Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Para Pemburu

16 Juni 2019   22:26 Diperbarui: 17 Juni 2019   14:33 0 2 0 Mohon Tunggu...
Para Pemburu
sumber ilustrasi :pixabay

Dingin malam ini turun di jendela. Terdengar lolong anjing di ujung desa. Tidak ada niatku menghidupkan laptop. Tengkukku entah kenapa merinding. Aku merasa ada kepala yang menyembul di jendela. Tangan berkuku panjang melambai-lambai. Keringat dingin menjalar di leher. Gugup, cepat kututup jendela.

Tenaga yang kuat memaksaku menghidupkan labtop. Aku tak mau menuliskan apa-apa. Di tengah kebingungan, sebentuk tangan keluar dari layar laptop. Apakah aku bermimpi?

Aku mengucek mata. Tangan itu malahan menjangkau leherku. Ada amis darah. Aku hampir berteriak saat wajah mengerikan muncul dari layar laptop. Dia menyeringai. Terkikik-kikik. Aku ingin berteriak. Tapi, aku tersedot ke dalam layar laptop. Mendadak aku sedang duduk melingkari meja bersama lima orang lelaki.

Asap rokok menghalimun. Aku melihat lelaki bersarung di dekatku ketakutan. Jenggot dan jambangnya seakan turut bergetar. 

"Datuk, kita harus berhasil menangkap leak meresahkan ltu." Lelaki ubanan di seberangku terlihat serius.

Aku terbayang sebentuk kepala, jantung, dan usus yang terburai, melayang di atas pohon. Menyeringai dan mendesis. Aku mengepalkan tangan. Leak meresahkan itu harus dibunuh.

"Sekarang dia baru membunuh sapi dan kambing. Besok-besok dia akan menghisap leher warga." Lelaki bersarung itu meraba lehernya. "Leak itu si Anton. Dia sepertinya dendam karena pinangannya terhadap putri datuk ditolak." Aku menggebrak meja kesal.

Terdeng suara ribut-ribut meneriakkan leak. Aku bergegas keluar. Sejumlah warga menerabas masuk.

"Kita tak boleh bersembunyi terus. Kita harus melawan." Aku mengejar kepala yang melayang-layang menuju hutan. Lariku bertambah cepat. "Leak, behenti! Aku akan menangkapmu," teriakku. Leak hinggap di dahan pohon beringin. Tawanya bergetar ke seantero hutan. Burumg malam ketakutan. Terbang.keluar meninggalkan sarang.

"Keluarkan seluruh kekuatanmu, Datuk." Aku berteriak. Lebih mirip raungan. Tiba-tiba jariku menjadi cakar. Bulu-bulu di tubuhku tumbuh cepat. Aku mengaum

"Aku tak takut meskipun kau siluman harimau, Datuk. Kami akan membunuhmu. Kepala yang beterbangan mengitariku semakin banyak. Seorang leak menakutkan, menempel di leherku. Aku mengaum antara takut dan marah. Sebuah goncangan  di bahu, membuatku tersentak. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2