riska nuraini
riska nuraini

seorang yang senang membaca

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Anti Radikalisme, Sentuh Hati

2 September 2018   20:44 Diperbarui: 2 September 2018   21:01 399 2 1
Anti Radikalisme, Sentuh Hati
okezone

Ketika bom Surabaya terjadi banyak orang terkejut. Kenapa ? Sebagian peledakan bom itu melibatkan anak-anak. Ironisnya mereka diajak oleh orang tuanya untuk melakukan perbuatan itu .

Coba kita ingat keluarga Dita Supriyanto. Dita sendiri, Puji Kuswati (istri) dan tiga anaknya. Anak mereka masih belia yaitu Yusuf (18 tahun) , Firman (12 tahun) , Famela (9 tahun). Mereka seperti keluarga biasa dan terlihat mapan, dengan latar belakang pengusaha. Di kemudian hari diketahui bahwa Dita adalah anggota Jamaah Ansarut Daulah (JAD).

Ketika kejadian, mereka berpencar dan menuju tiga gereja ; Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS).  Bom meledak sekitar pk 06.00 -- 08.00 , dengan 18 korban tewas dan puluhan luka-luka.

Selain di tiga gereja tadi, ada dua lagi bom yang meledak di Sidoarjo dan di sebuah kantor polisi di Surabaya. Di dua tempat itu juga melibatkan anak-anak. Mereka adalah anak dari pelaku bom dan anak pembuat bom.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, keluarga Dita terlihat seperti keluarga yang biasa ; yang baik-baik saja. Setiap hari mereka melakukan shalat subuh berjamaah di masjid terdekat (terutama bapak dan dua anak lelakinya) Begitu juga shalat Magrib. Pada hari itu keluarga itu melakukan shalat subuh dan satu diantara anaknya terlihat menangis sesegukan dan kemudian dirangkul oleh sang ayah.

Dari sini tampak bahwa anak-anak itu mengikuti perintah dan keinginan orang tuanya untuk sesuatu yang mereka anggap jihad. Suatu pandangan yang keliru karena konteks jihad mereka keliru; harusnya tidak untuk membunuh sesama di satu negara.  Anak-anak itu sejatinya adalah jiwa yang masih murni. Mereka terpengaruh oleh orang tuanya yang mengajarkan radikalisme pada mereka dan tanpa bisa ditolak, anak-anak itu menurutinya.

Sebenarnya ungkapan tangis oleh seorang anak Dita setelah shalat subuh bisa diartikan dua hal yaitu ketidakberdayaan anak terhadap perintah sang ayah. Kedua adalah ungkapan berbeda pendapat dengan ayah mereka.

Di titik inilah kita yakin bahwa pendidikan anti radikalisme amat perlu. Harus dilakukan sedini mungkin, ketika anak-anak itu masih belia. Baik di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maupun sekolah dasar dan lanjutan. Pendidikan anti radikalisme juga harus dikenalkan di kalangan keluarga dan rumah ibadah. Karena itu peran RT , RT dan lingkungan keagamaan juga sangat berperan. Intinya, semua pihak haruslah terlibat untuk memperkecil pengaruh radikalisme di masyarakat.

Dengan peran-peran maksimal dari berbagai pihak dan kalangan ini, kita bisa pencegah pemahaman yang salah terhadap beberapa ajaran agama dan pandangan. Pencegahan yang salah terhadap beberapa pandangan itu haruslah bisa melampaui sekat-sekat perbedaan dalam masyarakat.

Pengajaran anti radikalisme harus menjangkau anak belia sampai masyarakat yang sudah dewasa. Menjangkau secara personal karena dia menyentuh setiap hati masyarakat Indonesia. Para orang tua yang mengajar etika dan nilai-nilai hidup yang benar untuk anak-anaknya, para guru yang ajarkan pelajaran cinta tanah air dan bangsa. Guru agama mengajarkan kedamaian dan saling mencintai sesama manusia. Itu semua harus dimulai sedini mungkin bagi generasi muda kita.

Kita harus memperkuat pemahaman bahwa kedamaian dan ketentraman membuat semua pihak berbahagia. Perjuangan atas nama agama apalagi yang melibatkan kekerasan adalah bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri.