Mohon tunggu...
Riko Noviantoro Widiarso
Riko Noviantoro Widiarso Mohon Tunggu... Peneliti Kebijakan Publik

Pembaca buku dan gemar kegiatan luar ruang. Bergabung pada Institute for Development of Policy and Local Partnership (IDP-LP)

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Merangsang Kembali Pelajar Bersekolah Setelah Pandemi

1 April 2021   15:20 Diperbarui: 1 April 2021   15:29 86 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Merangsang Kembali Pelajar Bersekolah Setelah Pandemi
Kembali Bersekolah: Pemerintah menjadwalkan kembali bersekolah pada Juli 2021. (foto: Liputan6.com)

Semangat pemerintah kembali membuka sekolah sudah tak terbendung. Persiapan teknis untuk mengembalikan proses belajar tatap muka pun terus dilakukan. Bahkan simulasi proses belajar tatap muka dengan memenuhi protokol kesehatan juga mulai berlangsung.

Tidak cukup itu saja, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim pun rajin mengkampanyekan kembali bersekolah. Berulang kali menteri berusia muda ini hadir secara virtual bersama guru dan pelaku pendidikan untuk mendorong kesiapan kembali bersekolah.

Pemerintah daerah pun tak mau ketinggalan. Berulang kali para kepala daerah melakukan peninjauan kesiapan proses belajar tatap muka. Prosedur dan tahapan belajar tatap muka pun telah dipersiapkan skenario yang bertahap. Bahkan turut menggandeng orang tua.

Hasil Survey dan Demotivasi Pelajar

Di tengah perjuangan pemerintah mengembalikan pembelajaran tatap muka dengan mematuhi protokol kesehatan, ternyata punya ganjalan nyata. Yaitu penolakan orang tua dan murid untuk kembali bersekolah. Dengan alasan ancaman wabah yang masih belum mereda.

Tidak itu saja ratusan guru pun memberikan respon serupa. Menolak pembelajran tatap muka di tengah ancaman wabah. Bahkan mendorong pembelajaran daring tetap dilaksanakan hingga kondisi telah cukup meyakinkan normal.

Gambaran penolakan itu terlihat dari survey Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) yang dilansir Januari 2021. Dimana dalam survey itu terdapat 45,27 persen menolak tatap muka. Karena fasilitas perlindungan di sekolah yang minim, usia guru yang sudah sepuh dan sebagainya.

Sedangkan penolakan orang tua dan murid tergambar dalam survey yang sama. Dari survey itu mencatat masih tingginya kekhawatiran orang tua terkait kegiatan pembelajaran tatap muka. Mengingat masih terus bertambahkan angka terkonfirmasi positif Covid-19.

Data kuantitatif yang menggambarkan penolakan belajar tatap muka, juga semakin menguat dengan data kualitatifnya. Dimana hasrat pelajar untuk kembali bersekolah tampak mulai kendur. Karena sudah merasakan kenyamanan bersekolah tanpa tatap muka. Dengan segala 'tolerasi' yang diterima semua pihak.

Tidak hanya itu saja pembelajaraan tatap muka virtual telah membuat pelajar mudah mengatur dirinya sendiri. Berbeda dengan belajar tatap muka yang semua diatur sekolah. Bahkan pelajar pun bisa 'kreatif' berpakaian termasuk pula hal-hal lain yang tidak bisa didapatkan pada sekolah tatap muka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x