Mohon tunggu...
Risma Eva Dinar
Risma Eva Dinar Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Analisis Penyalahgunaan Media Sosial sebagai Sarana Cyberbullying

9 April 2021   11:35 Diperbarui: 9 April 2021   11:56 48 0 0 Mohon Tunggu...

Zaman digital seperti sekarang ini, manusia tidak hidup di dunia nyata saja. Namun saat ini, manusia juga hidup di dunia maya.Dimana semua kegiatan yang dilakukannya berhubungan dengan internet dan media sosial. Media sosial merupakan suatu wadah atau medium di internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan diri, berinteraksi, bekerja sama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain dan membentuk ikatan sosial secara virtual. (Nasrullah, 2015)

Tujuan diciptakannya suatu teknologi bukan untuk hal yang buruk, namun untuk lebih memudahkan manusia dalam kesehariannya. Begitu juga dengan diciptakan suatu media baru atau new media ini mempunyai tujuan yang baik. Media sosial dikategorikan sebagai media baru karena mengacu pada media digital yang interaktif. Tujuan dari media sosial itu sendiri yaitu sebagai alat komunikasi interaktif yang menghubungkan antar pengguna dimana saja dan kapan saja dengan cakupan wilayah yang sangat luas. 

Dari tujuan baik tersebut, masih ada saja orang atau oknum yang menggunakan media sosial untuk hal yang tidak-tidak. Penyalahgunaan media sosial ini semakin sering kita temukan. Dengan maraknya aplikasi media sosial yang bermacam-macam juga menyebabkan tingkat penyalahgunaannya pun semakin meningkat. Hal ini menyebabkan semakin banyak kejahatan yang dilakukan di media sosial salah satunya yaitu Cyberbullying. Menurut Wllard Cyberbullying (Perundungan Cyber) merupakan perbuatan fitnah, penghinaan, diskriminasi, pengungkapan informasi atau konten yang bersifat privasi dengan maksud mempermalukan, atau bisa dimaknai dengan komentar yang menghina, menyinggung secara vulgar.(Nasrullah, 2015)

Untuk itu penelitian mengenai penyalahgunaan media sosial sebagai sarana cyberbullying penting dilakukan. Karena saat ini media sosial dianggap sebagai kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Banyak sekali orang yang menggunakan media sosial seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, Twitter dan sebagainya. Hal ini menjadikan media sosial di dominasi oleh remaja yang sangat 'melek'teknologi. Kini remaja menggunakan media sosial sebagai ajang eksistensi diri.

Berdasarkan riset yang dilakukan kebanyakan orang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk berkomunikasi, sebagai media belajar, berbisnis dan hiburan semata. Menurut data dari Hootsuite pengguna aktif media sosial di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 160 juta dari total populasi 272 juta orang. Hal ini membuktikan bahwa lebih dari setengah populasi di Indonesia aktif menggunakan media sosial. Dengan banyaknya pengguna aktif media sosial dan kebebasan untuk mengakses media sosial ini tidak menutup kemungkinan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan seperti cyberbullying.

Berdasarkan data Polda Metro Jaya, setidaknya ada 25 kasus dilaporkan setiap harinya. Dari dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia pada tahun 2018 tercatat 22,4 persen anak di Indonesia mengalami cyberbullying. Angka ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang menggunakan media sosial untuk hal-hal tidak berguna dan malah merugikan orang lain. 

Mengapa seseorang melakukan cyberbullying ?

Dilihat dari perspektif psikologis, mereka yang melakukan cyberbullying bisa saja merupakan korban dari cyberbullying atau bullying tradisional yang tidak terima atas ketidakadilan yang mereka alami sebelumnya. Jadi cyberbullying ini menjadi jalan bagi mereka yang mengalami trauma berkepanjangan sebagai ajang balas dendam. Dengan melakukan cyberbullying kepada orang lain, mereka merasa dibenarkan atas apa yang mereka alami. Bisa dikatakan beberapa dari mereka mengalami gangguan kepribadian. Hal lain yang menjadi pemicu melakukan cyberbullying adalah mereka yang merasa iri atau memiliki kecemburuan sosial terhadap seseorang. 

Para pelaku perundungan di media sosial berpikir bahwa dibalik akun anonim mereka, tidak ada yang dapat mengetahui apa yang mereka lakukan. Hal ini memberikan rasa aman yang palsu, sehingga mereka memiliki lebih banyak keberanian untuk melakukan cyberbullying. Pelaku cyberbullying sulit terlacak, karena pelaku tidak terlihat dan hanya muncul dalam media sosial saja untuk menindas korbannya.

Selain itu, mereka yang melakukan cyberbullying ini bisa saja dilatarbelakangi karena rasa bosan. Hanya untuk menambah drama dalam hidup dan memuaskan diri sendiri dengan melihat kerugian yang dialami oleh orang lain. Kebanyakan kasus cyberbullying terjadi dalam bentuk verbal, misalnya rumor, olok-olok, ejekan, bahkan penjebolan akun atau ancaman fisik dengan menyebar foto-foto atau video korban. Mereka yang kurang edukasi tentang apa itu cyberbullying dan apa dampaknya, akan tetap melakukan cyberbullying. Apalagi banyak sekali contohnya, mereka yang tidak terlibat dalam suatu masalah di media sosial malah melakukan cyberbullying akibat hal sepele.

Misalnya contoh kasus yang dialami Mima Shafa anak Mona Ratuliu yang menjadi korban cyberbullying di Instagram. Mima mendapat pesan pribadi dari sebuah akun yang mengatakan bahwa Mima ini berbeda dengan kedua adiknya. Mima memang mempunyai gaya atau fashionnya tersendiri yang membuatnya tampil beda dengan yang lain. Namun hal ini yang membuat Mima sering mendapatkan komentar-komentar negatif dari netizen. Padahal Mima sendiri tidak ada niatan atau maksud apapun jika mengunggah fotonya di Instagram, dirinya hanya ingin menunjukan eksistensinya sendiri. Sebenarnya Mima pun tidak menginginkan seseorang untuk mengomentari fisik dan gayanya apalagi dengan komentar-komentar jahat. Hal tersebut contoh dari cyberbullying yang sebenarnya bukan dari suatu masalah namun dijadikan masalah oleh orang-orang yang tidak menyukai hal tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN