Mohon tunggu...
Riko Noviantoro Widiarso
Riko Noviantoro Widiarso Mohon Tunggu... Penulis - Peneliti Kebijakan Publik

Pembaca buku dan gemar kegiatan luar ruang. Bergabung pada Institute for Development of Policy and Local Partnership (IDP-LP)

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

"Brutalitas" Kedisplinan Pelajar di Era Belajar Virtual

29 Maret 2021   13:09 Diperbarui: 29 Maret 2021   13:13 393
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Belajar Daring: sejak pandemi belajar daring pun dilaksanakan. Dengan segala hambatan dan manfaatnya (foto: kompas)

Brutalitas bisa jadi istilah tepat untuk menggambarkan merosotnya etika pelajar di masa pandemi Covid-19 ini. Perilaku pelajar yang nyaris tidak ada lagi kontrol kuat sebagaimana layaknya seorang pelajar. Dengan melihat dari lunturnya kedisplinan pelajar, hilangnya ketaatan pada aturan dan rendahnya tata tertib belajar. Singkat cerita pelajar mulai kehilang adab.

Bisa saja kutipan kata brutalitas itu terasa berlebihan. Seakan menegasikan peran guru yang telah jungkir balik mengendalikan pembelajaran virtual. Bahkan bisa juga terkesan menuding pemeritnah mengabaikan tujuan pendidikan sebagaimana amanat UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Apapun itu faktanya memang tidak bisa dipungkiri, bahwa kedisiplinan pelajar merosot, ketaatan pada aturan belajar menghilang, tutur kata yang kurang pantas hingga pelajar senang mengelabui. Rentetan fakta yang senafas dengan kata brutalitas.

Pilihan kata brutalitas juga digunakan mantan ketua KPK, Bambang Wijayanto saat menjadi pembela kubu AHY dalam sengketa kepemimpinan Partai Demokrat. Dengan alasan kekesalannya melihat perilaku yang tanpa adab terjadi pada kader-kader Partai Demokrat. Secara sewenang-wenang dalam pandangannya mengangkangi proses demokrasi pemilihan ketua umum partai.

Kebobrokan yang Sistimatis dan Masif

Pembelajaran virtual telah berjalan setahun. Mulai pelajar TK, sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi memanfaatkan teknologi virtual untuk proses belajar-mengajar. Pastinya perubahan luar biasa tak terelakan terjadi. Bagi bagi kalangan guru-dosen hingga pelajar dan mahasiswa. Tak terkecuali orang tua.

Banyak catatan selama pembelajaran daring bisa kita petik. Sebagai bahan evaluasi bersama untuk kebaikan dikemudian hari.  Agar memudahkan memahami kondisi pembelajaran virtual coba dibagi dalam tiga fase berdasarkan tantangannya.

Pertama; fase adaptasi. Dimana semua ekosistem pembelajaran perlu penyesuaian. Mulai dari materi pembelajaran, tata cara pembelajaran, partisipasi pelajar dan mahasiswa hingga pengukuran capaian. Semua mengalami adaptasi.

Pada tahap ini terasa gagapnya semua pihak, karena hambatan eksternal dan internal. Baik infrasturktur yang belum memadai maupun literasi teknologi yang masih rendah. Akibatnya berbagai keluhan dan kritikan pun datang bagai hujan di bulan November. Deras dan tanpa henti.

Kedua; fase penerimaan. Dimana semua ekosistem pembelajaran dipaksa menerima berbagai hambatan yang terjadi selama pembelajaran dari. Mencoba memahami hambatan yang terjadi pada setiap subyek proses pembelajaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun