Rizka Edmanda
Rizka Edmanda A happy Blogger and A blissful Mom - Puteri Indonesia Favorit 2014

www.rizkaedmanda.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Tolak Angin dan Sepenggal Cerita dari Panggung Puteri Indonesia

9 Agustus 2018   15:38 Diperbarui: 10 Agustus 2018   08:24 263 3 1
Tolak Angin dan Sepenggal Cerita dari Panggung Puteri Indonesia
Tolak Angin Berkhasiat Lebih


Perjuangan yang Terbayar

Senyum sumringah saya merekah tatkala MC Choky Sitohang dan Zivanna Letisha mengumumkan nama saya sebagai salah satu pemenang putri favorit kepulauan di ajang kontes pemilihan ratu kecantikan itu. Prestasi ini sejujurnya sungguh di luar dugaan saya, sebab bisa menjadi salah satu perwakilan Provinsi dan bersanding dengan puluhan gadis cantik dari seluruh pelosok negeri sudah menjadi sebuah kesempatan yang luar biasa apalagi bisa pulang ke kampung halaman dengan menoreh prestasi, rasa bangga sekaligus haru seakan membuncah tak terbendung lagi. Harus saya akui, prestasi ini saya raih dengan perjuangan yang tidak mudah. Persiapan yang minim dan singkat serta tak terlalu mendapat banyak dukungan dari Pemda setempat membuat saya harus memaksimalkan segala upaya yang saya bisa demi mengharumkan nama provinsi. Tidak hanya pikiran, batin, energi, dan materi, kesehatan pun saya pertaruhkan dalam hal ini. Beberapa bulan sebelum mengikuti masa karantina Puteri Indonesia 2014, saya telah sibuk menyiapkan diri. Bangun jam 4 pagi hampir setiap hari, beribadah lalu berangkat ke gym dan berlatih selama 4 jam, demi bentuk tubuh yang mantap sebelum berlaga di Jakarta. Persiapan dilanjutkan dengan mengikuti kelas catwalk atau kursus pengembangan diri agar mantap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan juri. Pada waktu-waktu senggang, saya sibuk wara-wiri keluar masuk kantor-kantor dinas pemerintahan atau menemui pengusaha-pengusaha kaya di kota saya untuk mengajukan proposal permohonan bantuan dana dalam rangka menyokong segala kebutuhan saya dalam mengikuti kontes Puteri Indonesia ini sebab, saya hanyalah anak seorang guru dan pegawai negeri, sementara tidak saya pungkiri bahwa saya butuh dana besar untuk mengikuti kontes ini, daripada merepotkan orangtua yang kala itu juga sedang fokus menabung untuk persiapan naik haji, saya lebih memilih mengupayakannya sendiri.

Selain persiapan fisik, otak, dan materi, asupan dan pola makan pun betul-betul saya jaga selama beberapa bulan sebelum masuk karantina, alhasil berat badan saya turun drastis, saya kehilangan hampir kehilangan 12 kilo lemak di tubuh saya. Sungguh sebuah pencapaian hebat. Tak hanya membentuk tubuh dan menjaga asupan makanan, asupan otak pun tak luput dari perhatian, saya menyerap semua bacaan,  berita politik terbaru baik lokal, nasional hingga internasional, serta isu-isu teranyar seputar sosial, hukum, budaya, fashion sampai lingkungan. Dan tak lupa semua persiapan ini saya lakukan sambil menyelesaikan skripsi saya yang beberapa kali tertunda jadwal sidangnya.

Sungguh Luar biasa kan ya, perjuangannya. :)

Tolak Angin, Sang Doping Andalan
Tolak Angin, Sang Doping Andalan

Tolak Angin, "Doping" Andalan Saat Daya Tahan Tubuh "Ambyar"

Sebagai manusia yang tentu memiliki batas, saya sadar ada waktu-waktu di mana daya tahan menurun dan kekebalan tubuh saya menjadi sangat terbatas. Terlebih, ketika saya terpaksa harus memforsir diri saat melakukan suatu kegiatan, tak peduli tubuh yang lelah, kepala pusing atau sedang meriang, saya harus tetap tersenyum dan terlihat riang. Sudah jadi rahasia umum kan, kalau finalis puteri Indonesia itu dilarang cemberut apalagi mengeluh, karena di sekelilingnya ada puluhan kamera wartawan, belum lagi papparazi yang membuntut. Karenanya, ketika melalui masa-masa perjuangan yang luar biasa saat melakukan persiapan dan mengikuti masa-masa  karantina Puteri Indonesia, saya punya doping andalan saat daya tahan tumbuh ambyar, doping yang menyehatkan, murah meriah, dan herbal tentunya. Karena saya memang tipe perempuan yang Indonesia banget, daripada mengonsumsi suplemen penambah energi, saya lebih senang mengonsumsi jamu-jamuan atau obat herbal tradisional. Doping andalan saya adalah 2 sachet tolak angin, yang rutin saya konsumsi hampir setiap hari. Nggak takut tuh konsumsi tolak angin setiap hari? Nggak dong, karena tolak angin merupakan satu-satunya obat herbal terstandar yang telah disertifikasi oleh BPOM dan juga telah melalui serangkaian uji pra klinis seperti uji toksisitas serta uji khasiat sehingga bahan-bahan bakunya dipastikan telah memenuhi standar parameter mutu dan diolah dengan sangat higienis, jadi terjamin aman dikonsumsi dalam jangka panjang apabila digunakan sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

Tolak angin yang diproduksi oleh PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.  diformulasikan dengan resep ramuan tradisional Ibu Rachmat Sulistyo (Ny.Siem Thiam Hie) yang diproses secara modern di pabrik modern berstandar GMP (Good Manufacturing Practices) dengan quality control yang ketat. Tolak Angin telah dikenal manfaatnya sejak tahun 1930, karena menggunakan bahan-bahan organik yang berkualitas seperti jahe, yang dikenal memiliki senyawa aktif gingerol, shogaol,dan hexahydrocurcumin yang mampu memberikan sensasi hangat serta memiliki segudang manfaat, misalnya sebagai anti inflamasi, dan memiliki sifat antioksidan yang baik. Jahe juga memiliki efek farmakologi untuk meluruhkan dahak saat batuk, meredakan gejala flu, menguatkan lambung, memperbaiki sistem pencernaan, melancarkan peredaran darah hingga dapat digunakan sebagai terapi alternatif anti kanker. 

Tolak angin juga mengandung Madu yang khasiatnya telah dikenal sejak jaman Rasulullah, bahkan khasiat Madu tertulis secara nyata dalam kitab suci Al-Quran, "Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (Quran Surat An-Nahl Ayat 68-69). Madu sudah dikenal sejak lama untuk pengobatan berbagai penyakit, dan kandungan vitamin C nya yang tinggi dapat menjaga daya tahan dan kekebalan tubuh serta memperbaiki nafsu makan yang menurun. Selain madu dan jahe, ada pula ekstrak daun cengkeh yang dapat membantu meredakan rasa mual dan muntah-muntah, ekstrak adas yang dapat meningkatkan transport mukosilier yang efektif untuk mengatasi batuk produktif akibat masuk angin, dan ekstrak daun mint sebagai tonik simultan sehingga sensasi rasa saat mengkonsumsi tolak angin menjadi hangat namun menyegarkan.

Tolak angin memang sudah menjadi andalan turun temurun di keluarga kami. Sejak kecil, saya sering melihat Ibu mengkonsumsi tolak angin yang dicampur teh hangat dan madu saat beliau sedang tidak enak badan, sering pula saya melihat ayah mengonsumsi tolak angin yang dicampur lemon, saat beliau batuk atau demam meriang. Saya sendiri lebih senang mengonsumsi tolak angin secara langsung, baik tolak angin yang sediaannya cair maupun tolak angin yang berbentuk permen, makanya saya selalu memiliki persediaan kedua varian tolak angin tersebut di tas, dompet bahkan di saku saya, sehingga tidak heran beberapa teman finalis puteri Indonesia dari daerah lain sampai menggelari saya "miss tolak angin", karena memang saya selalu membawa tolak angin kemanapun saya berada.

Tolak angin telah banyak berjasa bagi saya saat melalui padatnya aktivitas selama masa karantina, misalnya saat saya tiba-tiba terserang batuk, padahal harus mengikuti kegiatan pembekalan materi di jam 6 pagi bersama Bapak Abraham Samad yang kala itu menjabat sebagai ketua KPK. Tolak angin juga membantu menghilangkan rasa lelah yang tak bisa dikompromi ketika saat saya harus mengikuti latihan catwalk dan koreografi sampai dini hari. Tidak hanya itu, tolak angin bahkan membantu meredakan mabuk perjalanan yang sempat saya alami saat harus berpindah-pindah dari satu lokasi kegiatan ke lokasi lainnya menggunakan bus peserta, maklum saya belum terlalu terbiasa dengan macetnya Jakarta waktu itu.

Tolak Angin, Pilihan Orang Pintar

Jujur, dulu saya kurang begitu faham dengan maksud jargon tolak angin ini. Pernah saya terfikir, kenapa ya orang pintar harus minum tolak angin?  Apa pula hubungannya orang pintar dengan tolak angin? tapi setelah sederet pengalaman yang saya lalui bersama tolak angin,  saya menjadi sadar bahwa jargon ini sangatlah benar, sebab hanya orang pintar yang akan mengambil langkah yang mudah, cepat, instan dan tak berbahaya sebagai pertolongan pertama saat merasakan gejala-gejala masuk angin. Langkah yang pasti dan sudah tentu benar yang diambil oleh para orang pintar ini tentulah dengan mengonsumsi tolak angin sebab tidak perlu repot menyeduh, karena sediaannya praktis dalam kemasan sachet, tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam, karena harganya sangat terjangkau oleh semua kalangan, tidak perlu khawatir efek samping yang membahayakan sebab sudah teruji prakilinis dan menggunakan bahan-bahan pilihan.

Tolak angin tak hanya telah berjasa mengantarkan saya pada panggung Puteri Indonesia, sebab hingga kini tolak angin masih terus menemani hari-hari saya. Saat saya traveling, saat saya melakukan pendakian, saat saya mudik ke kampung halaman, hingga saat ini saya aktif berkegiatan sebagai seorang blogger dan penulis lepas pun, tolak angin masih selalu setia menemani saya dikala saya harus begadang.

Setiap orang memiliki doping andalan saat daya tahan tubuh menurun dan gejala masuk angin datang menyerang. Kalau bagi saya, Tolak Angin adalah doping andalan yang selalu saya jagokan di berbagai kesempatan. Nah, bagaimana dengan doping andalanmu? Jangan sungkan berbagi cerita di kolom komentar ya!

Tolak Angin Terus Menemani, Sejak Dulu, Kini dan Nanti/Dokpri
Tolak Angin Terus Menemani, Sejak Dulu, Kini dan Nanti/Dokpri