Mohon tunggu...
Ved Howl
Ved Howl Mohon Tunggu... Penjahit - Mahasiswa di Fakultas Ilmu Halu

Mencintai imajinasi, sastra, dan film

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Refleksi: "Attack on Titan" Manusia, Pemberontakan dan Barbarisme di Tengah Pandemi

9 Juni 2020   22:19 Diperbarui: 9 Juni 2020   22:15 405
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Aku memang belum hidup selama itu, tapi aku yakin akan satu hal .... seseorang yang tidak sanggup mengorbankan apapun, tidak akan bisa mengubah apa-apa" (Armin Arlert)

Kiranya itulah kutipan pembuka yang dirasa tepat untuk mengawali catatan kecil dari saya. Sebelum disambung oleh sebuah kesaksian atas situasi pandemi saat ini, izinkan saya berkabung atas senyapnya ketahuan dalam diri kita sebagai manusia.

Attack on Titan ? Mungkin sebagian dari anda pernah mendengar ? Jika belum, tidak apa-apa. Saya akan merangkum sedikit mengenai anime ini. 

AOT merupakan sebuah seri manga Jepang yang berlatar di dunia fantasi tempat umat manusia hidup di wilayah yang dikelilingi tiga lapis tembok besar, yang melindungi mereka dari makhluk pemakan manusia berukuran raksasa yang dikenal sebagai Titan. terdengar konyol mungkin, tapi pada dasarnya ilustrasi tersebut cukup relevan dengan realitas yang sedang dihadapi oleh global, termasuk dalam situasi pandemi saat ini.

Seperti yang kita tahu akibat Covid-19, dunia sedang mengalami krisis, ekonomi anjlok, diperburuk dengan kegagalan negara untuk menghentikan laju penyebarannya. Situasi ini persis dengan apa yang terjadi dalam jalannya cerita "Attack on Titan", perbedaannya adalah ada pada problem utama yang menjadi musuh manusia. 

Dalam fiksi, yang mereka lawan adalah titan, sedangkan jika kita tarik pengandaian itu menjadi sedikit manusiawi, maka dapat kita personifikasikan titan tersebut sebagai virus. 

Titan membunuh manusia bukan karena lapar, melainkan dengan maksud politis, kehadiran mereka adalah senjata manusia untuk membantai manusia, mungkin terdengar rumit ? sama halnya dengan virus, tapi saya tidak fokus untuk membahas lebih detail mengenai virus dan segala uji laboratorisnya. 

Akan tetapi tulisan ini mencoba untuk menawarkan cara pandang lain untuk melihat isu sosial yang juga menjangkiti kehidupan kita termasuk bagaimana kita membaca fenomena ini.

Sebagai analis sosial, tentunya anda tergerak ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Terutama dalam era global seperti yang sekarang, awal kemunculan pandemi covid 19 ini membuat gaduh hampir seluruh negara-negara di belahan manapun. Dengan konsekuensi yang kemudian mengikutinya mengubah pola hidup kita secara mendasar seperti ekonomi, interaksi, dan pola konsumsi kita. 

Termasuk pola kerja, pada asumsinya memainkan isu kelas yang dalam pemahaman ini dapat kita lihat, pastilah ini merupakan koyakan bagi elit yang akan menghancurkan kemegahan mereka suatu saat, orang akan mengkalkulasi berapa kerugian yang akan mereka dapatkan, maka dengan bersegera mereka mengamankan diri, mengurung diri mereka dalam kungkungan pranata, menimbun apapun yang bisa mereka timbun. 

Gambaran ini dapat kita lihat sebagaimana yang ada dalam cerita AOT, dimana mereka membangun sebuah konsep utopis yang cukup relevan dengan realitas yang terjadi, dimana orang-orang kaya hidup di dinding yang paling dalam, tentu saja agar mereka merasa aman dari serangan titan, dan orang-orang miskin harus hidup diluar dinding sebagai umpan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun