Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Musim Dingin di Alice Spring

21 Oktober 2019   15:11 Diperbarui: 21 Oktober 2019   15:14 0 7 5 Mohon Tunggu...
Musim Dingin di Alice Spring
sumber ilustrasi: pixabay

Di pengujung Agustus, Alice Spring menggigil. Robert Tomahong  masih mengenakan jaket tebal . Pukul dua belas tepat. Matahari pelit membagi kehangatan. Apakah tak ada cahaya hari ini selain nyala di perapian? Salju menutup kota. Nyaris tak ada manusia di luar sana, kecuali petugas bermobil yang berusaha menghalau salju dari jalan.

Tepat satu meter di belakang Robert, seorang suku Arrernte terbaring membisu dengan bibir biru. Beberapa jam lalu dia berhasil menembus salju lebat. Menggedor pintu apartemen, lalu pingsan . Robert memperkirakan lelaki itu terkena hipotermia.

Bagaimana ini? Dia bermaksud menghubungi Steve. Tapi kondisi jaringan telekomunikasi sedang kacau. Dia teringat salah seorang keponakannya pernah dihajar suku Arrernte. Wajahnya babak belur sehingga sulit dikenali. Apakah dia akan bernasib sama? Dalam bayangannya, mereka itu selalu ganas. Minus tatakrama.

Robert menyesal kenapa tak jauh-jauh hari pulang ke Jakarta, sementara sudah dua minggu kota ini mati kutu. Apartemen yang rata-rata dihuni dosen lepas, nyaris kosong melompong. Barangkali sekarang mereka sedang menikmati hangatnya cahaya matahari di negaranya masing-masing.

Robert akan pulang ke Jakarta dengan menumpang pesawat terakhir, kendati tak yakin akan ada penerbangan hari ini. Semoga saja besok dia sudah tiba di rumah sakit, mengawal putrinya yang akan melahirkan cucu pertama. Tapi  begaimana dengan lelaki Arrernte yang sedang pingsan di kamar apartemennya?

Bisa saja dia menyeret lelaki itu keluar sana, dan yakin penerbangannya berakhir sukses. Apakah jiwanya dapat tenang? Bayang-bayang seorang lelaki yang mati karena dilahap salju, tentu akan mengiringi sisa umurnya. Dia seorang pembunuh kejam. Atau, sanggupkah dia menyeret lelaki  yang tubuhnya hampir dua kali lebih besar dari ukuran tubuhnya itu? Tadi saja hampir setengah jam dia menyeret lelaki itu dari ambang pintu menuju kamar.

Mendadak dia mendengar seperti ada suara ketukan di pintu. Setelah menghabiskan minuman jahe, dia mengarah ke pintu. Tak ada sesiapa di luar. Mungkin pendengarannya terganggu. Sesuatu yang  berbulu melewati kakinya. Ternyata  Catty, Kucing Anggora milik tetangga sebelah. Kasihan dia, tuannya sudah terbang entah ke mana. Pasti dia lapar.

Robert mengeluarkan sebatang coklat dari dalam lemari. Dia tak yakin kucing itu mau memakannya. Namun siapa yang mau menolak makanan di hari yang amat dingin ini? Catty melahapnya dengan rakus.

"Syukurlah kau selamat, Catty. Lima hari lalu kau dicari-cari tuanmu. Dia hampir membatalkan pulang ke negaranya karena tak bersama kamu." Robert menggeleng. "Bagaimana mungkin dia bisa menunda. Tiket telah menenentukan jadwal keberangkatan."

Kucing itu melompat ke pangkuan Robert. Dia mendengkur kesenangan, apalagi Robert mengelus dagunya. Entah karena otaknya dibekukan salju, sang dosen itu mengeluhkan apa yang dialaminya kepada Catty. Mulai dengan rencana dia berangkat ke hari ini dengan pesawat terakhir, tapi minus tiket. Juga dengan suku Arrernte, yang menggagalkan niatnya pulang ke Jakarta.

"Kau tahu, besok aku harus tiba di rumah sakit? Putriku akan melahirkan." Kucing itu mengeong. "Sial! Kenapa aku berbicara dengan seekot kucing? Apakah ini tanda-tanda hipotermia?" Dia menggendong Catty, meletakkannya di atas sofa. Sebentar dilihatnya suasana di luar. Penuh salju. Angin seperti berpusing. Tadi pagi dia mendengar berita di radio akan ada badai senja ini. Seluruh penduduk diharapkan tetap tinggal di rumah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x