaksionis simbolik, tak terkecuali Erving Goffman.

Erving Goffman adalah seorang sosiolog asal Kanada. Beliau lahir pada 11 Juni 1922 di Kanada dan meninggal di Amerika Serikat pada 19 November 1982. Beliau dikenal sebagai tokoh dalam aliran Chicago dan sebagai interaksionis simbolik, meski Erving Goffman sendiri menolak disebut seperti itu. Randall Collins, seorang sosiolog asal Amerika Serikat yang terpengaruh oleh teori-teori Erving Goffman, menyebutkan bahwa pengkajian-pengkajian di dalam karya Goffman justru dipengaruhi oleh antropolog sosial. Namun Goffman juga terpengaruh oleh studi deskriptif yang dihasilkan Chicago dan memadukannya dengan studi antropologi sosial untuk menghasilkan perspektifnya yang khas (George Ritzer & Jeffrey Stepnisky, 2019).

Awalnya saya mengenal tokoh ini melalui buku Kisah Sosiologi karya Kevin Nobel Kurniawan. Kemudian saya tertarik dengan teori Erving Goffman yang lebih melekat dalam sosiologi sehari-hari dan melanjutkan pembacaan di buku Teori Sosiologi karya George Ritzer dan Jeffrey Stepnisky. Berdasarkan buku tersebut, dramaturgi diartikan sebagai pandangan kehidupan sosial sebagai rangkaian penampilan dramatis yang mirip dengan penampilan yang dipentaskan di panggung.

Sebagaimana manusia hidup sebagai makhluk sosial, kita selalu merepresentasikan diri di hadapan orang lain agar dapat menaruh kesan yang bermakna bagi orang lain, sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun beragam representasi diri untuk menaruh citra ini terkesan artifisial dan manipulatif, seperti dalam konsep dramaturgi ala Erving Goffman. Seorang pemikir interaksionis simbolik berpikir bahwa orang cenderung menciptakan suatu citra diri. Sedangkan dalam konsep dramaturgi Goffman, orang bukan hanya menciptakan suatu citra diri dengan sendirinya, namun disebabkan karena pemaksaan identitas oleh masyarakat.

Setiap orang mempunyai hidup yang berbeda, antara yang terlihat di luar dan tersembunyi di dalam (Kevin Nobel Kurniawan, 2020). Dalam istilah Erving Goffman, yakni frontstage dan backstage, bagian lainnya adalah setting-front. Kita pasti bisa merasakan representasi diri yang berbeda-beda ketika kita dihadapkan pada berbagai konteks, seperti menemui dosen saat berada di kampus, bertemu teman akrab di tempat kopi, bertemu orang tua di rumah, dan lain-lain. Hal ini juga terjadi ketika kita sedang berada dalam lingkaran masyarakat. Tentunya beragam representasi diri dalam suatu konteks tertentu ini bertujuan untuk memperoleh kesan yang baik dari orang lain.

Orang akan berusaha menampilkan identitas yang konsisten di hadapan orang lain. Hal ini tercermin jika kita melihat dengan jeli apa yang ditampilkan oleh selebriti di televisi. Ambil saja contohnya artis Drama Korea atau K-Pop. Para artis ini berusaha menyenangkan para penggemarnya dengan berusaha memenuhi ekspektasi penggemarnya. Saya pernah melihat video di Instagram yang menunjukkan Ji Chang Wook---seorang artis Drama Korea yang pernah bermain peran dalam serial K2---sedang merokok sambil tersenyum di kamera yang divideokan oleh orang lain. Lalu apa tanggapan para penggemarnya di kolom komentar? Mereka justru menyayangkan kalau artis setampan dan sekeren Ji Chang Wook ini merokok. Dari fenomena ini kita bisa melihat bahwa di backstage, Ji Chang Wook tetaplah manusia biasa yang juga bisa menyukai kenikmatan rokok, apalagi cuaca di Korea Selatan sangatlah dingin. Dengan hal ini, para penggemar Ji Chang Wook kecewa melihat kenyataan yang sesungguhnya dan Ji Chang Wook sendiri gagal memenuhi tuntutan ekspektasi para penggemarnya yang berharap bahwa artis tampan dan keren itu tidak merokok.

Kalau di kalangan artis maupun selebriti itu sudah jelas bahwa hidupnya dipenuhi dengan beragam kepalsuan. Saya akan mengambil contoh lain. Saya pernah nongkrong dengan beberapa teman di sebuah kafe bar terkenal dan elit, bahkan saya saja keberatan dengan harga-harga yang tertera untuk sebuah kopi. Kemudian saya mencari minuman dengan harga yang tidak sampai Rp. 20.000,-. Berbeda dengan teman saya. Dia membeli sebuah kopi dengan harga yang mahal. Dia juga berpakaian bukan dengan ala kadarnya seperti orang yang nongkrong di warung kopi sederhana. Dia memakai atribut yang menunjukkan posisi status sosialnya, seperti pakaian bermerek, sepatu Vans, tas selempang dengan brand terkenal, serta topi Converse. Saya bukan sedang menghakimi mereka karena model berpakaian merupakan kebebasan seseorang. Namun saya akan menganalisis konsep dramaturgi ala Erving Goffman melalui fenomena kecil ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x