Ekonomi

Menghadapi Era Disrupsi dalam Kepemimpinan dan Suatu Organisasi

12 Juli 2018   04:37 Diperbarui: 12 Juli 2018   04:51 1571 0 0

Perubahan pastinya akan terjadi dari waktu ke waktu. Karna hidup akan selalu berubah dan mengalami perkembangan sesuai dengan zamannya. Apabila dari waktu ke waktu tidak mengalami perubahan atau monoton mungkin tidak akan ada namanya disrupsi. 

Disrupsi ini pastinya memiliki dampak positif dan dampak negatif bagi kehidupan. Contohnya dengan media komunikasi, apabila di zaman dahulu untuk menyampaikan pesan kepada orang lain hanya bisa melalui surat, tetapi sekarang untuk menyampaikan pesan kepada orang lain bisa melalui e-mail ataupun media online chatting lainnya tanpa harus memakan waktu yang lama. 

Tetapi dengan adanya online chatting ini, orang-orang akan lebih senang berbicara tanpa bertatap muka daripada bertatap muka dan akan menyebabkan orang tersebut tidak dapat bersosialisasi dengan baik dalam kehidupan nyata. 

Padahal sosialisasi itu sangat penting untuk suatu individu untuk dapat hidup bermasyarakat. Pada gilirannya perlu disadari bahwa disrupsi peradaban akan terus terjadi dan ada pada setiap kurun waktu karena kreativitas dan inovasi manusia.

Lalu apa yang dimaksud dengan disrupsi? Dalam kamus besar bahasa Indonesia, disrupsi didefinisikan hal tercabut dari akarnya. Jika diartikan dalam kehidupan sehari-hari, disrupsi adalah sedang terjadi perubahan yang fundamental atau mendasar. 

Satu di antara yang membuat terjadi perubahan yang mendasar adalah evolusi teknologi yang menyasar sebuah celah kehidupan manusia. Digitalisasi adalah akibat dari evolusi teknologi (terutama informasi) yang mengubah hampir semua tatanan kehidupan, termasuk tatanan dalam berusaha.

Era disrupsi ini merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata, ke dunia maya. Fenomena ini berkembang pada perubahan pola dunia bisnis. 

Kemunculan transportasi daring adalah salah satu dampaknya yang paling populer di Indonesia. Kita harus bisa segera beradaptasi, dan mengenali bagaimana keadaan sekarang yang penuh perubahan. Tidak lagi sekedar berubah, melainkan langsung bergeser atau menggantikan yang sudah berdiri sebelumnya dalam waktu yang cepat.

ASPEK DISRUPSI KEPEMIMPINAN

Menurut DR. Yakob Tomatala, dapat dikatakan bahwa "disrupsi dalam kepemimpinan adalah mengubah atau menginovasi cara-cara kepemimpinan bekerja sesuai dengan perubahan dan perkembangan teknologi dan segala aspek peradaban yang dominan sehingga menjadi efektif, efisien dan sehat."

Diduga bahwa faktor-faktor yang harus disiapkan serta disikapi dengan benar dan baik dari perspektif kepemimpinan menyikapi "dinamika disrupsi" antara lain adalah:

Pertama, SDM Pemimpin dan komponen manusia dalam organisasi haruslah kompeten, peka dan bersikap terbuka, proaktif, kritis, kreatif, inovatif, intuitif dan inspiratif serta siaga. Komponen SDM Pemimpin dan manusia organisasi seperti ini harus memiliki kesadaran diri akan hakikat, sifat, sikap dan tindakan siaga berkesadaran atas diri serta situasi peradaban yang berubah pada Abad XXI.

Kesadaran diri seperti ini meneguhkan Pemimpin dan bawahan untuk menetapkan, menyikapi serta mematutkan diri mengadaptasi memanajemeni perubahan secara dinamis. Kesiagaan Pemimpin ini ditandai dengan keandalan menjawab tantangan perubahan mengelola dan mengimplentasi faktor disrupsi peradaban secara relevan pada semua lini.

Kedua, Menanggapi dan mengelola aspek disrupsi dari pengaruh aspek peradaban yang terus berkembang sebagai bagian dari inovasi teknologi. Pengelolaan aspek disrupsi peradaban ini menuntut penguasaan aspek disrupsi serta pemanfaatannya secara berkesinambungan.

Aspek disrupsi peradaban ini melibatkan faktor teknologi, komunikasi, sosial, kultural, ekonomi, perdagangan, politik, militer, pertahanan, pendidikan, ekologi, kependudukan, ketahanan hidup dan sebagainya yang saling mempengaruhi akibat dari perkembangan serta kemajuan temuan teknologi serta unsur lain yang terkait. Aspek disrupsi peradaban ini harus disikapi secara sadar serta siaga untuk menanggapi, mengisi mengatasi ketertinggalan agar tidak tersisih dalam perjalanan dan siarah sejarah.

Ketiga, Aspek disrupsi peradaban khususnya perkembangan inovasi teknologi kompleks dan ekstra canggih harus dikuasai, dikendalikan dan dimanajemeni serta dimanfaatkan secara tepat. Tindakan ini harus dilakukan secara antisipatif responsif guna menyikapi serta meresponi perubahan yang terteiger oleh kreativitas serta inovasi temuan yang terus berkembang pesat pada Abad XXI.

Keempat, Menyikapi aspek disrupsi dalam peradaban Abad XXI dengan pendekatan entrepreneurship. Pendekatan entrepreneurship ini menjelaskan tentang adanya "pemimpin dan kepemimpinan yang berorientasi kepada entrepreneurship dengan kemandirian tinggi" yang adaptif serta siaga.

Kepemimpinan dan Pemimpin Entrepreur dengan kemandirian tinggi seperti ini menegaskan tentang adanya Pemimpin dan komponen SDM bawahan yang visioner dengan visi besar yang dinamis ditopang keberanian tinggi, "berani berpikir, berani bersikap dan berani bertindak memakai cara khusus sehingga membawa hasil sukses yang signifikan serta optimal" menjawab tantangan kecepatan perubahan peradaban Abad XXI.

Kepemimpinan mandiri ini menegaskan tentang adanya sikap dan orientasi budaya kualitas unggul yang mampu menjembatani "produk organisasi dan dunia kerja serta konsumen" dengan manajemen yang terbuka, lugas dan berjejaring yang mengungguli persaingan.

Kelima, Mengelola aspek disrupsi dalam peradaban dari perspektif Kultural Sosial khusus dengan menghadirkan penanggapan perubahan dan tantangan yang besar. Di sini, aspek disrupsi dari peradaban terhadap faktor kultutal sosial ini memperihatkan adanya kecepatan perkembangan yang membawa perubahan signifikan dan dominan pada segala bidang serta lini kehidupan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2