Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Percintaanku Dikacau Pihak Ketiga

18 Juli 2019   14:05 Diperbarui: 18 Juli 2019   14:22 0 4 4 Mohon Tunggu...
Percintaanku Dikacau Pihak Ketiga
sumber ilustrasi : pixabay

Ada rasa sakit menusuk hati ini manakala mengingat kisah cintaku bersama Lina (nama samaran) selalu diterjang prahara karena pihak ketiga. Aku pertama kali bersua dia di suatu kegiatan kumpul-kumpul selepas lebaran di kampus A. Saat itu dia bersama Rita (nama samaran teman sefakultasku). Mereka sepupuan. Rita sama sepertiku, mengambil jurusan teknik, sementara Lina jurusan ekonomi.

Pertemuan singkat, namun membuat bekas yang dalam di hati. Bagaimana tidak. Lina yang kala itu kelihatan malu-malu, selalu curi-curi pandang ke arahku. Siapa yang tak klepek-klepek diperlakukan demikian? Apalagi oleh perempuan seperti dia. Hingga sepulang acara kumpul-kumpul itu, aku menjadi penyair karbitan, yang menuliskan seluruh keindahan kembang di taman hatiku, pada sebuah diary.

Inikah yang dinamakan cinta sungguhan? Padahal setamat SMP, aku sudah empat-lima kali mengenal perempuan dan memacari mereka. Hanya saja, meski berbilang bulan atau tahun kami menjalin hubungan, aku merasa datar-datar saja. Tak sampai ada kerinduan menyengat. Tak sampai ada yang membuatku begitu puitis dan terpaksa mendekam di kamar. Ah, sungguh membuat blingsatan, sekaligus mengakibatkan rasa kegirangan di hati ini. Aku tak menyangka kalau cinta sejati itu bisa membuat orang setengah senewen.

Aku mencoba mengutarakan perasaanku kepada Rita. Karena bagaimana pun, dia adalah sepupu Lina. Dia pasti mau membocorkan perasaan ini kepada sepupunya. Aku berharap cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Aku ingin hubunganku dengan Lina langgeng sampai ke pelaminan. Karena jujur, aku yakin tak bisa lagi berpaling darinya.

Tapi apa yang kudengar dari mulut Rita hanyalah sembilu yang menyalib hati. Dia menyuruhku mengurungkan niat mendekati Lina. Katanya, telah banyak lelaki yang mencoba menaklukkan hati Lina, sayang selalu kandas. Terkadang karena Lina memang tak mencintai mereka. Terkadang Lina mencintai salah seorang di antaranya, tapi berasal dari keluarga kurang berada sepertiku. Akibatnya, orangtua Lina menolak. Bagi mereka menyerahkan Lina ke lelaki kurang berada, sama saja menjerumuskannya ke mulut buaya.

"Jadi, urungkanlah niatmu, kawan!" kata Rita membalas curahan hatiku kala itu. Begitu pun aku tak putus asa. Aku kemudian menitipkan surat untuk Lina kepada Rita. Kutunggu-tunggu hasilnya. Sayang sekali, tetap saja seperti sebelumnya; mengecewakan. Sementara hatiku semakin tak nyaman. Persoalannya, aku hampir diwisuda, demikian pula dengan Rita dan Lina. Kalau saja tak cepat-cepat mendekati perempuan yang memikat hatiku itu, tentu aku harus siap-siap menelan pil kekecewaan. Aku harus melepaskan burung merpati yang tak dapat kujerat. Mungkin Lina akan hengkang dari kota ini demi mencari kehidupan di kota lain. Sama sepertiku akan terbang ke kota Bj, setelah jauh-jauh hari Om Gun (nama samaran) memintaku bekerja di perusahaannya setelah aku menggenggam ijazah sarjana.

Kucoba menanyakan alamat rumah Lina kepada Rita. Tapi Rita ogah, karena takut aku akan kecewa. Kutanyakan nomor telepon selular perempuan pemikat itu, Rita juga tak mau. Dia tak ingin Lina mencapnya lancang sebab memberikan nomor teleponnya ke orang lain tanpa izin. Itulah yang membuatku heran, sehingga mengadukan keluh-kesahku kepada Arman (nama samaran teman sefakultasku), tentang keinginanku memacari sepupu Rita. Lalu mengeluhkan sikap Rita yang tak koperatif.

Jawaban darinya, pun membuatku terhenyak. Kiranya Rita sudah sejak jauh-jauh hari memendam rasa cinta kepadaku. Mungkin karena itulah dia tak mau kujadikan Mak Comblang demi menggaet hati Lina. Tebakanku, pastilah surat-surat yang kukirimkan untuk Lina melalui dia, tak disampaikan, selain tersampir di tong sampah.

Dari situlah aku bertekad melaju mendekati betinaku seperti seorang pejantan sejati. Aku tak perlu takut apakah perempuan itu menerima cintaku atau tidak. Hidup butuh perjuangan, apalagi demi sebuah cinta sejati. Andaikan aku kalah, yang artinya cinta ini bertepuk sebelah tangan, toh aku tak perlu berkecil hati. Dalam setiap perjuangan selalu ada yang kalah dan tetap ada yang menang. Dan pilihanku adalah menang.

Niatku untuk bertemu empat mata dengannya, pun terealisasi. Kebetulan suatu senja aku berjalan sendirian di sebuah mall. Kebetulan pula Lina berbuat serupa. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kami saling melempar senyum, dan bersikap seperti saling lupa-lupa ingat. Padahal pertemuan pada kegiatan kumpul-kumpul selepas lebaran itu, tetap membekas di hatiku. Entah di dalam hatinya demikian juga, aku tak tahu. Yang pasti kami mulai akrab sejak itu. Kami mulai sering bertemu di kampus atau di tempat-tempat indah melepas penat. Sedangkan niatku bertandang ke rumahnya setiap Sabtu malam, tetap mendapat penolakan halus, meskipun aku berterusterang sangat mencintainya. Lina takut orangtuanya tak merestui hubungan kami, seperti yang pernah terjadi pada masa lalunya.

Tapi alangkah tak lucunya berpacaran dengan seorang perempuan, sementara aku tak pernah bersua kedua orangtuanya. Kapan aku bisa menikahinya? Menginjak rumahnya aku tak pernah. Maka, di suatu Minggu aku nekad berkunjung ke rumah Lina. Kebetulan hari itu dia sedang pergi berbelanja ke mall menemani mamanya. Di rumahnya hanya ada lelaki yang mengaku sebagai papa Lina, juga seorang pembantu yang menghidangkanku secangkir teh hangat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2