Rijo Tobing
Rijo Tobing

Penulis buku kumpulan cerpen "Randomness Inside My Head" (2016) dan novel "Bond" (2018) dalam bahasa Inggris. Buku dapat diperoleh di Gramedia, Periplus, dan Kinokuniya. rijotobing.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Wanita Artikel Utama

Perempuan dan Masalah Ukuran Badan

10 Desember 2017   12:14 Diperbarui: 10 Desember 2017   14:48 2205 4 1
Perempuan dan Masalah Ukuran Badan
Ilustrasi. WomenTalk

Dalam satu minggu ini (hari Rabu pekan lalu ke Rabu pekan ini) ada 3 orang yang mempertanyakan ukuran badan saya.

Kejadian 1

Hari Rabu pekan lalu saya makan siang dengan teman-teman Taekwondo di sebuah restoran Korea. Seperti kebanyakan restoran Korea, restoran ini memakai panggung kayu untuk alas duduk dan ada lubang di bawah meja supaya kaki pelanggan bisa menjuntai dengan nyaman. Saya datang terlambat dan duduk di ujung sekali di sebelah senior yang sudah 2 bulanan tidak ketemu. 

Hari itu saya pakai dress katun dengan motif garis horizontal berwarna biru-putih, dan karena tempatnya yang sempit saya sempat membuat suara gaduh waktu mengambil tempat duduk (seperti suara barang jatuh di papan kayu, padahal itu suara badan saya yang dihempaskan, hehehe). Setelah saya duduk, senior saya itu mengamati saya sambil mengernyitkan dahi dalam-dalam (mungkin sedang mencari kosa kata Bahasa Indonesia yang pas) terus bertanya:

Senior : Rijo-ya.

Saya     : Ya, Onni?

Senior : Sekarang gendut?

Saya     : (muka merah menahan malu karena guru Taekwondo kami duduk persis di seberang saya dan beliau ikut ketawa) Iya. (menjawab dengan lirih)

Senior : Kenapa?

Saya     : (bingung mau menjawab apa)

Kejadian 2

Hari Minggu saya dan anak pertama jalan-jalan di sekitar kompleks pakai baju yang ada di awal post ini. Waktu melewati rumah tetangga, saya dipanggil sama yang punya rumah.

Budhe   : Mama Jo

Saya        : Iya, Budhe?

Budhe   : Lagi hamil anak ke-3?

Saya       : (muka shockeddan kepala cepat-cepat menggeleng) Engga, Budhe.

Budhe   : Oh, kirain.

Kejadian 3

Kemarin saya ketemu teman setelah mengantar anak ke sekolah dengan berpakaian celana panjang hitam dan kaos warna abu-abu muda. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, teman saya itu nanya: Jo, gendutan ya?

Saya      : Iya. (menjawab dengan lirih lagi).

Teman  : Kenapa?

Saya      : (mulai memberi penjelasan panjang-lebar)

Kenapa saya sekarang gendut banget?

Jadi begini, di awal tahun 2016 berat badan saya pernah mencapai 73 kg (sama seperti berat badan waktu melahirkan anak ke-2 tahun 2013), di mana saya merasa unhealthy, unfit, and unhappy. Di bulan Maret tahun yang sama, saya sakit sampai diopname dan pemulihannya agak lama. Mulai bulan April saya bertekad untuk memperbaiki pola makan dan mulai berolahraga. Dimulai dengan ikut balet 2x seminggu @1 jam, berat badan saya turun 5 kg dalam waktu 1.5 bulan. Bulan Agustus 2016 saya mulai ikut latihan Taekwondo dari basic banget.

dok. pribadi
dok. pribadi

Latihan di dojang 3x seminggu @1 jam sukses menurunkan lagi berat badan sebesar 5 kg, jadi pada bulan September 2016 berat badan saya jadi 63 kg. Setelah itu berat badan tidak bisa lagi turun karena lemak sudah berganti menjadi otot. Badan saya jadi lebih padat dan lebih sehat, dan nafsu makan juga lebih terkontrol karena sayang kan kalau hasil olahraga dinihilkan oleh 2 piring nasi setiap makan malam, haha.

Nah, pada bulan Desember 2016 anak-anak libur sekolah hampir 5 minggu dan cukup sulit membawa mereka ke dojang untuk menemani saya latihan Taekwondo. Masalah pertama adalah bangun pagi. Selama libur, anak-anak bangun lebih dari jam 8, padahal latihan dimulai pukul 7.55 pagi. 

Masalah kedua adalah memberikan kegiatan yang bisa menjaga mood mereka selama 1 jam saya latihan. Nah masalah kedua ini yang lebih sering terjadi. Saya pernah bawakan Ipad untuk mereka main game, tapi ujung-ujungnya berantem. Lagi asyik tendang-tendang sama sparring partner, eh saya harus ke bagian belakang dojang untuk melerai anak-anak. 

Pernah saya ga bawakan Ipad dan saya biarkan anak-anak main-main dengan bola gym dan cone-cone kecil. Kayaknya cuma bertahan 30 menit dan setelah itu mereka berantem lagi memperebutkan entah apa. Akhirnya di bulan Desember 2016, Maret 2017, dan Juni 2017, pokoknya setiap kali anak-anak libur sekolah, saya jadi jarang latihan Taekwondo karena 2 concern di atas. 

Waktu berat badan saya turun drastis, adik saya sudah memperingatkan: sebaiknya menguruskan badan dulu sebelum membentuk otot. Karena saya langsung membentuk otot, maka waktu saya tidak olahraga tempat si otot dalam badan saya diganti dengan lemak dan badan jadi menggelambir. Hiks-hiks.

Mulai bulan Juli tahun ini anak saya yang ke-2 sekolah siang (mulai jam 10 atau jam 11.30 setiap harinya). Selama sebulan pertama waktu anak saya menyesuaikan lagi jam tidur dan jam aktivitasnya setelah libur sekolah 6 minggu, saya tidak Taekwondo sama sekali (oya saya berhenti balet di bulan Januari 2017 karena jadwal les yang tidak cocok). 

Saya mulai latihan lagi bulan Agustus dengan mengandalkan suami yang membangunkan dan mengantar anak ke-2 ke dojang sekitar pukul 8.30 sambil suami berangkat ke kantor, supaya saya bisa latihan dengan cukup tenang selama sekitar 30 menit. Masalahnya, suami saya sering traveling, jadi kerja sama seperti ini sesekali saja bisa terjadi. 

Saya sudah minta ijin guru untuk membawa anak dan beliau mengijinkan asalkan anak bisa tenang. Kalau soal ini saya harap-harap cemas deh. Sekalipun dibawakan Ipad, kalau anak lagi tidak mau main gadget, dia akan ikut latihan sama saya. Agak bahaya kalau lagi sparring pakai mitt, dia tiba-tiba melintas atau memeluk badan saya sehingga dia bisa kena tendang (yang pastinya sakit banget).

mit taekwondo (elong.com.my)
mit taekwondo (elong.com.my)

Mitt Taekwondo

Panjang banget ya penjelasan kenapa saya sekarang gendut banget? Padahal intinya adalah berkurangnya waktu untuk latihan Taekwondo karena anak ke-2 yang sekolah siang. Saya berusaha mengencangkan lagi otot dengan sesekali berenang, tapi memang latihan Taekwondo secara rutin memberikan efek yang jauh lebih cepat.

Saya sebenarnya tidak terlalu punya kesadaran tentang berat dan bentuk badan, walaupun saya termasuk makhluk perempuan yang sangat sensitif dengan hal ini. Kata orang, komentar yang paling disukai perempuan adalah pertanyaan 'Sekarang kurusan ya?'dan komentar yang paling dibenci perempuan adalah pertanyaan 'Sekarang gemukan ya?'. Padahal ukuran gemukan/kurusan itu baru ada kalau ada pembandingnya, entah berat dan bentuk badan di masa lalu, atau berat dan bentuk badan orang lain.

Karena saya tidak suka ditanya-tanya soal berat/bentuk badan, saya usahakan juga untuk tidak menanyakan hal ini ke orang lain, apalagi orang yang saya tidak begitu kenal. Tapi kalau ada yang bertanya apakah saya kurusan/gemukan, selama ini saya kurang-lebih bisa memberitahu alasan kenapa hal itu terjadi karena ada kesadaran yang lebih terhadap kesehatan saya sejak tahun lalu.

Untuk menyesuaikan dengan kemampuan metabolisme tubuh dan pencernaan yang menurun seiring dengan pertambahan usia, sudah 10 hari ini saya tidak makan nasi di malam hari. Awalnya berat sekali dan bawaannya lapar melulu, tapi saya sadar kalau harus ada pengurangan asupan makanan untuk mengimbangi jatah olahraga yang berkurang. 

Sepuluh hari sudah berjalan dengan baik dimana makan malam diisi dengan sayur, buah, dan lauk protein saja. Walhasil badan terasa lebih ringan dan perasaan saya setiap bangun pagi lebih baik, dalam artian tidak kelaparan. Kata teman saya, kalau kita makan banyak pada malam hari, lambung dan usus akan bekerja keras di saat seharusnya mereka beristirahat waktu kita tidur, akibatnya pagi hari biasanya kita akan merasa sangat lapar. 

Apakah teori itu benar? Hmm, ga tahu ya, yang jelas karena malam saya tidak makan nasi, secara tidak sadar saya jadi mengurangi juga porsi nasi untuk makan siang (dan sesekali untuk makan pagi). Kita lihat saja nanti bagaimana hasil diet ini setelah beberapa bulan.

Jadi untuk teman-teman perempuan semua, jangan khawatir dengan berat dan bentuk badan Anda. Body Mass Index (BMI)lebih penting dari berat badan yang kita lihat di timbangan (silakan Google untuk cara menghitungnya ya), dan bentuk badan tidak selalu harus seperti model di majalah yang kita baca (bentuk badan di media massa bisa di-photoshop dengan mudah sekali). Yang penting adalah menjaga kesehatan dengan:

  1. Menyadari asupan gizi dari makanan kita.
  2. Berolahraga cukup dan teratur. Sesuaikan beban latihan dengan limit kekuatan fisik kita dan ga usah lakukan olahraga hardcorekalau badan tidak sanggup (misal: maksain lari padahal punya masalah dengan pergelangan kaki).
  3. Beristirahat dengan cukup untuk menjaga badan tetap fit (saya masih gagal di sini karena setiap hari bergadang untuk nulis, sehingga sudah tiga minggu terakhir saya batuk-pilek bergantian, hehe),
  4. Kelola stres. Bukan hindari stres, karena emosi, negatif maupun positif, harus diterima, dirangkul, dan dimanfaatkan untuk menjadi hal yang baik. Kelola stres yang kita hadapi akibat masalah entah di rumah/pekerjaan/pergaulan/dll. untuk membuat diri kita lebih tahan banting terhadap tekanan dalam kehidupan.

Oya, satu hal lagi. Warna dan motif pakaian yang kita pakai sangat menentukan apakah kita terlihat kurusan atau gemukan, sebagai contoh: pakaian berwarna gelap (hitam, abu-abu tua, biru donker) dan motif garis vertikal memberi ilusi badan yang lebih kurus dari sebenarnya. Jadi coba perhatikan baju yang kita pakai terutama saat kita hendak berpakaian untuk membuat orang lain terkesan. Buat saya sendiri, saya ga akan pernah lagi pakai dress biru-putih bermotif garis horizontal itu ke acara makan siang dengan teman-teman Taekwondo!