Mohon tunggu...
Rinda Sandini
Rinda Sandini Mohon Tunggu... -

mom of two lovely kids | lifelong learner | good employee

Selanjutnya

Tutup

Money

Suryono: Perambah Hutan yang Menjadi Petani Peduli Lingkungan

9 November 2016   10:28 Diperbarui: 9 November 2016   10:39 223
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Memanen bayam tiap 16 hari sekali (sumber: detik.com)

Petani adalah ujung tombak dalam ketahanan pangan sebuah negara. Indonesia meski telah mulai menuju era industri, namun tak dapat mengingkari jatidirinya sebagai negeri agraris. Sayangnya, potret petani kita masih dipenuhi nuansa buram. Bahkan data menunjukkan jumlah petani nasional makin menurun. Namun bukan berarti tidak tersisa harapan. Masih banyak petani yang memilih setia di bidangnya, bahkan semakin memerhatikan kualitas dan kuantitas pekerjaannya.

Salah satunya adalah Suryono. Petani kelahiran Medan 40 tahun lalu ini kini telah menuai hasil jerih payahnya dengan menjadi petani hortikultura sukses di Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Riau. Akan tetapi kesuksesan itu tak didapatnya secara instan. Roma tak dibangun hanya dalam semalam, demikian pula kisah sukses Suryono.

Sebelum menekuni profesi sebagai petani, Suryono mengaku sempat mengarungi ‘masa kegelapan’. Ia pernah menjadi pembalak liar guna menyambung hidup. Suryono menuturkan bahwa ia dan sejumlah temannya secara diam-diam mendatangi hutan yang telah mengantongi HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yaitu izin resmi untuk memanfaatkan hasil hutan alam.

Area hutan dijaga oleh petugas keamanan, namun ia selalu berhasil mencari celah untuk masuk-keluar hutan tanpa terdeteksi petugas. Setelah itu, kayu yang ia tebang tanpa izin itu dijualnya ke beberapa pihak, termasuk ke perusahaan sekitar. Ada juga sebagian kecil kayu tersebut ia jual ke individu. Proses penjualan kayu ini tentu saja dilakukan secara sembunyi-sembunyi, 'underground'. Praktik ini dilakukan oleh Suryono lebih kurang selama satu tahun.

Ilustrasi Praktik Pembalakan Liar (sumber: dw.com)
Ilustrasi Praktik Pembalakan Liar (sumber: dw.com)
Kisah hidupnya sebagai petani dimulai ketika ia memutuskan untuk pindah ke Riau pada tahun 1999. Setahun berikutnya ia membeli sebidang tanah seluas 4 hektar untuk kemudian sekitar setengahnya ditanami pohon sawit. Kala itu, Suryono belum terpikir untuk bercocok tanam secara berkelanjutan, baru sebatas mencari keuntungan guna bertahan hidup semata.

Kebun sawit yang ia kelola mulai menghasilkan, untuk satu hektar sawit Suryono dapat meraup sekitar Rp 2-3 juta per bulan. Namun sebagaimana kita ketahui, perkebunan sawit bukanlah pola bercocok tanam yang berdampak ramah terhadap lingkungan. Dari mulai pembukaan lahannya yang lazim menggunakan metode tebang-bakar, hingga karakteristik sawit yang membutuhkan air serta menyerap unsur hara tanah dalam jumlah sangat banyak. Ini menjadikan lahan sawit tidak dapat ditanami secara terus menerus.

Lambat laun, Suryono menyadari bahwa praktik bercocok tanam yang dilakukannya tidak memenuhi unsur berkelanjutan. Selain itu, ia menghadapi masalah legalitas akan lahan gambut yang ia garap. Lahan tersebut, beserta lahan milik masyarakat lainnya mengalami sengketa dengan perusahaan pengelola Hutan Taman Industri (HTI) setempat. Meski pada akhirnya terdapat kesepakatan dengan perusahaan, ia berpikir keras bagaimana agar ke depan ia dapat melakukan praktik pertanian yang lebih produktif sekaligus dapat lebih berumur panjang.

Perkebunan sawit, rakus air dan merusak unsur hara dalam tanah (sumber: mongabay.co.id)
Perkebunan sawit, rakus air dan merusak unsur hara dalam tanah (sumber: mongabay.co.id)
Sejak itulah, Suryono mulai mencoba beralih ke tanaman hortikultura, mengingat lahan di sana tidak cocok ditanami padi-padian. Jenis varietas tanaman hortikultura yang ia tanam di antaranya sayuran bayam, kacang panjang, terong, timun, cabai, buah pepaya, melon, dan masih banyak lagi.

Awalnya ia dianggap gila dan dicibir oleh rekan-rekannya sesama petani. Bagaimana tidak, pada waktu itu belum ada seorang petani pun yang sukses dalam bercocok tanam sayuran di wilayahnya. Nyaris semua petani hanya mengelola sawit, sebagian lagi menanam karet. Selain lebih pasti hasilnya, memang belum pernah ada preseden bahwa petani lokal berhasil dalam menanam sayuran. Terdapat rumor yang terlanjur menyebar dan tertancap kuat di masyarakat bahwa tanah setempat tidak cocok untuk ditanami produk hortikultura.

Suryono berpendapat, rumor ini hanyalah kedok keengganan masyarakat dalam mencoba hal baru. Ia melihat yang sebetulnya terjadi adalah bahwa masyarakat takut mengambil risiko karena sudah terjebak zona nyaman dengan mengolah perkebunan sawit. Ada kecenderungan bahwa masyarakat tidak akan mencoba sesuatu hal baru sebelum melihat sendiri bahwa hal itu dapat berhasil dilakukan. Dengan kata lain, mereka membutuhkan contoh kesuksesan, baru mau mengikuti. Dengan modal kerja keras dan ketekunan, Suryono menjadi contoh pertama kesuksesan tersebut.

Memanen bayam tiap 16 hari sekali (sumber: detik.com)
Memanen bayam tiap 16 hari sekali (sumber: detik.com)
Kini Suryono bisa mendapatkan penghasilan Rp15 juta per bulan hanya dengan bercocok tanam sayuran dengan luas lahan 0,5 hektar. Ditambah dengan hasil buah-buahan berupa melon dan jambu, total ia mampu meraih sekitar Rp25 juta per bulan. Dari nilai rupiah tersebut, ia mengeluarkan Rp9 juta untuk membayar 4 orang pekerjanya, Rp5 juta untuk membeli pupuk. Sisanya bisa dibilang lebih dari cukup untuk menyejahterakan keluarganya, terutama menyekolahkan ketiga anaknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun