Mohon tunggu...
Rima Gravianty Baskoro
Rima Gravianty Baskoro Mohon Tunggu... Pengacara - Beyond tradition, beyond definition, beyond the images

PERADI Licensed Lawyer. ||. Associate of Chartered Institute of Arbitrators. ||. Vice Secretary General of PERADI Young Lawyers Committee. ||. Officer of International Affairs Division of PERADI National Board Commission. ||. Co-founder of Toma Maritime Center.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Perempuan Pesisir sebagai Tiang Ekonomi Lokal di Maluku

17 Januari 2022   10:03 Diperbarui: 18 Januari 2022   02:09 408 14 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi | Sumber: kompas.com/Yohanes Irawan

I. Kodrat, Kultur, dan Konflik Beban Ganda Perempuan Indonesia

Masyarakat Indonesia terbiasa hidup dalam kultur yang membuat bias gender dan misogini semakin mencuat bahkan menjadi hal yang biasa saja, seperti misalnya perempuan yang harus bisa memasak, mengurus rumah, dan mengurus anak.

Jika perempuan berprestasi baik namun tidak mahir di dapur atau merapihkan rumah, maka perempuan itu tetap tidak ada nilainya.

Padahal perihal domestik atau pengurusan rumah tangga, menurut Yenny Wahid (detiknews.com , 22 Desember 2019), bukanlah menjadi kodrat perempuan.

Kodrat perempuan berdasar pada konstruksi biologis, yaitu: perempuan bisa menstruasi, bisa hamil, bisa melahirkan, dan bisa menyusui.

Sedangkan pengurusan rumah tangga merupakan hak yang berdasarkan pada konstruksi sosial. Kodrat perempuan adalah hal yang tidak dapat digantikan posisinya oleh laki-laki. Namun pekerjaan rumah tangga idealnya menjadi tanggung jawab bersama antara laki-laki dan perempuan, sehingga tidak termasuk dalam kodrat perempuan.

Selain kodrat, posisi perempuan Indonesia juga ditentukan dalam konstruksi sosial melalui kultur. Pengalaman dan lingkungan seolah memposisikan perempuan tidak memiliki pilihan lain selain menjadi ibu rumah tangga. Adalah aib Ketika di usia 25 (dua puluh lima) tahun belum ada rencana pernikahan tersusun.

Ketika memasuki kehidupan rumah tangga, lingkungan memberikan keyakinan kepada para perempuan bahwa tidak ada pemberian terbaik dari seorang istri selain pengabdian sepenuhnya kepada suami, terlepas pelayanan itu benar atau salah. Ketika menjadi ibu, kultur mendoktrin bahwa tugas tunggal perempuan adalah membesarkan anak dan merawat anak, terlepas ada atau tidaknya peran suami.

Hal tersebut sebagaimana juga diungkapkan oleh Tedjakusuma, Berninghausen dan Kerstan dalam Abdullah (2001: 108) yang menulisan pilunya cita-cita perempuan sebagai berikut "ketika saya masih kecil, tertanam pendidikan dari orang tua yang menyebabkan anak-anak perempuan tidak terlalu berambisi menjadi wanita karier. Tidak ada pilihan bagi gadis-gadis selain menjadi istri untuk suami dan ibu bagi anak-anaknya kemudian.

Banyak keluarga yang mengejek anak perempuan menjadi juara kelas tapi tidak dapat menanak nasi. Keluarga yang mempunyai gadis sangat khawatir apabila anak-anaknya tidak mendapatkan jodoh. Rupanya prestasi tertinggi nilainya bagi seorang perempuan adalah apabila ia berhasil menikah dan mempunyai anak." Adanya bias gender yang dinormalisasi oleh kultur dan lingkungan tersebut memposisikan perempuan Indonesia seolah-olah kegiatan ekonomi bukan menjadi dunia perempuan.

Di dunia modern ini, struktur sosial dalam kultur yang memposisikan perempuan sedemikan rupa akhirnya membuat perempuan yang bekerja atau wanita karier menjadi terjebak dalam konflik beban ganda (double burden), yaitu beban domestik dan beban di ranah produktif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ekonomi Selengkapnya
Lihat Ekonomi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan