Mohon tunggu...
rizkaita
rizkaita Mohon Tunggu... Pembaca, penulis, dan kawan seperjalanan

Mari berbicara lewat barisan kata-kata

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Berlatih Sadar Makan Tanpa Kesurupan di Bulan Ramadan

15 April 2021   22:13 Diperbarui: 15 April 2021   22:29 192 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berlatih Sadar Makan Tanpa Kesurupan di Bulan Ramadan
Banyak Makanan | Sumber: unsplash.com

Definisi puasa di agama Islam sudah saya hapal luar kepala. Tapi seperti kebanyakan hasil belajar di sini, paham ya belum tentu. Menahan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, kan? Nah sepertinya yang bertahun-tahun saya jalani ternyata jarang penuh, deh. Duh!

Buang dulu perkara nafsu lain, tingkatan paling dasar saja sepertinya selama ini saya belum lulus. Iya sih, saya tidak makan dan minum dari pagi. Tapi ketika matahari senakin tinggi hingga mendekati azan maghrib, saya seringkali kesurupan. Kepikiran ini, beli itu, minta ibu bikin masak lain lagi.

Ketika selesai baca do'a dan minum segelas air dingin, baru deh biasanya sadar. Saya tak mungkin sanggup menghabiskan seluruh makanan yang ada. Apalagi selepas 2-3 potong gorengan, perut saya pasti sudah terasa penuh sampai waktu solat isya tiba. Buntutnya pasti ngga ada yang enak, antara tak dihabiskan dan jadi tambahan sampah di rumah, atau jadi makan sepanjang malam. Tak ada yang sehat, baikuntuk diri sendiri atau lingkungan.

Sah-sah saja sebenarnya merencanakan menu berbuka puasa. Justru sebenarnya saat puasa, kita punya lebih banyak waktu mempersiapkan makanan yang akan kita konsumsi. Tapi kesalahan saya bertahun-tahun, ya malah tidak berpikir apa yang tubuh butuh. Pokoknya semakin lapar, semakin banyak deret makanan yang harus tersedia di meja.

Tubuh yang berpuasa mengerjakan banyak pekerjaan rumah untuk berbenah. Beberapa jam pertama setelah makanan terakhir masuk, ada karbohidrat yang dipecah. Simpanan dikeluarkan dari otot, sampai hormon insulin tak kebanjiran orderan. Tahap satu berjalan, pencegahan diabetes dimulai.

Setelah delapan jam dan karbohidrat diubah jadi energi, ada lemak yang diurai. Asam lemak dan kolesterol jadi energi. Ancaman sumbatan pada pembuluh darah punya kemungkinan lebih kecil lagi.

Di saat yang sama, ada keajaiban lain ketika lemak mulai dipecah. Sel-sel yang aktif membelah diri (terutama di organ pencernaan) terpanggil. Regenerasi terjadi, yang lama dan rusak menyerahkan diri, sel baru menempati posisi. Gangguan bakteri atau pola makan yang bisa menyebabkan luka di sana diperbaiki. Semua organ sibuk sekali ketika rasanya kita memberi jeda.

Ya begitu mulai belajar fakta-fakta ini, ingin tobatlah saya. Ingin rasanya bersujud depan badan sendiri, karena sudah dikasih kesempatan belajar oleh Tuhan, malah tetap diberi asupan berlebihan, asal kenyang, dan minim gizi. Ibaratnya kalau sudah capek beres-beres rumah, tiba-tiba ada yang datang dan mengacak-acak semuanya. Ya ingin murka, kan?

Sekarang juga masih pelan-pelan kok belajarnya. Penganan serba manis dikurangi, takut insulin kaget tau-tau diminta banyak padahal seharian melambat. Toh Rasulullah mencontohkan hanya dengan air putih tiga butir kurma. Saya yang tak begitu suka kurma ya ganti buah lain saja. Sepiring bakwan kesukaan mulai dikurangi, langsung saja makan besar dengan sayur dan lauk. Toh ternyata sama-sama kenyang.

Makan penuh kesadaran ya sebenarnya setiap hari harus dijalankan. Tapi dipikir seribu kali, saat Ramadan justru paling mungkin dilakukan. Sebelum belajar saling jaga, jaga tubuh sendiri dulu paling penting pokoknya. Soalnya saya dan kamu yang gini kan cuma satu. Hehe

VIDEO PILIHAN