Mohon tunggu...
Rina Febriyanti
Rina Febriyanti Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Pengguna Sosial Media bagi Anak dan Remaja

22 Oktober 2021   22:31 Diperbarui: 22 Oktober 2021   22:38 64 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Pengaruh Penggunaan Sosial Media untuk Anak dan Remaja

Media sosial merupakan sebuah media daring yang dapat digunakan untuk berinteraksi, berpartisipasi, berbagi di dunia virtual oleh semua kalangan terutama anak-anak dan remaja. Sosial media dapat memungkinkan untuk siapa saja membagikan informasi dan mengakses tanpa harus bertemu dan bertatap muka terlebih dahulu. Di zaman serba canggih ini, anak-anak dan para remaja tidak tertinggal untuk mengakses sosial media. Banyak orang tua yang tidak memperhatikan anaknya dalam menggunakan smartphone. Padahal penggunaan media sosial sangat beresiko mengandung pornografi berupa video, foto, suara yang tidak ada proteksinya seperti Youtube dan Instagram yang dapat dilihat dengan mudah oleh anak di bawah umur dan para remaja.

Remaja sangat rentan mendapatkan pengaruh negatif dari media sosial  seperti pengaruh dari video pornografi yang dapat diakses oleh siapapun terutama para anak-anak dan remaja. Penggunaan media sosial yang tidak menggunakan syarat batas umur untuk anak di bawah umur 13 tahun mengakibatkan banyak pengaruh negatifnya. Pada usia tersebut merupakan fase bertumbuh dan berkembang baik dari segi pola pikir, perilaku, perkataan, dan sebagainya yang dikatakan labil dan rentan terhadap berbagai macam pengaruh salah satunya media sosial.  

Dalam teori perkembangan, Jean Piaget menjelaskan pada seorang anak yang berada di tahap perkembangan kognitif akan menggunakan proses asimilasi dan akomodasi untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Asimilasi adalah proses ketika seorang memasukan persepsi  atau pengalaman baru ke dalam pola pikir yang sudah ada dan akomodasi adalah penyesuain kognitif terhadap pemikiranyang berpola. Piaget juga menjelaskan anak usia 11-15 tahun mulai memasuki tahap formal operational period, yaitu ketika seorang anak sudah dapat berfikir abstrak dan konkret, salah satunya mulai memikirkan perasaan dengan lawan jenis.

Contoh dari dampak negatif media sosial adalah ketika anak-anak di bawah umur diperlihatkan dengan mudahnya konten pornografi dan gaya pacaran para public figure yang dengan vulgar mereka pamerkan melalui media sosial. Anak-anak dapat merubah persepsi mereka bahwa hal seperti itu wajar terjadi dan secara tidak sadar ketika mereka mulai mengenal perasaan dengan lawan jenis akan mencoba hal yang mereka lihat di media sosial karena dianggap wajar terjadi.

Media sosial mempunyai daya tarik untuk mengajak semua kalangan untuk ikut berpartisipasi dengan feedback secara terbuka bebas berkomentar, memposting, serta membagikan cerita hidupnya. Tidak dipungkiri jika sosial media dapat membuat perubahan yang besar bagi kehidupan seseorang. Seseorang dapat merasakan perubahan yang awalnya biasa saja menjadi luar biasa. Bagi kalangan remaja merasa gelisah jika sehari saja tidak membuka sosial media yang ia miliki karena bagi kalangan remaja media sosial merupakan bentuk hiburan serta alat untuk meluapkan rasa lelahnya dan berbagi rasa susah senangnya.

Di dalam media sosial mereka dapat membagikan foto-foto, curhatan hatinya, mengabadikan momen yang sangat penting dengan temannya dengan bebas tanpa adanya rasa khawatir dengan dampak negatif yang akan di perolehnya. Padahal di dalam sosial media sosial terdapat dampak negatif. Hal ini dikarenakan dalam internet khususnya media sosial sangat mudah memalsukan jati diri atau melakukan kejahatan. 

Padahal masa remaja masih banyak yang belum terbentuk jati dirinya jika mereka salah memilih dalam pergaulan karena belum tau jati dirinya itu akan menyebabkan salah dalam pergaulan yang berdampak negatif untuk dirinya dan teman sebayanya. Untuk itu sangat disarankan bagi para remaja lebih berhati-hati dalam bermedia sosial. Namun untuk zaman sekarang remaja lebih berlomba-lomba untuk terlihat terkenal atau keren yang sering disebut dengan sebutan hits agar lebih dikenal dikalangan remaja, dan yang tidak aktif dalam bermedia sosial akan dianggap ketinggalan zaman.

Penelitian Raharjo (dalam Putra & Patmaningrum, 2018) orang tua perlu meningkatkan pengawasan terhadap anaknya dan perlu mempeluas kemampuan literasi media agar bisa mengimbangi perkembangan teknologi dan membatasi anak dalam penggunaannya. Maka dari itu kita juga harus lebih bijak dalam menguggah hal-hal yang tidak perlu untuk di posting karena dampaknya sangat berpengaruh terhadap generasi bangsa.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa media sosial banyak mengandung sisi negatif dan dampak yang diperoleh para remaja dan anak-anak. Oleh sebab itu, sebagaimana kita sebagai remaja penerus bangsa harus dapat mengontrol diri dan membagi waktu kapan untuk belajar kapan untuk bermain media sosial. Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut antara lain :

Memperbanyak Sosialisasi di Kehidupan Nyata
Lebih Membatasi Penggunaan  Media Sosial
Menggunakan Secara Media Sosial  dengan Bijaksana
Cari Kegiatan Lain

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan