Rintar Sipahutar
Rintar Sipahutar Guru

Rintar Sipahutar, S.Pd, Guru Matematika di SMP Negeri 1 Lingga Utara, Kepulauan Riau "Tidak mengkultuskan dan mendiskreditkan seseorang. Untuk Indonesia yang lebih baik, pilihlah pemimpin yang terbaik dari yang terbaik tanpa harus menjelek-jelekkan yang lain"

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Masih Perlukah Basa-basi dalam Berbicara dan Menulis?

9 Juni 2018   09:39 Diperbarui: 9 Juni 2018   23:39 2493 11 6
Masih Perlukah Basa-basi dalam Berbicara dan Menulis?
Ilustrasi (Pixabay)

Ketika kita menyimak kata sambutan dalam sebuah acara maka dapat dipastikan, bagian pembuka dan bagian penutup dari kata sambutan tersebut hanya berupa basa-basi yang selalu diulang-ulang pada hampir setiap kata sambutan. Sehingga pendengar pun sudah hafal kira-kira apa yang akan disampaikan oleh pemberi kata sambutan, di bagian awal dan akhir.

Di bagian awal biasanya berupa salam pembuka, ucapan terimakasih kepada Tuhan yang Maha Esa, ucapan selamat datang serta ungkapan rasa hormat dan terimakasih kepada para undangan, terutama kepada tamu teras dari pemerintahan, alim ulama, golongan borjuis dan tokoh masyarakat. Dan kemudian di bagian akhir tidak lupa memohon maaf jika ada salah-salah kata, lalu salam penutup.

Saking sudah terlalu hafal akan basa-basi tersebut, tak jarang pendengar mengabaikan bagian pembuka dan penutup dari sebuah kata sambutan, hanya menyimak bagian inti atau pokoknya saja. Karena itulah sesungguhnya isi dari kata sambutan itu, sedangkan bagian lainnya hanya sesuatu tidak terlalu penting tetapi tidak pula tak penting.

Demikian juga dalam hal menulis artikel atau buku. Di dalam sebuah artikel atau buku yang relatif panjang, contohnya seperti artikel yang sedang Anda baca sekarang ini, terdapat banyak basa-basi yang bisa dibilang tidak terlalu penting tetapi juga tidak boleh dibilang tak penting. Inti atau pokok dari tulisan itu sendiri tidak sepanjang yang ada dalam tulisan. Bahkan mungkin hanya sepertiganya saja.

Sehingga tak jarang juga pembaca setelah membaca judul, langsung "membaca cepat", paragraf demi paragraf untuk menemukan inti atau pokok dari tulisan dengan mengabaikan basa-basi yang telah dikarang dengan susah-payah oleh penulis dengan menyesuaikan kaidah penulisan ejaan yang disempurnakan, pemakaian tanda baca, diksi, dsb.

Jika demikian, masih perlukah basa-basi dalam berbicara dan menulis kalau pendengar atau pembaca lebih sering mengabaikannya?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut kita harus tahu dulu, apa sih definisi basa-basi itu sebenarnya, negatifkah atau positif atau hanya sebuah modus yang tak berguna?

(sumber: youthmanual.com)
(sumber: youthmanual.com)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), basa-basi adalah: adat sopan-santun; tata krama pergaulan; ungkapan yang hanya digunakan untuk sopan-santun dan tidak untuk menyampaikan informasi. Misalnya jika bertemu dengan seseorang kita bertanya: "Apa Kabar?" Atau berkata: "Senang bertemu Anda", "Semoga kamu sehat-sehat, sampai jumpa", dsb.

Dari definisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa basa-basi itu sebenarnya sangat perlu bagi manusia yang berbudaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai tata krama dan sopan-sanrun. Sekali pun sering "sudah basi" kata sebagian orang, tetapi sesungguhnya basa-basi itu perlu dipelihara dan dikembangkan dengan cara yang lebih kreatif sehingga tidak monoton tetapi menjadi lebih menarik.

Dalam kata sambutan, tanpa ada basa-basi pada bagian pembuka dan penutup maka akan terasa sangat hambar. Bayangkan jika seorang pemberi kata sambutan berkata: "Kita langsung ke pokok permasalahannya saja, bla.. bla... bla..., selesai". Terasa aneh, bukan?

Demikian juga halnya dalam menulis. Keindahan tulisan otomatis akan hilang begitu saja jika tanpa basa-basi. Tulisan merupakan salah satu bentuk karya sastra yang tidak boleh kehilangan unsur "su", baik estetika lango, estetika ekstatis, dan estetika lainnya. 

Semua estetika tersebut dikemas dan disajikan dalam bentuk basa-basi yang seharusnya menarik pendengar dan pembaca. Misalnya seperti seperti sampiran dalam pantun. Pantun akan kehilangan estetikanya tanpa sampiran. Sekalipun sebenarnya yang ingin disampaikan adalah pesan pada bagian isi.

Mengapa sebagian besar orang mulai gerah dengan basa-basi?

Kemungkinan pertama adalah seiring dengan perkembangan teknologi yang cepat dan tepat, efektif dan efisien, maka manusia ingin segala sesuatu serba cepat dan langsung ke pokok permasalahannya saja tanpa perlu basa-basi. Dalam hal ini manusia sudah berubah menjadi "robot bernyawa" yang dikendalikan oleh waktu dan kehilangan tata krama dan sopan-santun.

Kemungkinan kedua adalah manusia sudah muak dengan kemunafikan. Yaitu ketidaksesuaian antara kata-kata dan perbuatan seperti yang disampaikan lewat basa-basi dalam kata sambutan atau tulisan. Dan hal ini akan lebih buruk jika apersepsi kita terhadap seorang pembicara atau penulis sudah terlanjur negatif.

Tetapi apapun alasannya, saya mau mengatakan bahwa basa-basi itu sampai kapan pun sangat perlu bagi manusia yang berbudaya.

Salam

(RS)