Mohon tunggu...
Risda Putri Indriani
Risda Putri Indriani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Hai! Panggil saya Risda !
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Biologi - Pendidikan - Islam Mahasiswa Pendidikan Biologi-UNJ

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Mari Mencegah LGBT+ lewat Pendidikan

8 Mei 2022   06:00 Diperbarui: 11 Mei 2022   18:54 771
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Say No for LGBT by Freesvg

LGBT+ atau Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queere dan istilah lainnya saat ini masih dikatakan sebagai penyakit psikologis karena memliki orientasi seksual yang menyimpang. Hal ini karena adanya ketertarikan dengan sesama jenis (homoseksual), padahal kodrat manusia adalah heteroseksual untuk menghasilkan keturunan. Maka dari itulah sekarang definisi antara "jenis kelamin" dan "gender" dibedakan. Jenis kelamin hanya ada dua yaitu perempuan dan laki-laki. Sedangkan gender di sebagian buku disebutkan untuk arah orientasi seksual baik heteroseksual ataupun homoseksual.

Kebebasan berpikir dan berpendapat tanpa memperhatikan moral dan etika menyebabkan berkembangnya LGBT+. Kaum LGBT+ mulanya hanya minoritas di suatu negara, kemudian terus berkembang dan mereka menuntut hak yang sama dengan manusia lainnya. LGBT+ semakin eksis setelah beberapa negara barat melegalkan pernikahan sesama jenis atas nama HAM. Di Asia sendiri, negara Thailand sudah menjadi tempat produksi film yang bertema homoseksualitas, bahkan artisnya memiliki fanbase yang kuat berskala internasional.

Di Indonesia sendiri, beberapa kaum LGBT+ bahkan diberikan tempat untuk wawancara dan diskusi. Secara positif, penonton bisa mempelajari pola pikir dari para LGBT+ dan mengambil hikmah dari pengalaman hidup orang lain. Secara negatif, diskusi tersebut bisa ikut mempromosikan LGBT+ dan menambah eksistensi mereka. Maka dari itu, pewawancara dan penonton harus bijak dalam menyikapi ini.

Konten LGBT+ berkembang dan masuk ke berbagai media. Contohnya seperti komik, novel online, anime, film, dll. Konten ini harus diwaspadai, karena media yang digunakan begitu dekat dengan kegemaran anak-anak. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat, mereka bisa saja mengakses media tersebut tanpa pendampingan orang tua. Konten dibuat semenarik mungkin, karena memberikan pandangan berbeda terhadap manusia itu sendiri. 

Konten ini bukan hanya tentang perasaan, tetapi menawarkan hal lebih seperti adegan 21+ homoseksual. Konten inilah yang menyebabkan adanya rasa penasaran berlebih dan ketagihan. Jika anak merasa nyaman dengan konten tersebut, dan jika dibiarkan lebih lanjut maka akan mengubah pola pikir yang berakibat menyimpangnya orientasi seksual.

Maka dari itu, pendidikan harus mencegah terbentuknya LGBT+ baru di masyarakat. Pada bulan pendidikan nasional 2 Mei 2022, pendidikan seharusnya hadir untuk mencegah tindakan menyimpang LGBT+. Berikut ini adalah mata pelajaran yang bisa diintegrasikan dengan LGBT+.

  • Pendidikan Agama

Sebagai negara yang menganut agama, maka hendaknya siswa memperkuat pondasi keagamaannya dalam mencegah LGBT+. Di Islam sendiri, kaum LGBT+ diceritakan pada zaman Nabi Luth dan disebut sebagai kaum yang melampaui batas. Azab yang pedih diturunkan Allah dengan adanya bencana alam yang besar yang seketika menghancurkan kaum LGBT+. Tempat didatangkan azab tersebut sekarang dikenal dengan laut mati. Pencegahan LGBT+ bukan hanya menceritakan peristiwa tersebut, tetapi juga penguatan "studi kasus" atas maraknya LGBT+ yang ada pada zaman ini. Hal ini dapat diperkuat dengan berbagai pandangan agama dan ulama serta cara siswa menyikapi kasus tersebut. 

Jadi, tanggungjawab guru bukan hanya menceritakan kisah saja. Selain itu, siswa harus paham hakikat manusia sebenarnya sebagai makhluk sosial yang heteroseksual. Pada dasarnya, manusia harus menikah untuk menyempurnakan agama-nya, memperbanyak keturunan Nabi dan meneruskan perjuangan Islam (begitupula pada agama lainnya).

  • Bimbingan Konseling

Pembelajaran bimbingan konseling kadang dianggap sebelah mata oleh sekolah, hal ini karena bimbingan konseling dianggap bisa dilakukan diluar pembelajaran. Bimbingan konseling bisa memasukan unsur LGBT+ ini pada materi pergaulan bebas. Namun, biasanya pergaulan bebas hanya diajarkan bahaya pacaran saja. Sex education bahkan jarang didiskusikan di dalam kelas, apalagi LGBT+. Khususnya siswa SMA memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap orientasi seksualnya. Ini menjadi salah satu kesempatan guru untuk menanamkan bahaya sex before married dan LGBT+ agar siswa dapat bijak memilih orientasi seksualnya.

  • Biologi

Pembelajaran biologi yang paling sesuai dengan pencegahan LGBT+ adalah dengan mengintegrasikan pada sistem reproduksi. Kenyataannya, kaum LGBT+ dibayang-bayangi oleh penyakit menular seksual seperti HIV-AIDS. AIDS merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus akibat sering berganti pasangan. AIDS dapat merusak sistem kekebalan imun tubuh sehingga dapat menyebabkan kematian. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun